Konten dari Pengguna

Hantavirus vs COVID-19 Serupa tapi Tak Sama

Anis Oktavia

Anis Oktavia

Dokter Hewan Praktek dokter hewan mandiri drh Anis Oktavia

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anis Oktavia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

generate by Gemini diterjemahkan dari laman CDC
zoom-in-whitePerbesar
generate by Gemini diterjemahkan dari laman CDC

Pada 4 Mei 2026 WHO mengkonfirmasi adanya kasus hantavirus yang teridentifikasi pada beberapa orang penumpang Kapal Cruise Dutch-flagged Kapal MV Hondius yang berlayar di Argentina. Pada tanggal 2 Mei terdapat penumpang yang meninggal karena penyakit serius dalam kapal tersebut, kemudian hasil uji Laboratorium mengkonfirmasi penyebabnya Hantavirus.

Hantavirus merupakan genus Orthohantavirus, family Hantaviridae, order Bunyavirales. Virus ini pertama kali ditemukan pada 1978 di sungai Han Korea. Virus ini telah menyerang ribuan tentara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada masa Perang Korea (1950–1953) dan sebelumnya dikenal sebagai demam berdarah Korea. Jadi Hantavirus bukan merupakan virus baru.

yang disebabkan oleh virus ini di antaranya pulmonary syndrome (HPS) dan hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS).Virus Hanta bersifat zoonosis (dapat ditularkan oleh hewan ke manusia). Hewan penularnya adalah tikus atau mencit yang berkontak langsung dengan manusia melalui urin, kotoran dan air liur dapat pula menular melalui gigitan atau cakaran hewan pembawa tersebut (namun kasus ini sangat jarang).

Tipe Hantavirus yang dapat menular antar manusia adalah Andes Virus. Kasus penularan hantavirus pada umumnya terjadi pedesaan, seperti hutan, ladang, dan pertanian, di mana terdapat hewan pengerat, dan peluang terpapar lebih besar.

Gejala awal yang muncul bersifat sangat umum seperti Kelelahan, Demam,Nyeri otot, terutama pada kelompok otot besar seperti paha, pinggul, punggung, dan terkadang bahu. Pada pasien yang terkonfirmasi HPS gejala yang muncul Sakit kepala, Pusing, Menggigil, Masalah perut, seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut. Empat hingga sepuluh hari setelah fase awal penyakit, gejala lanjut HPS muncul. Gejala-gejala ini meliputi batuk dan sesak napas. Pasien mungkin mengalami sesak dada karena paru-paru terisi cairan.HPS bisa mematikan. Tiga puluh delapan persen orang yang mengalami gejala pernapasan dapat meninggal karena penyakit ini.

HFRS adalah jenis hanta virus yang menyerang ginjal, menyebabkan penyakit parah dan terkadang mematikan. Sedangkan gejala HFRS biasanya berkembang dalam 1 hingga 2 minggu setelah terpapar. Dalam kasus yang jarang terjadi, gejala dapat berkembang hingga 8 minggu. Gejala awal muncul tiba-tiba dan meliputi: Sakit kepala hebat, Nyeri punggung dan perut, Demam/menggigil, Mual , Penglihatan kabur, Penderita mungkin mengalami kemerahan pada wajah, peradangan atau kemerahan pada mata, atau ruam. Gejala selanjutnya dapat meliputi:Tekanan darah rendah,Kekurangan aliran darah (syok akut), Perdarahan internal (kebocoran pembuluh darah), Gagal ginjal akut, yang dapat menyebabkan kelebihan cairan yang parah.

Tingkat keparahan penyakit bervariasi tergantung pada virus penyebab infeksi. Infeksi virus Hantaan dan Dobrava biasanya menyebabkan gejala parah di mana 5-15% kasus berakibat fatal. Sebaliknya, infeksi virus Seoul, Saaremaa, dan Puumala biasanya lebih ringan dengan kurang dari 1% meninggal akibat penyakit ini. Pemulihan total dapat memakan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan.

Infeksi hantavirus dikaitkan dengan angka kematian kasus sebesar <1–15% di Asia dan Eropa, dan hingga 50% di Amerika. Meskipun tidak ada pengobatan atau vaksin khusus untuk infeksi hantavirus, perawatan suportif dini dan rujukan segera ke fasilitas dengan ICU lengkap dapat meningkatkan angka kelangsungan hidup.

Update Hantavirus di Indonesia pada 12 mei 2026 terdapat 14 kasus hantavirus yang dikonfirmasi oleh Kemenkes dengan status terkendali.

Pencegahan Hantavirus

Trauma akan wabah Pandemi Covid membuat harus lebih waspada. Beberapa upaya yang dapat kita lakukan misalnya menghilangkan atau minimalkan kontak dengan hewan pengerat di rumah, tempat kerja, atau tempat berkemah Anda untuk mengurangi risiko terpapar hantavirus. Tutup lubang dan celah di rumah atau garasi Anda untuk mencegah hewan pengerat masuk ke ruang-ruang tersebut. Pasang perangkap di dalam dan sekitar rumah Anda untuk mengurangi investasi hewan pengerat. Bersihkan makanan yang mudah dijangkau yang mungkin menarik hewan pengerat.

Walaupun virus ini mematikan namun penyebaranya tidak sesporadis SarsCov, namun bukan berarti kita lengah. Sejatinya kita hidup bersama dengan banyak microorganisme lain. Jadi tetap menjaga diri dengan menjaga hygien dan tidak perlu panik.