Kumparan Logo

Rizky Ananda: Sosok Lady Boss di Balik Skinsol Kosmetik

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rizky Ananda Musa. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rizky Ananda Musa. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Aura lady boss menguar begitu Rizky Ananda Musa memasuki ruangan. Ia tampil penuh gaya dalam balutan setelan tweed monokromatik navy blue yang bertekstur mewah—klasik, elegan, maskulin, berkelas—dipertegas dengan bros Chanel yang tersemat di sisi kiri kerah blazernya.

Riasan wajahnya yang flawless berpadu dengan sapuan lipstik bold red, memancarkan karisma sosok pengusaha perempuan tangguh. Tak heran, sebab ia adalah “ratu” tempat itu: PT Skinsol Kosmetik Industri, produsen kosmetik di Jawa Barat yang telah memproduksi lebih dari 600 brand—mayoritas terdiri dari merek lokal.

Di perusahaan manufaktur produk kecantikan itu, Rizky Ananda adalah founder sekaligus komisaris. Ia mengoperasikan pabrik seluas lima hektare tersebut bersama suaminya, Michael Simon—CEO dan Founder PT Solusi Global Group.

Rizky Ananda dan Michael Simon, pendiri PT Skinsol Kosmetik Industri. Foto: Dok. Istimewa

Rizky tidak tiba-tiba berada di posisinya saat ini. Sebelum mendirikan pabrik maklun, ia berjualan kosmetik dengan sistem multilevel marketing (MLM). Kala itu, kosmetik yang ia distribusikan dibuat oleh sebuah pabrik maklun yang kemudian bermasalah.

“Tahun 2005 saya jualan kosmetik, maklun (diproduksi) di pabrik orang. Tapi pabriknya lalu bermasalah, izin BPOM produknya juga, akhirnya saya putuskan untuk stop dulu. Lima tahun kemudian, sekitar 2010, saya membuat pabrik sendiri dengan skala masih UMKM,” kata Rizky mengawali ceritanya dalam perbincangan panjang bersama kumparanWOMAN di pabriknya yang berlokasi di zona industri Padalarang, Bandung Barat, beberapa waktu lalu.

Menurut Rizky, ada beberapa alasan yang membuat ia dan Simon mewujudkan pabrik maklun Skinsol Kosmetik Industri:

  1. Kosmetik adalah bidang yang menjadi passion Rizky.

  2. Peluang bisnis di industri kosmetik sangat besar.

  3. Tak semua pabrik kosmetik bagus sehingga diperlukan pembangunan pabrik dengan mutu terbaik.

  4. Simon memahami regulasi dan jalur perizinan pendirian pabrik karena punya pengalaman 13 tahun di industri tekstil.

“Saya pegang bagian produksi dan pengawasannya (quality control); Bapak bagian regulasi dan perizinan, termasuk terkait urusan dengan BPOM.”

Pekerja mengemas produk di pabrik Skinsol Kosmetik, Padalarang, Bandung Barat. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Memulai Bisnis dengan 7 Orang, Menggadaikan Emas untuk Menggaji Pegawai

Rizky dan Simon tidak tiba-tiba memiliki pabrik seluas lima hektare yang mempekerjakan 300-an karyawan di Padalarang. Usaha maklun mereka bermula di Ciwaruga, di belakang kediaman mereka sendiri.

“Saya punya lahan sekitar 3.800 meter persegi di Ciwaruga; yang 1.000 meter perseginya kami bikin pabrik skala UMKM di belakang rumah, masih di dalam kompleks. Awalnya karyawan kami itu tujuh orang, termasuk saya dan suami,” ujar Rizky, mengingat masa saat ia merintis Skinsol.

Dengan hanya 7 pegawai di tahun 2010 itu, Rizky turun tangan sendiri dalam proses produksi—filling, labelling—sampai pemasaran. Ia juga pernah melewati periode sulit saat keuangan tak cukup untuk membayar gaji dan THR karyawan.

