Konten dari Pengguna

Melintasi Anak Krakatau, Mengarungi Tepi Kaldera

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anggi Kusumadewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak Krakatau (kanan) dan Gunung Rakata (kiri, belakang). Foto: Anggi Kusumadewi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Anak Krakatau (kanan) dan Gunung Rakata (kiri, belakang). Foto: Anggi Kusumadewi/kumparan

Sekitar pukul 16.34 WIB, Minggu, 16 Agustus 2026, Anak Krakatau akhirnya terlihat oleh mata telanjang kami. Perasaan kami campur aduk: penasaran, kagum, sekaligus penuh kehati-hatian.

Sebelum berangkat, kru kapal—yang seluruhnya warga lokal Sebesi, pulau berpenghuni terdekat dari Anak Krakatau—sudah mendapat pesan dari Polhut BKSDA: hanya melintas, jaga jarak aman, dan tidak menepi.

Intinya: dilarang merapat dan menginjakkan kaki di Anak Krakatau.

Maka, begitu melihat Anak Krakatau di kejauhan, kami langsung waspada. Asap tipis tampak mengepul di puncaknya. Di sisi kanan Anak Krakatau, berdiri megah Gunung Rakata yang berkerucut tinggi.

Rakata ialah titik tertinggi di gugusan Kepulauan Krakatau. Berbeda dengan Anak Krakatau yang merupakan gunung baru yang sedang tumbuh, Rakata ialah sisa tubuh Krakatau yang meletus dahsyat pada 1883. Keduanya kini bagian dari Cagar Alam Kepulauan Krakatau yang pengelolaannya berada di bawah Balai Konservasi Sumber Daya Alam KLHK.

Peta Cagar Alam Kepulauan Krakatau (Pulau Sertung, Pulau Panjang, Anak Krakatau, dan Pulau Rakata). Foto: Peter Hermes Furian/Shutterstock

Kapal kami melintas pada jarak aman. Pulau Panjang (Krakatau Kecil) dan Pulau Sertung tampak di kiri-kanan. Kedua pulau itu, bersama Pulau Rakata, sesungguhnya adalah sisa-sisa dinding kaldera Kompleks Krakatau yang hancur dan tenggelam setelah letusan 1883.

Kaldera itu kini mewujud cekungan raksasa di bawah laut dengan Pulau Rakata sebagai dinding di sisi selatan, Sertung di sisi barat, Panjang di sisi timur. Sementara Anak Krakatau tumbuh di tengah kaldera tersebut—dan masih akan terus bertumbuh.

Peta Kaldera Krakatau. Foto: Omira & Ramalho/ITIC/Unesco

Anak Krakatau pertama kali muncul di permukaan laut pada 1927 sebagai pulau abu kecil. Ia terus meninggi dan pada 2018 mencapai sekitar 338 meter di atas permukaan laut, sebelum kemudian meletus pada 22 Desember 2018. Letusan itu melongsorkan tebing barat daya Anak Krakatau dan memangkas ketinggian gunung itu menjadi sekitar 110 mdpl—juga melongsorkan lereng bawah laut Anak Krakatau yang memicu Tsunami Selat Sunda.

kumparan post embed

Sejak saat itu sampai saat ini, Anak Krakatau kembali tumbuh hingga ±157 meter. Namun, yang terlihat di permukaan laut hanya sebagian karena gunung itu tumbuh dari kaldera Krakatau di dasar laut. Ketinggiannya di bawah permukaan laut sekitar 200–250 meter sehingga total tinggi Anak Krakatau ±350–400 meter (benar-benar “anak” mengingat ketinggian Gunung Krakatau Purba—yang notabene “moyangnya”—mencapai sekitar 2.000 mdpl).

Ilustrasi Gunung Krakatau Purba. Foto: Visualisasi AI berbasis rekonstruksi geologi.

Krakatau memiliki sejarah panjang. Riwayatnya terbagi dalam dua fase berdasarkan pembentukan geologinya:

  1. Krakatau Purba yang meletus sekitar abad ke-5 atau 6.

  2. Krakatau Pra-1883 yang meletus pada akhir Agustus 1883.

Krakatau Purba adalah gunung tunggal raksasa. Setelah meletus dasyat dan hancur, di kalderanya tumbuh tiga puncak baru—Rakata, Danan, dan Perboewatan. Pada periode Pra-1883 ini, Krakatau bukan lagi gunung tunggal, melainkan nama pulau sekaligus kompleks gunung api yang saling menyambung dan mempunyai satu dapur magma.

Laporan survei geologi dan peta sejarah Hindia Belanda menyebut, Gunung Rakata memiliki ketinggian sekitar 813 mdpl, Danan ±450 mdpl, dan Perboewatan ±120 mdpl.

