Konten dari Pengguna

Digitalisasi dan Nasib Pasar Tradisional

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari anis fahdina sa'ida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Studi Kasus Sepinya Pasar Ular Koja di Tengah Gelombang E-Commerce

Sumber : Dokumentasi Pribadi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Dokumentasi Pribadi Penulis

Pada era serba digital, digitalisasi telah berdampingan dengan kehidupan masyarakat modern. Di satu sisi ia membawa kemudahan, efisiensi, dan keterjangkauan, namun di sisi lain juga menyisakan dampak yang meresahkan, terutama bagi pelaku usaha tradisional seperti para pedagang di Pasar Ular, Koja - Jakarta Utara. Pasar yang dahulu dikenal sebagai sentra pakaian impor berkualitas kini menghadapi realitas pahit dengan sepinya pengunjung, omzet menurun drastis, dan lebih dari separuh kios harus gulung tikar.

Fenomena ini menjadi potret nyata bagaimana pergeseran medium komunikasi dan transaksi yang dimana mengubah struktur sosial dan ekonomi masyarakat. Pasar Ular bukan hanya kehilangan pembeli, tetapi juga kehilangan fungsi sosial sebagai ruang interaksi antarmanusia yang selama ini menjadi ciri khas pasar tradisional.

Berdasarkan hasil wawancara lapangan oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi UTA'45 Jakarta, para pedagang menyampaikan keluh kesah mereka tentang kondisi pasar yang kian terpinggirkan. Bapak Jahid seorang pedagang lama di Pasar Ular, menuturkan bahwa kehadiran toko online dengan sistem COD (Cash On Delivery) menjadi salah satu penyebab utama menurunnya minat belanja langsung ke pasar.

“Orang sekarang maunya praktis, tinggal pilih di HP, barang sampai di rumah. Nggak perlu keluar panas-panasan ke pasar,” ungkapnya.

Memiliki pendapat yang sama, Bang Mulyono seorang juru parkir di pasar tersebut, menyatakan bahwa perubahan drastis mulai terasa dalam beberapa tahun terakhir. Meski masih ada pembeli yang datang mencari barang berkualitas dan bisa ditawar, namun jumlahnya jauh dari masa kejayaan Pasar Ular.

Menurut Dr. Dina Rizkina, M.I.Kom., dosen komunikasi bisnis di Universitas Mercu Buana, dalam seminar nasional bertajuk “Transformasi Digital dan UMKM” yang diselenggarakan Universitas Esa Unggul pada 2023 lalu, ia menyatakan:

“Digitalisasi seharusnya membuka peluang lebih luas bagi pelaku usaha tradisional, tapi faktanya justru menciptakan kesenjangan baru bagi mereka yang belum siap secara literasi digital dan infrastruktur.”

Pernyataan ini menunjukkan bahwa digitalisasi bukan hanya soal teknologi, melainkan soal akses yang adil terhadap teknologi tersebut. Banyak pedagang pasar tradisional seperti di Pasar Ular, yang belum memiliki keterampilan atau perangkat yang memadai untuk ikut serta dalam ekosistem digital. Akibatnya, mereka terpinggirkan oleh arus perubahan yang terlalu cepat dan minim pendampingan.

Sumber : Dokumentasi Pribadi Penulis

Dalam teori filsafat komunikasi, Marshall McLuhan mengatakan “the medium is the message.” yang artinya cara kita berkomunikasi dalam hal media transaksi bukan hanya soal saluran untuk menyampaikan pesan, melainkan juga membentuk perilaku, struktur sosial, bahkan cara manusia memahami dunia.

Pergeseran dari komunikasi langsung (tatap muka di pasar) ke komunikasi digital (lewat aplikasi dan e-commerce) menciptakan realitas baru yang impersonal. Interaksi antara pembeli dan penjual yang dulu penuh dialog, tawar-menawar, bahkan nilai kekeluargaan, kini digantikan oleh klik, rating, dan ulasan produk.

Transformasi ini menunjukkan bahwa digitalisasi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal perubahan relasi sosial. Manusia beralih dari hubungan yang personal dan hangat ke komunikasi yang transaksional dan cepat. Dalam konteks ini, Pasar Ular menjadi simbol dari krisis eksistensial pasar tradisional di era digital.

Meski menghadapi tekanan hebat dari digitalisasi, etika komunikasi tetap dijunjung oleh para pelaku pasar. Pewawancara dalam video dokumenter memperlihatkan cara komunikasi yang etis, penuh empati, dan menghargai narasumber. Tidak ada narasi menyalahkan e-commerce secara frontal, melainkan pengungkapan realitas yang jujur dan objektif.

Etika komunikasi ini penting, terutama ketika membahas konflik antara dua sistem yang berbeda yaitu tradisional dan digital. Menghindari provokasi, tidak menstigmatisasi pelaku usaha online, serta memberi ruang pada narasi kemanusiaan dari para pedagang pasar, menjadi contoh praktik komunikasi etis yang membangun kesadaran sosial.

Kasus Pasar Ular mengajarkan kita bahwa digitalisasi adalah proses kompleks yang tak hanya melibatkan teknologi, tetapi juga menyangkut nilai, etika, dan struktur sosial. Melalui pendekatan etis dan refleksi filosofis, kita bisa melihat bahwa tantangan ini bukan sekadar soal omzet atau pengunjung, tetapi juga tentang bagaimana kita sebagai masyarakat mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan di tengah dunia yang makin terdigitalisasi.

Pasar Ular mungkin sepi, tapi suaranya tetap menggema sebagai pengingat bahwa dalam setiap kemajuan teknologi, perlu ada ruang bagi keadilan, empati, dan komunikasi manusiawi.