Konten dari Pengguna

Gelar Potensi Berbasis Budaya Lokal: Menguatkan Branding Desa Melalui Kesenian

Anhar Widodo

Anhar Widodo

Penulis, Public Speaker, Freelance Copywriter, ASN di ISI Solo, Pembina LPM Intuisi, Pengurus MD Kahmi Kota Surakarta.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anhar Widodo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di banyak desa wisata, potensi alam dan kuliner sering menjadi fokus utama dalam membangun identitas. Namun, ada satu aspek yang kerap terlewatkan padahal sangat kuat daya ceritanya, yakni kesenian lokal. Kesenian mampu menghadirkan identitas secara lebih menarik, mudah diingat, dan punya kedekatan emosional dengan masyarakatnya sendiri. Karena itu, penguatan branding desa wisata berbasis kesenian menjadi salah satu pendekatan yang sangat relevan.

Hal ini terlihat di Desa Banyuanyar, Kabupaten Boyolali. Desa ini sejak lama memiliki dua potensi kuat yang sangat melekat dalam kehidupan warganya: perkebunan kopi dan peternakan sapi perah. Dua aktivitas ini bukan hanya menjadi sumber mata pencaharian, tetapi juga membentuk "ritme" keseharian dan budaya kerja masyarakat. Kesadaran bahwa potensi lokal tersebut dapat diolah menjadi kekuatan seni yang khas kemudian menjadi titik awal upaya pengembangan branding desa wisata melalui pendekatan budaya.

Anak-anak sedang berlatih Tari Bregodo Lembu Banyuanyar, yang terinspirasi dari keseharian para peternak sapi perah.( Foto: dok. Tim)
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak sedang berlatih Tari Bregodo Lembu Banyuanyar, yang terinspirasi dari keseharian para peternak sapi perah.( Foto: dok. Tim)

Kesempatan untuk mengembangkan potensi itu datang melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025 yang diinisiasi oleh Direktorat Penitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Melalui program ini, tim dari ISI Solo yang terdiri dari Prajanata Bagiananda Mulia, M.Sn., sebagai ketua, serta Endang Purwasari, M.A., Priaji Iman Prakoso, M.Sn., dan Nandhang Wisnu Pamenang, M.Sn. sebagai anggota menginisiasi pendampingan untuk merumuskan upaya branding berbasis budaya lokal di Banyuanyar. Tim ini kemudian menawarkan program bertajuk “Gelar Potensi Seni Berbasis Budaya Lokal” sebagai langkah konkret untuk menjadikan kesenian sebagai wajah baru desa wisata.

Tari kedua adalah tari Kopi Barendo, yang menggambarkan semangat para pemetik kopi di Banyuanyar. Gerakannya terinspirasi dari aktivitas panen kopi, mengalir dinamis dan menggambarkan kebersamaan warga. (Foto: dok. Tim)

Dari hasil observasi lapangan dan diskusi bersama warga serta perangkat desa terkait, tim mendorong dua karya tari yang diambil langsung dari aktivitas masyarakat sehari-hari. Tari pertama adalah tari Bregodo Lembu Banyuanyar, yang terinspirasi dari keseharian para peternak sapi perah. Gerakan tarinya mengekspresikan ketekunan, kedisiplinan, serta kerja sama yang selama ini menjadi kekuatan para peternak. Tari kedua adalah tari Kopi Barendo, yang menggambarkan semangat para pemetik kopi di Banyuanyar. Gerakannya terinspirasi dari aktivitas panen kopi, mengalir dinamis dan menggambarkan kebersamaan warga.

Kepala Desa Banyuanyar, Komarudin, ST., menyambut baik inisiatif ini dan melihatnya sebagai peluang untuk memperkuat citra desa wisata. “Selama ini Banyuanyar baru dikenal sebagai desa susu dan kopi. Tapi lewat seni, dua potensi itu bisa menjadi cerita lain yang menarik dan mudah dikenali wisatawan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa warga ikut merasa bangga karena kesenian yang dikembangkan bukan sesuatu yang dibuat-buat, melainkan lahir dari realitas hidup mereka sendiri. “Warga merasa terwakili. Mereka melihat diri mereka tampil di panggung, dan itu membuat mereka lebih terlibat,” lanjutnya.

Anak-anak muda Banyuanyar sedang berlatih intensif untuk persiapan pentas "Banyuanyar Menari” pada 14 Desember 2025 di Desa Wisata Kampus Kopi (Kampung Susu dan Kopi), Banyuanyar, Boyolali. (Foto: dok. Tim)

Ketua Tim pendampingan, Prajanata Bagiananda Mulia, M.Sn., juga menegaskan bahwa branding desa wisata harus berangkat dari kehidupan lokal yang otentik. “Setiap desa punya potensi unik. Kalau potensi itu diterjemahkan ke dalam seni, identitasnya akan jauh lebih kuat,” jelasnya. Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya menghasilkan karya seni baru, tetapi juga menguatkan rasa kepemilikan masyarakat terhadap desa wisata yang sedang dibangun.

Sebagai puncak pendampingan, dua tari tersebut akan dipentaskan dalam acara “Banyuanyar Menari” pada 14 Desember 2025 di Desa Wisata Kampus Kopi (Kampung Susu dan Kopi), Banyuanyar, Boyolali. Acara ini tidak hanya menampilkan karya seni tari, tetapi juga menjadi momentum peluncuran motif batik khas Banyuanyar serta pembukaan spot wisata baru yang dirancang bersama masyarakat. Melalui acara ini, desa ingin menunjukkan bagaimana seni, budaya, dan potensi ekonomi lokal dapat berpadu dalam satu ruang perayaan.

Pengalaman Banyuanyar menunjukkan bahwa pendekatan seperti ini sangat mungkin diterapkan di desa wisata lain. Selama potensi lokal digali secara serius dan diwujudkan dalam karya seni yang lahir dari kehidupan masyarakat, branding desa wisata akan semakin kuat, berkarakter, dan berkelanjutan. Pendekatan ini bukan sekadar membuat tontonan, tetapi menghidupkan kembali narasi budaya yang sudah lama menjadi bagian dari identitas desa. []