Menjadi Pemimpin itu Menderita; Renungan Sudirman Said atas Tokoh Bangsa Agus Salim

Menyukai Sepak Bola
Tulisan dari Anisa Nofi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Agus Salim adalah satu dari sekian pendahulu kita. Hidupnya dia abdikan untuk membela bangsanya dari cengkeraman penjajahan kolonial Belanda yang menindas. Salah satu perjuangannya yang kita kenal, Agus Salim pernah aktif di dalam organisasi Sarekat Islam di bawah pemerintahan HOS Tjokroaminoto. Ketika SI pecah kedalam SI Putih dan SI Merah, sebagai akibat manuver politik yang lebih radikal dari SI Semarang atau SI Merah, Agus Salim mengambil keberpihakan politik kepada SI Putih. Bersama Abdoel Moeis, dia berjuang bersama-sama HOS Tjokroaminoto.
Terlepas dari perpecahan itu, sebagai akibat perbedaan garis ideologi dan strata politik mereka di tubuh SI, Agus Salim dan juga kawan-kawannya berjuang untuk membebaskan bangsanya dari jerat penjajahan. Perjuangannya penuh ketulusan. Bagi Sudirman Said, politisi seperti dia patut menjadi contoh bagi generasi-generasi berikutnya. Sudirman Said menunjukkan kekagumannya kepada sosok ini.
Dalam beberapa catatan-catatannya (twitter, 14 Januari 2017), Sudirman mengutip beberapa ungkapan Agus Salim perihal menjadi pemimpin. Catatan-catatan itu ia ungkapan kedalam kalimat-kalimat sederhana dan tak panjang tapi penting dan menggugah.
Pertama, Sudirman Said menulis: “Agus Salim berkata: menjadi pemimpin adalah menderita. Akan tampak dalam perilaku, siapa yg terpanggil, siapa yang ingin dan berambisi”.
Kata kunci “menjadi pemimpin adalah menderita” ini adalah penegasan dan penjungkirbalikan atas fenomena kepemimpinan saat ini yang tampak mengedepankan kepentingan pribadi dalam merebut kekuasaan politik. Kata penting memimpin adalah menderita menunjukkan bahwa sudah seharusnya memimpin itu melayani. Dan karena tugasnya melayani, maka pemimpin rela berkorban untuk orang lain.
Dan pada akhirnya, menurut Sudirman Said, pemimpin yang benar-benar terpanggil untuk mengabdi ataupun yang sekedar ambisi pribadi akan terlihat. Antara yang sedia melayani rakyat atau sekedar kepentingan diri lama-lama akan tampak sendiri.
Kedua, Sudirman mengatakan bahwa setelah kita, sebagai rakyat, tahu mana yang sungguh-sungguh terpanggil untuk mengabdi dan sekedar ambisi, maka hanya kepada yang tulus mengabdi saja, kita sebagai rakyat boleh menghormatinya dan mendukungnya sepenuh hati.
Sebaliknya pada bagian ketiga, Sudirman mengingatkan hendaknya kepada yang sekedar berambisi menyenangkan hatinya seorang diri atau kelompoknya sendiri tanpa memikirkan kepentingan dan hajat hidup orang banyak, kita tak perlu menghormati. Bahkan kalimat tegasnya, dia bilang begini: “Kepada yang berambisi dan menyimpan hasrat mencuri, kita harus hadang dan halangi”.
Dan terakhir, keempat, Sudirman menegaskan bahwa kita semua hanya memerlukan pemimpin yang sungguh-sungguh bersedia dengan tulus berkorban bagi kepentingan publik. Jika tidak demikian, atau dengan kata lain sekedar hendak memuaskan ambisi, kepada pemimpin semacam itu, kita layak mengkritisi. Sikap tegas dan berani seperti ini memang harus. Kita tak perlu terus-menerus takut kepada pemimpin yang tidak mengabdi atau melayani. Pemimpin di era demokrasi tidak dipilih oleh kekuatan supranatural, magis atau sumber-sumber ilahiyah. Ada kesepakatan, ada kontrak antara rakyat dan pemimpin.
Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah pemimpin dengan perlawanan. Itulah salah satu ungkapan almarhum Pramoedya Ananta Toer.
