Keresahan Sudirman Said, Keresahan Publik

Menyukai Sepak Bola
Tulisan dari Anisa Nofi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada kolom tempo 13 Agustus 2017, terbit tulisan Sudirman Said berjudul “Mengembalikan Harkat Politik dan Demokrasi Kita”. Di tulisan itu, Sudirman Said menyesalkan keadaan negara kita yang kian kehilangan martabatnya. Dua hal yang menjadi sorotannya. Pertama, perihal upaya pelemahan atas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang selama ini dianggapnya cukup berhasil menciduk pejabat-pejabat nakal yang bermain-main dengan korupsi.
Kedua, perihal pimpinan DPR yang tersangka korupsi tetapi masih memimpin rapat DPR yang terhormat dalam sidang mengenai undang-undang pemilu. Situasi ini menurut Sudirman Said adalah sesuatu yang memilukan. Ini kian berakibat pada merosotnya harkat negara ini di mata publik. Para penyelenggara negara yang tidak menunjukkan rasa malu dengan perilakunya yang tak terpuji, tersangka korupsi, kian menegaskan negara sedang disandera oleh orang-orang yang bertanggung jawab.
Sudirman Said juga mengutip catatan KPK per Mei 2017. Data itu menyebut bahwa tak kurang dari 643 petinggi dihukum karena mencuri uang rakyat. Ada 127 anggota DPR dan DPRD, 25 menteri an kepala lembaga non-kementerian, 17 gubernur, 60 bupati dan wali kota, 15 hakim, serta 145 pejabat eselon I, II, dan III, dan selebihnya pengusaha swasta. Angka-angka turut berbicara dan saya bertanya dengan ragu: bagaimana negara dapat menyejahterakan rakyatnya sementara banyak para penyelenggaranya berlomba-lomba korupsi?
Sejauh ini, Sudirman Said adalah salah seorang yang begitu konsisten dan ‘getol’ menyuarakan kebenaran. Ketika melihat keadaan kian sengkarut, korupsi dimana-mana, dia tidak diam. Dia menunjukkan dengan berani bahwa situasi ini, dimana para pejabat nakal kian tak peduli pada aturan, tidak boleh didiamkan. Suaranya terdengar dimana-mana. Bersuara atau tidak diam menyuarakan kebenaran merupakan satu hal perjuangan menegakkan kebenaran.
Ada ungkapan “Katakanlah yang haq (kebenaran) meskipun itu pahit”. Sejalan dengan ungkapan ini, dia berani berhadapan dengan apapun.
Sudirman Said selalu berbicara tentang pentingnya integritas, kejujuran dan ketulusan hati. Di berbagai forum pertemuan, dalam pertemuan yang informal, dia tdak pernah henti-hentinya menyuarakan kebenaran itu dengan cara yang berani.
Apakah Sudirman Said hanya berbicara tentang kebenaran tanpa berusaha menegakkan kebenaran? Tentu saja tidak. Dia tidak hanya berbicara. Ketika dia menjabat sebagai Menteri ESDM, kementerian yang menggoda dan menggiurkan manusia-manusia nakal, para mafia migas, Sudirman Said bertindak tegas. Dia berani menegur dengan berani siapapun pejabat yang mau bermain-main untuk menyenangkan kepentingan pribadi dari kekayaan yang dimiliki negara. Maka tentu saja, situasi ini tidak menyenangkan bagi para pejabat yang nakal yang mengambil banyak keuntungan dari caranya yang tidak baik. Sudirman Said baginya nampak sebagai serigala.
Tapi bagi rakyat, Sudirman Said justru dibutuhkan. Keresahannya mewakili keresahan publik yang memiliki hati nurani. Keresahannya mewakili keresahan orang-orang yang menginginkan negara ini benar-benar menjadi pelayan bagi kesejahteraan rakyat bukan segelintir oligarkis yang menumpuk kepentingan dan kesejahteraan diri.
Keberanian Sudirman Said adalah anugerah bagi rakyat. Orang-orang yang berani mengutuk kejahatan dan penyelenggara negara yang tak peduli pada kebaikan adalah sesejati-sejatinya pemimpin. Semakin sedikit orang yang berani melawan kejahatan sebab mereka ketakutan jabatan politiknya dilucuti. Dan itu tidak berlaku pada Sudirman Said.
Keberanian menimbulkan konsekuensi. Tapi keberanian menyuarakan kebenaran tak perlu memikirkan ketakutan daripada konsekuensi apa yang bakal mengikutinya.
