Mari Elka Ungkap RI Kalah dari Vietnam dalam Menarik Investasi

Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan dalam menarik investasi jika dibandingkan dengan Vietnam. Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) sekaligus mantan Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu, menilai salah satu pembelajaran dari Vietnam adalah kemampuannya menarik perusahaan besar sebagai investor utama sekaligus membangun rantai pasok di dalam negeri.
Menurut Mari, Indonesia memiliki kondisi yang berbeda dengan Vietnam, terutama dari sisi kompleksitas demokrasi dan koordinasi kebijakan. Karena itu, strategi yang diterapkan tidak bisa sepenuhnya disamakan.
Namun, ia menilai Indonesia tetap dapat mengambil pelajaran dari cara Vietnam membangun ekosistem investasi. Salah satunya dengan menentukan sektor prioritas dan memastikan ada pihak yang bertanggung jawab untuk mengawal investasi tersebut.
Mari mencontohkan Vietnam yang berhasil menarik perusahaan besar seperti Samsung dan LG. Kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut kemudian menjadi pintu masuk bagi investasi lain karena membutuhkan pemasok dan membentuk rantai pasok di sekitar industrinya.
“Vietnam berhasil menarik Samsung, LG, sebagai anchor tenant, kemudian supplier-suppliernya ikut masuk, sehingga terbentuk supply chain,” kata Mari dalam acara Navigating The Economy Across Generations, Selasa (29/9).
Menurut dia, pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu pembelajaran bagi Indonesia untuk memperkuat daya tarik investasi. Pemerintah perlu lebih fokus menentukan sektor yang ingin dikembangkan, kemudian memastikan berbagai kebutuhan investasi dapat difasilitasi.
Mari juga menilai pemerintah perlu memiliki pihak yang berperan sebagai penggerak atau government champion untuk sektor-sektor prioritas. Dengan begitu, koordinasi berbagai kebijakan yang berkaitan dengan investasi dapat dilakukan secara lebih terarah.
Ia mengatakan Indonesia tidak harus mengkoordinasikan seluruh sektor secara bersamaan. Pemerintah dapat memilih bidang yang dianggap strategis dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
“Jadi kita tidak bisa semuanya dikoordinasikan, tapi kita pilih yang memang prioritas, sektor yang memang kita mau, dan ada government champion-nya,” ujarnya.
Selain fokus pada sektor prioritas, Mari menyoroti pentingnya kawasan ekonomi khusus sebagai instrumen untuk menarik investasi. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat membantu pemerintah menciptakan ekosistem yang lebih terintegrasi bagi investor.
Tantangan investasi Indonesia juga berkaitan dengan kebutuhan untuk menjaga konsistensi kebijakan. Kepastian mengenai arah kebijakan menjadi salah satu faktor penting agar investor memiliki kejelasan ketika menentukan keputusan investasi.
Dalam konteks pertumbuhan ekonomi, Mari menekankan bahwa investasi menjadi faktor penting apabila Indonesia ingin meningkatkan pertumbuhan di atas 5 persen.
“Karena kita bisa mencapai 5 persen kalau kita stabil saja pertumbuhannya. Tapi kalau kita mau tumbuh di atas 5 persen nah itu perlu investasi,” kata Mari.
Karena itu, upaya meningkatkan investasi tidak hanya berkaitan dengan pemberian insentif kepada investor. Pemerintah juga perlu memastikan stabilitas ekonomi, konsistensi kebijakan, kemudahan berusaha, serta ekosistem industri yang mendukung terbentuknya rantai pasok.
Mari menilai Indonesia memiliki potensi untuk menarik investasi, termasuk dari perusahaan yang ingin melakukan relokasi maupun membangun basis produksi baru. Namun, peluang tersebut perlu diikuti dengan kesiapan Indonesia dalam menyediakan ekosistem industri yang dibutuhkan investor.
Menurutnya, Indonesia juga perlu lebih pragmatis dalam menentukan sektor yang menjadi prioritas. Pemerintah dapat memusatkan sumber daya dan koordinasi pada bidang-bidang yang memiliki potensi memberikan dampak besar terhadap investasi, ekspor, dan penciptaan lapangan kerja.
