Perebutan Chip Memori, Bagaimana Boom AI Mendorong Harga Smartphone Global?

Saya seorang mahasiswa jurusan sistem informasi di Universitas Pamulang yang suka menulis jurnal dan membaca buku.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Anggun Salsabila Ahnafatha Ferri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Industri smartphone global saat ini menghadapi tekanan dari melonjaknya harga komponen, terutama chip memori RAM dan penyimpanan (NAND), di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Dampak nyata AI itu bisa ditelusuri lewat kondisi pasar HP global belakangan. Laporan terbaru dari dua firma riset ternama, Counterpoint Research dan IDC, kompak menyebut bahwa pangsa pasar HP global pada periode kuartal I (Q1) 2026 (Januari-Maret) turun.
Mekanisme Sebenarnya: Bukan AI di Dalam HP, tapi Perebutan Chip
Seiring dengan kemajuan AI dan meningkatnya permintaan akan daya komputasi, perusahaan-perusahaan seperti OpenAI, Google, dan Meta sedang membangun infrastruktur yang lebih besar, yang membutuhkan GPU.
Agar model AI dapat berfungsi dan dilatih, terdapat permintaan besar akan GPU, dan komponen kunci dari GPU ini adalah memori dengan bandwidth tinggi. Produsen seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron kemudian mengurangi produksi RAM kelas konsumen untuk memenuhi permintaan chip AI tersebut, karena marginnya lebih menguntungkan.
Menurut laporan Counterpoint Research bertajuk 'Memory Solutions for GenAI', harga RAM diprediksi masih akan naik hingga 40% sampai kuartal kedua 2026. Kenaikan biaya komponen di segmen menengah dan atas telah mencapai 10% hingga 15%, sementara total biaya Bill of Materials (BoM) diperkirakan melonjak antara 8% hingga lebih dari 15%.
Siapa yang Paling Terpukul?
IDC Indonesia Vanessa Aurelia mengatakan harga smartphone diperkirakan makin tinggi ke depan, terutama karena perangkat dengan harga di bawah US$200 tidak memiliki pilihan selain menaikkan harga. Karena pasokan dan produksi memori kelas bawah seperti DDR4 yang masih digunakan pada banyak smartphone entry-level terus dikurangi. Sementara itu, peralihan ke DDR5 belum terjadi secara masif. Bahkan pada DDR5, pemasok lebih memprioritaskan kebutuhan hyperscale dan AI.
Analisis IDC memperkirakan harga yang lebih tinggi menyebabkan siklus penggantian perangkat menjadi lebih panjang, di mana konsumen akan menggunakan smartphone mereka lebih lama dibandingkan biasanya.
Dampaknya pun tidak berhenti di smartphone. Segmen PC konsumen disebut menghadapi tekanan lebih besar, dengan beberapa produsen mempertimbangkan kenaikan harga belasan persen, dan konsol gim serta TV yang bergantung pada DRAM dan NAND juga diperkirakan ikut menyesuaikan harga
Lalu Kapan Ini Berakhir?
IDC memperkirakan kesenjangan antara pasokan dan permintaan akan makin parah sehingga menyebabkan kekurangan pasokan dan harga yang lebih tinggi pada paruh pertama 2026.
Kondisi ini kemungkinan mulai mereda pada paruh kedua tahun tersebut, namun harga diperkirakan tetap tinggi setidaknya hingga awal 2027.
