Konten dari Pengguna

Hidup Dalam Kebhinnekaan; Sebuah Renungan Sudirman Said

Anisa Nofi

Anisa Nofi

Menyukai Sepak Bola

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anisa Nofi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hidup Dalam Kebhinnekaan; Sebuah Renungan Sudirman Said
zoom-in-whitePerbesar

"Kebhinekaan hakiki adalah hidup dan bekerjasama dengan aneka warna manusia. Jangan khutbah bhinneka kalau hanya nyaman dikelilingi sesama". (Sudirman Said)

Apa yang mempersatukan Indonesia? Jika melihat pada kebangsaan kita, kita adalah bangsa yang majemuk. Negara yang luasnya membentang dari Sabang sampai Merauke menunjukkan bahwa kita memiliki latar belakang yang sangat beragam. Keanekaragaman itu berupa etnis, bahasa, kebudayaan, agama dan lainnya.

Keanekaragaman ini tentu sesuatu yang luar biasa. Sebab meskipun berbeda-beda, mereka bersedia menjadi saudara sebangsa dan setanah air. Kita menunjukkan aneka warna yang menyatu. Kebangsaan kita adalah pelangi. Kita menyaksikan keindahan yang berwarna-warni.

Apa yang mempersatukan kita? Soekarno menyebutnya adalah ‘perasaan senasib sependeritaan’ di bawah penjajahan. Itulah yang membuat kita memiliki persaudaraan yang erat di bawah negera Indonesia. Kita bersama-sama mengalami nasib yang mirip di bawah penjajahan imperialisme Eropa yang rakus, tentu Belanda yang sangat lama.

Perasaan persaudaraan itu yang hingga kini melekat dan membuat kesatuan kita menjadi kuat. Para pendiri bangsa telah mengajarkan banyak hal kepada kita, generasi kini agar merawat dan menjaga persaudaraan kebangsaan ini. Salah satunya dengan menghargai aneka ragam perbedaan yang terjadi diantara kita. Perasaan-perasaan etnosentrisme dihindarkan agar persaudaraan terjaga.

Sudirman Said nampaknya belajar dari para tokoh-tokoh bangsa dan dari sejarah. Dia mengajak dan mengimbau kepada kita semua agar mau hidup dan bekerjasama dengan segala warna. Spirit yang diungkapkannya adalah spirit menjaga dan melestarikan persaudaraan. Hanya melalui cara itu, persaudaraan kita menjadi kuat.

Ada ungkapan ‘bhinneka tunggal ika’ yang berarti berbeda-beda tetap satu jua. Ini penegasan bahwa bangsa ini memang sangat majemuk. Tetapi diantara perbedaan-perbedaan itu, kita memiliki satu tujuan yang hendak dicapai bersama-sama. Ketika kita masih di bawah penjajahan, tujuan kita, dengan saling berpegangan erat dan bahu-bahu berperang melawan jajah, adalah untuk mengusir para penjajah di atas bumi pertiwi ini.

Selekas kemerdekaan direbut, maka tujuan-tujuan berikutnya adalah bergotong royong membangun dan menata negara agar ia benar-benar menjadi alat atau pelayan bagi kesejahteraan rakyat. Kata kesejahteraan bersama adalah kata kunci dan alasan mengapa kita mesti berjuang bersama dan saling bahu-membahu.

Kita adalah Indonesia. Dan kita majemuk. Dan karena kemajemukan itu, hal yang harus diperkuat untuk mengikatnya adalah rasa persaudaraan. Wujud dari persaudaraan itu digambarkan salah satunya oleh Sudirman Said dengan kesediaan untuk “hidup dan bekerjasama dengan aneka warna manusia” Indonesia. Sebagai Jawa, kita tidak jadi enggan untuk bergaul dengan Sunda, atau Madura, atau etnis lainnya. Sebagai muslim, kita tidak jadi risih untuk bergaul dengan Kristen, Hindhu, Budha dan Konghucu, dan seterusnya.

Dan Sudirman Said memberikan peringatan: “Jangan khutbah bhinneka kalau hanya nyaman dikelilingi sesama”.