“Waktu itu bingung, sih… Mau Lebaran, gimana caranya bayar gaji dan THR pegawai? Saya lalu dibantu almarhumah ibu saya menggadaikan emas ke Pegadaian. Pokoknya bagaimana caranya tanggal 15 harus bisa bayar ke karyawan… Kami harus tepat janji,” kata Rizky.

Pada titik itu, Rizky paham sepenuhnya bahwa berbisnis sama sekali bukan perkara mudah.

Sejumlah pekerja meracik bahan di pabrik Skinsol Kosmetik. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Rizky menegaskan, saat ia dan suaminya merintis bisnis maklun kosmetik, mereka tidak menerima modal atau bantuan dana dari orang tua. Untuk membeli mesin dan alat-alat laboratorium, keduanya memutuskan untuk menjual aset.

“Karena kami butuh dana yang sangat besar untuk mesin dan alat-alat itu, ya sudah… jual dulu aset yang ada; mulai dari nol,” ujar Rizky di ruang rapat pabriknya.

Ketika itu, vendor pun meragukan Skinsol. Mereka bertanya ke Rizky, “Benar nih Ibu mau beli mesin yang skalanya besar? Pabriknya kan kecil gitu?”

Bukan cuma kapasitas pabrik yang diragukan, tapi juga latar belakang Rizky. Ia kerap mendapat pertanyaan, “Apakah Ibu apoteker? Atau dokter?”

Pertanyaan itu wajar karena bidang yang ia geluti ialah industri kosmetik. Dan Rizky menjawab blak-blakan, “Bukan, saya dan Simon tidak [punya latar belakang] di bidang farmasi, dan itulah sebabnya kami sepakat harus menjaga kualitas dan tertib perizinan.”

Rizky menekankan, bahan baku produknya mesti berkualitas terbaik dan halal. Skinsol juga melakukan tes-tes di lab secara berkala. Hasilnya, produk mereka dinilai aman dan bagus diaplikasikan di wajah orang-orang. Kepercayaan pelanggan pun tumbuh dan Skinsol mulai direkomendasikan dari mulut ke mulut.

“Alhamdulillah, sampai sekarang 15 tahun [Skinsol berdiri], kami sudah memiliki lebih dari 600 customer maklun dari seluruh Indonesia,” tutur Rizky, bungah.

Ruang penyimpanan produk di pabrik Skinsol Kosmetik. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Bukan Sekadar Pabrik, tapi One-Stop Service

Kualitas dan pelayanan nomor satu bagi customer—itu target Rizky dan Simon. Skinsol Kosmetik Industri didesain bukan hanya sebagai pabrik maklun (produksi), tapi juga konsultan sekaligus solusi satu pintu (jasa). Dengan demikian, beautypreneur yang ingin membuat kosmetik tidak perlu mengkhawatirkan proses produksi yang kompleks.

Rizky menjelaskan step by step proses layanan maklun kosmetik di Skinsol:

  1. Konsultasi dan diskusi konsep: Bertemu customer untuk menentukan konsep, jenis produk, dan wujudnya.

  2. Formulasi: Pembuatan sampel produk berdasarkan spesifikasi customer.

  3. Uji sampel: Sampel dicoba oleh customer.

  4. Penandatanganan kontrak kerja: Setelah sampel disetujui customer, dibuatlah kesepakatan legalitas kerja sama antara customer dan pabrik maklun.

  5. Pendaftaran ke BPOM dan HAKI: Pendaftaran merek serta pengajuan izin edar produk ke BPOM, termasuk kelengkapan dokumen teknis dan uji sampel.

  6. Produksi: Setelah Nomor Izin Edar dari BPOM resmi keluar, dimulailah produksi massal.

  7. Quality control dan pengemasan: Pemeriksaan kualitas internal oleh pabrik sesuai standar CPKB (Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik).

