Menperin Minta Pengusaha Swiss Tingkatkan Investasi di Indonesia

Swiss merupakan salah satu negara dengan nilai investasi yang cukup besar di Indonesia, mencapai 4,5 miliar dolar AS. Pada 2015 dalam empat tahun terakhir. Saat ini, industri Swiss yang berada di Indonesia meliputi sektor farmasi dan kosmetika, olahan susu, makanan dan minuman, serta permesinan.
Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian, nilai perdagangan Indonesia-Swiss tercatat 1,7 miliar dolar AS, naik 124 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan kinerja ekspor Indonesia ke Swiss sebesar 1,07 miliar dolar AS dan impor sekitar 0,63 miliar dolar AS.
Melihat angka tersebut, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengajak sejumlah pimpinan perusahaan asal Swiss meningkatkan investasi di Indonesia sekaligus bermitra dengan pengusaha dalam negeri. Hal itu disampaikan Airlangga usai bertemu Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Yvonne Bauman, beserta Delegasi Pengusaha Swiss pada Rabu kemarin.
“Kami meminta mereka ekspansi. Karena seiring pemerintah Indonesia mengeluarkan paket kebijakan ekonomi yang dapat memudahkan untuk menjalankan bisnis,” kata Airlangga.
Baca juga Sulawesi Tenggara dan Gorontalo Dibidik Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Investasi Asing Berebut Masuk ke Indonesia
Beberapa perusahaan yang hadir dalam pertemuan tersebut, di antaranya PT. Nestle Indonesia, PT. SGS Indonesia, PT. Endress+ Hauser Indonesia, PT. Givaudan, PT. Sandmaster Asia Indonesia, PT. Roche Indonesia, PT. Novartis Indonesia, dan PT. Syngenta Indonesia
Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak berdiskusi mengenai upaya untuk menghilangkan hambatan baik dari sisi regulasi maupun produksi dari masing-masing sektor industri. “Misalnya, pembahasan daftar negatif investasi dan mendorong tingkat kandungan lokal pada bahan baku,” tuturnya.
Adapun Pemerintah Indonesia telah menjalankan peraturan tentang Penerbitan Surat Izin Usaha Perdagangan dan Tanda Daftar Perusahaan Secara Simultan Bagi Perusahaan Perdagangan.
Aturan ini memudahkan pelaku usaha karena aplikasinya dapat dilakukan secara online dan simultan. Kedua dokumen tersebut dapat terbit dalam dua hari setelah aplikasinya dilengkapi.
Pada Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 11, pemerintah juga berkomitmen memacu pembangunan industri farmasi dan alat kesehatan. Aturan ini termasuk pemberian insentif fiskal untuk perusahaan yang melakukan bisnis di bidang farmasi serta mendapatkan fasilitas perdagangan bebas di dalam negeri.
“Industri ini membutuhkan pasokan bahan baku yang kontinyu, seperti gula.Tentunya kami akan membedakan gula untuk industri dengan yang untuk konsumsi di dalam regulasinya nanti,” tuturnya.
Di samping itu, Indonesia-Swiss telah sepakat bekerja sama di bidang pendidikan vokasi industri yang menerapkan model Dual Vocational Education and Training (D-VET) system. Dalam hal ini, Kemenperin menyiapkan tenaga kerja yang terampil sesuai kebutuhan industri saat ini sekaligus untuk menghadapi era Industry 4.0.
Baca juga: Malaysia Incar Banyak Proyek Besar di RI, Nilainya Capai Rp 120 T
Dubes Swiss, Yvonne Bauman, mengapresiasi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini. Dengan kondisi yang semakin kondusif, kata dia, akan menguatkan kerja sama bilateral. Hal ini juga akan membuat pelaku industri Swiss turut berperan dalam pengembangan potensi ekonomi di Indonesia.
Yvonne mengakui Indonesia memiliki potensi pasar yang cukup menggiurkan dengan jumlah penduduk yang besar. “Wajar, jika banyak negara tertarik menjalin kerja sama, termasuk Swiss,” ucapnya. Apalagi, peringkat investment grade yang diberikan S&P dipercaya akan mendongkrak aliran dana investasi asing ke Indonesia.
“Hingga saat ini, sebanyak 150 perusahaan Swiss telah beroperasi di Indonesia dengan total penyerapan tenaga kerja mencapai 60.000 orang. Kami harap dapat terus menjadi mitra usaha bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia,” ungkapnya.
Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Harjanto, mengatakan kerja sama dalam bidang ekonomi antara dua negara telah terimplementasi di berbagai bidang seperti industri pengolahan, pariwisata, pertanian, pendidikan dan penerbangan.
Hubungan bilateral yang semakin erat ini ditandai dengan adanya beberapa kerja sama yang telah diimplementasikan dan adanya inisiatif kerja sama lanjutan, yang semuanya bermanfaat bagi kedua belah pihak.
“Saat ini, Comprehensive Economic Partnership antara Indonesia dan Swisss sedang dinegosiasikan dalam bentuk Indonesia dan European Free Trade Association (EFTA), Swiss menjadi salah satu anggota,” ungkapnya.
Negosiasi tersebut menjadi satu paket dengan nama Indonesia-EFTA Comprehensive Partnership Agreement (IE-CEPA). “Semoga jalannya negosiasi ini nantinya dapat berjalan lancar dan memberikan keuntungan ekonomi bagi kedua negara,” tutur Harjanto.
