Kenaikan Suku Bunga The Fed Dinilai Tidak Akan Ganggu Rupiah

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Gedung The Fed di kota Washington DC.  (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Gedung The Fed di kota Washington DC. (Foto: Wikimedia Commons)

Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed diprediksi akan kembali menaikkan suku bunga acuan pada bulan ini. Kenaikan suku bunga tersebut dikhawatirkan akan mengganggu aliran dana asing ke emerging market karena likuiditas akan semakin ketat.

Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai kenaikan tersebut tidak akan mempengaruhi aliran modal masuk ke Indonesia yang bisa mengganggu stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Meskipun FFR (Fed Fund Rate) naik, tidak akan mempengaruhi ke outflow dan volatilitas pada rupiah," kata Andry dalam paparan makro ekonomi di Plaza Mandiri, Jakarta, Selasa (30/5).

Baca juga: BI Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Andry menilai kenaikan suku bunga acuan The Fed tersebut tidak akan mempengaruhi aliran modal keluar atau capital outflow dari Indonesia. Menurut dia, pasar berekspektasi suku bunga The Fed akan kembali naik pada Juni 2017. Adapun tingkat suku bunga The Fed saat ini sebesar 0,75 persen.

"Risikonya kecil untuk aliran modal keluar, karena interest rate kita lebih rendah dibandingkan rata-rata, sekarang nominalnya di 4,8 persen," katanya.

Dia memprediksi rupiah tidak akan bergerak terlalu fluktuatif tahun ini, karena dari fundamental juga cukup kuat. "Rupiah tahun ini tidak akan melemah sampai menyentuh Rp 14.000 per dolar AS," imbuhnya.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan di pasar spot hari ini ditutup melemah 3 poin atau 0,02 persen ke level Rp 13.323 per dolar AS setelah diperdagangkan pada kisaran Rp 13.309 - Rp 13.342 per dolar AS. Adapun pada perdagangan Senin, (29/5) rupiah ditutup melemah 0,26 persen atau 20 poin di level Rp 13.320 per dolar AS.