Sedalam dan Seberbahaya Apa Perairan Krakatau?

Kepala Liputan Khusus kumparan. Senang berjalan-jalan, melihat-lihat, dan menulis. Berharap masa depan yang lebih baik bagi negeri dan bumi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Anggi Kusumadewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Please remember: things are not what they seem.”
Saat duduk di geladak haluan memandang Anak Krakatau, saya hanya melihat apa yang tampak di permukaan, semisal ketinggian gunung—yang tak tampak tinggi.
Gunung Anak Krakatau yang juga pulau vulkanik itu hanya 157 meter (bandingkan dengan Gunung Rakata di sebelahnya yang menjulang 813 meter).
Layaklah memang ia disebut “anak”.
Gunung sependek itu namun segarang itu, pikir saya saat melihat lontaran abu erupsi di depan mata, 16 Agustus 2026.
Namun, ketinggian itu ialah yang kasatmata; yang ada di atas permukaan laut. Sementara bagian terbesarnya—untuk saat ini—justru tersembunyi di dalam laut. Ya, fondasi Anak Krakatau bertumpu di dasar kaldera pada kedalaman 200–250 meter di bawah permukaan laut.
Sedalam itu pula sebagian perairan Krakatau.
Kepulauan Krakatau sebetulnya adalah kaldera raksasa seluas 30–40 kilometer persegi dengan kedalaman dasar laut 200–390 meter. Kaldera ini pertama kali terbentuk dari letusan purba, lalu runtuh dan bertambah luas usai erupsi katastropik Krakatau pada 1883.
Dinding kaldera itu terentang dari dasar laut dan mencuat ke permukaan dalam wujud pulau-pulau di Kompleks Krakatau: Pulau Sertung di sisi barat, Pulau Panjang di sisi timur, Pulau Rakata di sisi selatan. Dan tepat di tengah kaldera, Gunung Anak Krakatau menjulang.
Perairan di dalam kaldera—yang mengelilingi Anak Krakatau—memiliki kedalaman rata-rata 200–250 meter. Cekungan terdalamnya mencapai 390 meter. Sementara perairan di luar kaldera yang berada di sisi barat dan barat daya Kepulauan Krakatau, kedalamannya turun tajam ke 1.500 dan 2.000 meter.
Itulah Parit Selat Sunda yang merupakan bagian dari jalur tektonik samudra. Disebut “parit” karena topografinya curam, berupa jurang atau retakan dasar laut. Parit itu terbentuk karena pergerakan lempeng bumi di area Selat Sunda yang menunjam dan merekah.
Parit Selat Sunda berjarak sekitar 10–20 km dari kaldera Krakatau. Ia bak pintu keluar menuju Palung Jawa—jurang samudra raksasa berkedalaman lebih dari 7.000 meter yang membentang sekitar 140 km dari barat daya Kompleks Krakatau.
Dengan titik terdalam 7.290–7.450 meter di bawah permukaan laut, Palung Jawa/Palung Sunda merupakan palung paling dalam di Indonesia, bahkan Samudra Hindia.
Dari permukaan laut, topografi itu tentu tak terlihat. Laut terlihat sama, padahal kedalamannya jauh berbeda—turun curam dari ratusan ke ribuan meter.
Salah Satu Perairan Paling Berbahaya di Indonesia
Tak cuma bertetangga dengan palung terdalam di Samudra Hindia, perairan Krakatau juga salah satu yang paling berbahaya di Indonesia. Bahaya itu datang dari kombinasi langka ancaman vulkanik-tektonik di bawah laut dengan kondisi hidrodinamika laut yang ekstrem.
Ancaman vulkanik itu bertumpu pada watak Anak Krakatau yang sulit ditebak. Perairan di sekitarnya menyimpan risiko tsunami akibat longsoran gunung api (flank collapse)—yang bisa berlangsung tiba-tiba tanpa didahului guncangan sebagai penanda.
Sewaktu-waktu, sebagian tubuh gunung dapat runtuh ke dalam laut tanpa peringatan dini, sehingga seketika volume air laut berpindah secara masif dan seketika. Inilah yang memicu tsunami senyap seperti yang terjadi pada 22 Desember 2018.
Pada saat yang sama, perairan Krakatau selalu diintai potensi erupsi freatomagmatik—momen ketika benturan magma pijar dan air laut meletupkan gas beracun, ledakan bom vulkanik, hingga awan panas yang sanggup menyapu apa pun dalam radius bahaya.
Mara bahaya tak berhenti pada ancaman dapur magma. Kondisi hidrodinamika—alias pergerakan dan dinamika fisik air laut—di kawasan ini merupakan ancaman nyata yang mengintai para pelaut setiap saat.
Kontur Selat Sunda yang seperti celah sempit di antara dua perairan luas (choke point) dapat memicu efek arus kencang berkecepatan tinggi layaknya jet stream. Di sinilah dua arus dahsyat bertemu: massa air dangkal dari Laut Jawa berbenturan langsung dengan massa air dalam dari Samudra Hindia.
Pertemuan dua massa air dengan suhu, kadar garam, dan massa jenis yang bertolak belakang ini melahirkan dinamika perairan yang ganas. Di permukaan dan kedalaman, terbentuk zona turbulensi masif, pusaran air, hingga ancaman gelombang liar yang bisa muncul tiba-tiba.
Keganasan perairan ini diperparah oleh wujud topografi dasar lautnya yang terjal. Ketika massa air laut berkecepatan tinggi menabrak dinding-dinding kaldera dan tebing curam Parit Selat Sunda, terjadilah fenomena upwelling—dorongan massa air dalam dari dasar laut yang menghasilkan ombak melintang.
Dari permukaan, perairan Krakatau mungkin tampak seperti bentangan biru yang tenang. Namun di bawah lunas kapal, interaksi hidrodinamika dan geologi bumi dapat berubah berbahaya seketika.
Ketika kapal mengalami kegagalan mesin (blackout) di perairan ini, ia otomatis kehilangan kendali olah gerak dan terbawa pola pergerakan arus lokal. Benturan massa air hangat dari Laut Jawa dan massa air dingin dari Samudra Hindia dapat menciptakan gaya geser serta pusaran air yang mampu menyeret lambung kapal ke arah berbeda secara bersamaan hingga memuntir posisinya.
Bila pola arus lokal sedang mengarah ke pusat cekungan, maka kapal bisa terdorong dengan cepat menuju area kaldera utama yang memiliki akumulasi energi arus terkuat di Selat Sunda.
Dengan arus laut seberbahaya itu, dan dengan letak perairan yang merupakan bagian dari jalur pelayaran aktif Selat Sunda, para peneliti geologi dan arkeologi maritim memperkirakan puluhan bangkai kapal telah bersemayam di cekungan kaldera Krakatau—dan ratusan bangkai kapal terkubur di dasar Selat Sunda.
Dasar kaldera Krakatau dipetakan dengan teknologi eksplorasi jarak jauh seperti kapal riset permukaan yang memakai multibeam echosounder untuk memancarkan gelombang suara ke dasar laut. Hasilnya berupa peta topografi dasar laut yang detail.
Ada pula kapal selam nirawak atau remotely operated vehicle. ROV ini dikendalikan oleh operator dari kapal permukaan melalui kabel. ROV dilengkapi kamera beresolusi tinggi, lampu, sonar, dan lengan robotik untuk mengambil sampel.
ROV digunakan untuk merekam video dan memotret formasi geologi dasar laut, lubang hidrothermal dan emisi gas di dasar kaldera, serta ekosistem di area vulkanik aktif bawah laut.
Pemetaan pada area luas dan pengumpulan data sensor geofisika juga menggunakan autonomous underwater vehicle. AUV ialah kendaraan bawah air tanpa kabel yang beroperasi secara mandiri sesuai program yang ditentukan.