Ilustrasi Gunung Krakatau tahun 1880. Foto: Visualisasi AI berbasis rekonstruksi geologi.

Saat meletus dahsyat pada 27 Agustus 1883, puncak Rakata, Danan, dan Perboewatan runtuh; sebagian besar Pulau Krakatau tenggelam; dan gelombang tsunami 40 meter menenggelamkan lebih dari 36 ribu orang. Gelegar Krakatau kala itu terdengar sampai India dan Australia. Debu vulkaniknya bahkan menutupi atmosfer sehingga suhu Bumi turun dan badai meningkat.

kumparan post embed

Riwayat panjang—dan mengerikan—tersebut membuat kami memandang Anak Krakatau dengan takjub—bahkan cenderung takzim—dari laut. Sore itu (16/8), kapal kami berlayar perlahan di perairan Kepulauan Krakatau, di antara Pulau Panjang dan Sertung, menghadap Anak Krakatau.

Perairan yang kami arungi itu berada di atas tepian kaldera Krakatau. Kaldera itu berjarak 100–250 meter di bawah permukaan laut.

Pukul 17.06 WIB, saat kapal mengarah ke kanan, di antara Anak Krakatau dan Pulau Sertung, mendadak abu hitam pekat membubung tinggi dan bergulung di langit. Kolom abu itu, menurut pemantauan PVMBG, mencapai 200–350 meter di atas puncak kawah.

Anak Krakatau kembali erupsi.

Kami ternganga mendapat “sapaan” itu. Kepala kami mendongak mengikuti dorongan abu. Itulah pertama kali kami melihat erupsi di depan mata.

Erupsi freatik Anak Krakatau, 16 Agustus 2026. Foto: Elita
video youtube embed

Sontak kami berseru kepada nakhoda: “Pak, putar balik!”

Nakhoda—yang berwajah garang karena makan asam garam kehidupan laut—kemudian memutar kemudi dan berbalik arah. Kapal menjauh, namun mata kami sepenuhnya terpatri pada Anak Krakatau yang mengecil di belakang kami.

Kapal berlayar menjauhi Anak Krakatau. Tampak Pulau Sertung—yang bersebelahan dengan Anak Krakatau—di kejauhan. Foto: Anggi Kusumadewi/kumparan

Matahari terbenam saat kami berlayar ke Pulau Sebesi yang berjarak 18–20 kilometer dari Anak Krakatau. Laut dan langit yang keemasan tampak begitu indah. Angin membelai tenang, nyaris seperti tak pernah ada kejadian menegangkan yang baru kami lalui.

Dalam hati, kami semua bersyukur. Namun, perjalanan masih panjang. Kapal motor kami butuh dua jam untuk mencapai Sebesi, sementara malam terus merayap. Angin semakin kencang, ombak semakin kuat, dan matahari berganti bulan-bintang.

Sepanjang mata memandang, yang terlihat hanya laut tak berbatas dilingkupi kubah pekat malam. Kapal kami bak noktah kecil di semesta. Kami menarik rapat jaket dan menyerahkan nasib ke tangan nakhoda.

Lupakan sinyal seluler. Separuh lebih perjalanan di laut itu kami habiskan tanpa sinyal.

Maka, begitu lampu-lampu Sebesi mulai terlihat di kejauhan, api harapan bak menyala di hati: Sebentar lagi kami tiba!

Lewat pukul 20.00 WIB, kapal kami akhirnya merapat di Dermaga Tejang, Sebesi. Hati kami dipenuhi rasa syukur. Kami tak banyak bicara, hanya saling senyum. Letih, tapi lega.

Dermaga Sebesi di pagi hari. Foto: Anggi Kusumadewi/kumparan

Dua puluh hari kemudian, Anak Krakatau menyemburkan lava pijar dengan debu vulkanik terlontar sampai kota tempat tinggal saya—Bogor. Erupsi strombolian itu jelas lebih besar dari erupsi freatik yang kami lihat bulan lalu.

Dua hari setelahnya, terdengar kabar lima jurnalis hilang saat meliput Anak Krakatau. Hati serasa mencelos. Teriring doa tulus untuk mereka dari sanubari: Semoga kalian dalam lindungan Tuhan dan ditemukan sehat walafiat.

kumparan post embed

***

Referensi:

Verbeek, R. D. M. (1885). Krakatau. Batavia: Landsdrukkerij.

Smithsonian Institution – Global Volcanism Program (GVP). Krakatau Volcanic Complex Data.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG - KESDM). Laporan Kebencanaan Geologi dan Aktivitas Harian Gunung Anak Krakatau.

Self, S., & Rampino, M. R. (1981). The 1883 eruption of Krakatau. Nature/Journal of Volcanology and Geothermal Research.