Konten dari Pengguna

Propaganda Digital dalam Ramainya Isu SEAblings – Korea Selatan

Anggun Adelia

Anggun Adelia

Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sriwijaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anggun Adelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: freepik.com (Kegaduhan yang dapat terjadi akibat internet.)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: freepik.com (Kegaduhan yang dapat terjadi akibat internet.)

Memahami Fenomena SEAblings vs Korea Selatan di Medsos

Fenomena SEAblings mungkin terdengar lucu bagi sebagian orang, tetapi kemunculannya mencerminkan dinamika serius dalam cara kita berinteraksi di ruang digital saat ini. Istilah SEAblings sendiri merupakan gabungan dari SEA (Southeast Asia) dan siblings (saudara) yang digunakan oleh warganet Asia Tenggara untuk mengekspresikan solidaritas digital lintas negara saat menghadapi komentar yang dianggap merendahkan dari sebagian akun asal Korea Selatan di media sosial, khususnya di X. Tagar dari istilah ini menyebar luas di platform X dan menjadi simbol kebersamaan sekaligus perlawanan terhadap narasi yang dianggap kurang adil terhadap Asia Tenggara.

Pemicu awal dimulai dari insiden dalam konser boyband Korea yaitu DAY6 pada 31 Januari 2026 di Kuala Lumpur (Malaysia) dimana sebuah fansite asal Korea Selatan kedapatan membawa kamera profesional berukuran besar jenis kamera DSLR mirrorless dengan lensa telephoto yang menurut aturan konser di banyak negara Asia Tenggara tidak diperbolehkan. Umumnya, penonton hanya diizinkan mengambil gambar menggunakan kamera ponsel. Beberapa pengguna X kemudian mengingatkan agar hasil jepretan dari kamera fansite tersebut di take down karena dianggap melanggar aturan dan bersifat ilegal. Alih-alih menerima teguran tersebut, akun fansite yang bersangkutan justru menunjukkan respons defensif. Situasi semakin memanas ketika muncul komentar-komentar kasar yang merendahkan dilontarkan ke Asia Tenggara yang awalnya ditujukan pada Malaysia dengan menyebut kawasan ini sebagai negara "miskin dan tertinggal.” Saya melihat tindakan gegabah K-Netz justru memperkeruh suasana.

Dalam sebuah cuitan berbahasa Inggris di X, akun K-Netz justru membalas komentar netizen Asia Tenggara menggunakan huruf Hangul. Pilihan bahasa ini memicu beragam interpretasi di kalangan pengguna, terutama karena dilakukan dalam ruang diskusi yang sejak awal ditujukan untuk audiens internasional. Banyak yang mempertanyakan sikap negara maju yang dinilai kurang terbuka dalam percakapan global menggunakan bahasa Inggis. Dari titik inilah, konflik kecil berbasis fandom bertransformasi menjadi perang opini regional di medsos.

Propaganda Digital: Bagaimana Cuitan Bisa Memicu Konflik Digital

Di era sekarang, konflik tidak memerlukan pidato panjang atau pernyataan resmi, cukup satu dua cuitan di X, lalu sisanya dikerjakan oleh algoritma. Komentar bernada merendahkan yang awalnya cuma respons defensif, berubah jadi pemicu kemarahan kolektif.

Menurut saya, di sinilah propaganda digital bekerja paling efektif. Platform cenderung mengamplifikasi konten dengan interaksi tinggi bukan konten yang paling akurat. Akibatnya, cuitan yang provokatif lebih cepat tersebar dibanding yang menguraikan fakta. Dalam kasus SEAblings, satu cuitan yang menghina Asia Tenggara berkembang menjadi simbol ketidakadilan yang dirasakan bersama, lalu direproduksi ulang dan dibagikan dalam bentuk meme, balasan menghina, hingga tagar yang trending semakin memperkuat narasi konflik.

Masalahnya, media sosial sering membuat kita lupa bahwa yang kita hadapi adalah individu, bukan perwakilan dari seluruh bangsa. Satu akun bisa dengan mudah dianggap sebagai perwakilan atau cerminan "orang Korea", sementara balasan sebagai respon dibaca sebagai suara dari "Asia Tenggara". Dari situ konflik digital makin melebar dan makin sulit dikendalikan. Hal seperti ini menjadi pengingat bahwa di ruang digital, propaganda tidak selalu datang dalam bentuk kampanye besar, kadang ia dapat hadir sesederhana satu cuitan kecil, tapi dampaknya bisa menyalakan konflik lintas komunitas negara.

Efek Bandwagon di Konflik Digital SEAblings dengan Korsel

Dalam riuhnya isu SEAblings, tidak semua warganet ikut bersuara karena paham konteks, kebanyakan terdorong berkomentar semata-mata karena isu tersebut sedang viral. Ketika sebuah tagar muncul berulang kali di linimasa tekanan untuk ikut bereaksi menjadi semakin kuat atau istilah gaulnya FOMO (Fear of Missing Out) yang berarti posisi seseorang dalam konflik sering kali dibentuk oleh dorongan rasa takut tertinggal.

Efek ikut-ikutan ini pada bahasa akademisnya disebut Bandwagon Effect, yang membuat konflik digital berkembang jauh lebih cepat dari substansi aslinya. Cuitan, meme, atau potongan tangkapan layar (screenshot) dibagikan ulang tanpa verifikasi, sekadar untuk menunjukkan keberpihakan yang malah menjadikan narasi tertentu menguat bukan karena paling akurat tetapi karena paling sering muncul di beranda. Konflik SEAblings dan Korsel termasuk kedalam efek bandwagon karena membuat perdebatan meluas dari satu insiden menjadi isu regional, sekaligus menunjukkan bagaimana media sosial mampu membentuk opini publik secara kolektif hanya melalui rasa kebersamaan yang semu.

Penutup

Peristiwa SEAblings dengan Korea Selatan memperlihatkan betapa cepatnya konflik digital terbentuk di media sosial dan sering kali dipicu oleh emosi dan dorongan untuk ikut meramaikan. Kalimat candaan berlebih dan respons singkat dapat membentuk persepsi publik tanpa proses berpikir yang utuh. Karena itulah saya merasa sikap kritis menjadi kunci agar ruang digital tidak terus memelihara konflik, melainkan mendorong percakapan yang lebih sehat tanpa kebencian terhadap satu sama lain.