Pemetaan topografi dan pemahaman hidrodinamika dasar laut menjadi salah satu kunci vital dalam memitigasi bencana di laut.
Magma Anak Krakatau Lebih Panas—Erupsi Sering tapi Tak Berskala Besar
Selain kontur dasar laut perairan Krakatau, dapur magmanya yang tertanam jauh di bawah kaldera juga diteliti untuk mengantisipasi potensi bahaya yang mengintai dari kedalaman bumi.
Tim riset BRIN menemukan bahwa dapur magma Anak Krakatau saat ini sedang dalam fase pengisian ulang atau inkubasi. Hasil analisis geokimia menunjukkan, di bawah kaldera terdapat setidaknya dua lapisan dapur magma yang tersimpan pada kedalaman 7,4–26,6 km. Magma ini memiliki temperatur lebih panas (916–1.034°C) dan bertekanan sangat tinggi (185–665 Megapascal), namun bersifat lebih cair (basaltik) karena rendah kandungan silika.
Karakter tersebut berbeda drastis dengan periode Krakatau Purba maupun Krakatau pra-1883. Pada letusan 1883, magma Krakatau berada pada fase matang—kaya silika—sehingga amat kental dan menyumbat saluran vulkanik yang kemudian meledak hebat.
Sebaliknya, magma Anak Krakatau yang cair saat ini tidak menyumbat saluran vulkanik sehingga gas mudah keluar dan memicu erupsi yang lebih sering namun berskala kecil atau sedang. Oleh sebab itu, peneliti BRIN menilai Anak Krakatau masih jauh dari letusan dahsyat seperti pada 1883.
Bagaimanapun, letusan berskala sedang tetap menyimpan bahaya jika material vulkanik berinteraksi langsung dengan air laut, atau jika lereng gunung runtuh ke laut hingga memicu tsunami senyap.
Pengetahuan tentang kondisi dapur magma ini berhubungan langsung dengan keselamatan navigasi di Selat Sunda. Informasi ilmiah ini jadi pijakan bagi otoritas maritim dan penerbangan untuk memetakan radius aman dari lontaran batu pijar, memperkirakan sebaran abu vulkanik yang mengganggu pandangan nakhoda dan pilot, juga menyesuaikan alur pelayaran kapal secara lebih presisi.
Meski kontur dasar laut Krakatau telah dipetakan dengan bantuan teknologi sonar, kondisi ekstrem di dasar kaldera—arus kuat, jarak pandang nol, ancaman aktivitas vulkanik—membuat area itu tetap menjadi wilayah berbahaya yang jarang terjamah manusia.
Seberbahaya namun setenang itu...
Memang segala hal tak selalu seperti yang terlihat.
***
Referensi:
Menelisik Dapur Magma Krakatau: BRIN Ungkap Perubahan Komposisi dan Kedalaman. Riset BRIN (2024)
Geochemical and Petrological Insights into the Multi-tiered Magma Chamber System and Magmatic Evolution of Anak Krakatau. Studi Geokimia & Petrologi (Pratama, Tohari, Watt, dkk., 2023–2024)
Initial Submarine Slope Failure Encounter and Mechanics During the 2018 Anak Krakatau Collapse. Riset Earth and Planetary Science Letters (Hunt, Tappin, Watt, dkk., 2021)
The 22 December 2018 Anak Krakatau Volcano Flank Collapse and Tsunami. Studi Nature Communications (Ye dkk., 2020)
Inner Structure of the Krakatau Volcanic Complex from High-Resolution Bathymetry. Riset Marine Geophysical Researches (Deplus dkk., 1995)
The Sunda Strait Throughflow. Studi Geophysical Research Letters (Susanto dkk., 2005)
Peta Batimetri Terintegrasi Perairan Kompleks Krakatau. Data Oseanografi Pushidrosal TNI AL