  8. Distribusi dan pemasaran: Produk jadi diserahkan ke customer; siap dipasarkan.

Pada tiap batch produksi massal, Skinsol menyimpan retained sample (sampel pertinggal) untuk mengantisipasi masalah yang mungkin timbul di kemudian hari, seperti kerusakan atau pemalsuan produk. Retained sample berguna dalam proses investigasi komplain konsumen, audit dan pengawasan BPOM, uji stabilitas berkala, sekaligus menjadi bukti sah bila terjadi sengketa hukum.

Rizky Ananda memantau proses peracikan bahan di pabrik Skinsol Kosmetik. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Rizky menekankan, Skinsol selalu berhati-hati dalam proses formulasi dan produksi; terlebih sebagian besar produknya digunakan di wajah. Bila produk yang dihasilkan memicu iritasi, maka kesalahan akan dilemparkan kepada produk terkait dan pabrik yang membuatnya.

“Kami harus pupuk kepercayaan customer. Kami juga harus menjaga keamanan dan kenyamanan customer.”

Selain proses produksi yang dijaga ketat, Rizky meyakini produk yang baik muncul dari kerja para pegawainya yang sepenuh hati. Jadi, “Misalkan kami enggak semangat, nanti akan berpengaruh pada hasil produksi.”

Ia sadar Skinsol bisa berkembang karena dukungan ratusan karyawannya. Itu sebabnya moto mereka adalah “We are a team, we are a family.

Budaya kerja yang hangat dan humanis ini tercermin dalam keseharian pabrik. Bagi Rizky dan Simon, kesejahteraan serta kebahagiaan karyawan adalah kunci. Perusahaan rutin mengadakan pengajian tiap Kamis sore, menggelar Jumat Berkah untuk masyarakat Bandung, hingga melangsungkan gathering tahunan—memboyong karyawan berlibur bersama ke Bali.

“Kami tidak bisa menjadi besar tanpa bantuan seluruh karyawan. Banyak dari mereka yang setia bekerja bersama kami sejak era awal pabrik berdiri,” tutur Rizky.

Pekerja mengemas produk di pabrik Skinsol Kosmetik. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Pertumbuhan Skinsol yang pesat tak lepas dari komitmen tinggi perusahaan terhadap regulasi dan standar kualitas. Pabrik Skinsol telah mengantongi sertifikasi CPKB (Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik), sertifikasi halal MUI dengan predikat Grade A, serta berbagai sertifikasi internasional seperti ISO (International Organization for Standardization) dan GMP (Good Manufacturing Practice).

Guna memastikan setiap inovasi relevan dengan zaman, Skinsol rutin memfasilitasi tim R&D dengan riset tren terkini—mulai dari mendatangkan vendor bahan baku kosmetik dunia secara rutin, sampai mengirim perwakilan ke pusat tren kecantikan global seperti Korea Selatan.

instagram embed

Empat belas tahun lebih berkecimpung dalam beauty industry mengajarkan Rizky bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari angka penjualan atau megahnya bangunan pabrik, tapi ketika keberadaannya mampu mengangkat derajat orang lain.

Ia merasa bangga saat menyaksikan para beautypreneur yang dahulu merintis bisnis dari nol bersama Skinsol, kini menjelma menjadi pengusaha sukses.

“Bagi saya, sukses itu adalah menjadi ibu yang baik, istri yang baik, dan pebisnis yang mampu mengangkat derajat banyak orang. Kami tidak mencari keuntungan semata. Kami ingin rezeki yang halal dan berkah, serta menjadikan bisnis ini sebagai wadah untuk terus memberi manfaat bagi sesama,” ujar Rizky, terenyum hangat.

“Untuk semua perempuan Indonesia, jangan takut melangkah. Kekurangan kita justru menjadi penyemangat untuk melangkah maju dan membuktikan diri.”

Rizky Ananda Musa. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan