POLITIK ORANG-ORANG BAIK, SEBUAH MIMPI?; CATATAN SUDIRMAN SAID

Menyukai Sepak Bola
Tulisan dari Anisa Nofi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya ingin mengajak sebanyak mungkin warga negara yang sudah "mentas", memiliki pendidikan dan pengetahuan yang baik, serta memiliki kepedulian tinggi untuk masuk dalam politik (Sudirman Said).
Indahnya politik jika dihuni orang-orang yang baik dan berani memperjuangkan kebaikan. Daulatnya rakyat jika pemerintahan diisi oleh orang-orang yang bersedia menjadi pelayan. Indahnya kekuasaan jika itu sungguh-sungguh diisi orang-orang yang memiliki kepedulian dan pengabdian.
Mungkin mimpi-mimpi itu tinggal mimpi dan dongeng sebelum tidur. Ia menghiasi lembaran-lembaran buku cerita yang memikat khayalan tapi tak jua hadir di dalam kenyataan. Mungkin ia tak kan benar-benar ada sebagai sebuah wujud yang sepenuhnya. Tapi musisi the beattles, John Lennon menggelitik harapan kita untuk tak sedih sebab biar itu masih menjadi impian, ia adalah impian banyak orang; impian orang-orang yang merindukan kebaikan dan kemanusian. Dan mengalun-alun beberapa potong lagunya:
You may say I am a dreamer, but I am not the only one (Kamu bisa bilang aku hanyalah seorang pemimpi, tapi aku tak sendirian).
Dan diantara pemimpi kebaikan, terutama dalam politik, adalah Sudirman Said. Dia tidak hanya bernyanyi, melantunkan harapan lewat untaian kata-kata dan irama. Tapi dia bertindak melantukan harapan lewat tindakan-tindakan nyata. Jika John Lennon berani menggugah mimpi lewat nyayian, Sudirman menggugah mimpi lewat tindakan. Keduanya sama: mereka sama-sama adalah orang yang berani memimpikan sesuatu yang dianggap sulit bagi orang kebanyakan.
***
Apa yang diimpikan oleh Sudirman Said tak lain adalah kebaikan di dalam pentas politik. Kebaikan yang dimaksudkan dan diinginkan oleh Sudirman Said adalah kembalinya politik ke jalur yang benar sebagai pelayan bagi rakyat. Karena hanya dengan cara ini, rakyat benar-benar memperoleh kedaulatannya dan demokrasi sebagai sebuah harapan benar-benar memiliki daya gema sesungguhnya. Bukankah demokrasi adalah penggalan dari dua kata ‘demos’ (rakyat) dan ‘kratos’ (kekuasaan)? Suatu bentuk pemerintah yang menegaskan kekuasaan itu di tangan rakyat.
Bagaimana mengembalikan politik yang sudah terkooptasi oleh kepentingan segelintir orang? Sudirman Said menyarankan agar orang-orang baik turut bergabung dengan partai politik. Sejauh ini partai politik adalah kendaraan politik yang penting. Perannya sangat strategis: ia mengantarkan orang-orang menuju tampuk kekuasaan. Ia menjadi medan perebutan untuk saling menguasai. Tapi di situlah letak citrak buruk terjadi. Partai politik hanya berhenti sebagai kendaraan menuju kekuasaan. Kiprahnya seolah-olah berhenti di sana.
Persoalan sesungguhnya bukan karena hakikatnya partai politik itu buruk. Bukan itu. Jika membaca maksud dari Sudirman Said, soal dari citra buruk dari partai politik karena kendaraan itu dipenuhi orang-orang yang tidak memiliki kepedulian terhadap politik. Citra buruk partai politik dicoreng oleh segelintir orang yang hanya peduli pada kepentingan pribadi dan kelompoknya. Itulah letak persoalan sesungguhnya yang diperoleh oleh Sudirman Said.
Jika saat ini, kita menyaksikan bahwa citra parpol sudah sedemikian jauh dari harapan politik yang ideal, itu disebabkan karena parpol tersandera oleh kepentingan oligarki yang menggerogotinya. Maka tampilnya orang-orang yang baik adalah jalan yang bisa diharapkan untuk sedikit demi sedikit dapat memperbaiki keadaan ini. Kehadiran mereka yang sungguh-sungguh ingin berjuang bagi kepentingan rakyat bisa memulihkan keadaan, memperbaiki citra buruk dan pada akhirnya kualitas demokrasi bisa lebih baik. Rakyat bisa bernafas lebih lega. Aspirasi bisa lebih terdengarkan.
Apakah semudah itu? Tentu tak semudah itu, tapi tak ada yang tak mungkin. Kita sering memustahilkan harapan ideal hanya karena ia baru berupa harapan dan membenarkan kenyataan-kenyataan yang real hanya karena ia sedang terjadi di depan mata. Kita lupa atau mungkin dikecoh keadaan bahwa kenyataan tak dibentuk sepenuhnya bebas dari harapan. Harapan-harapan yang bebas berkeliaran dalam alam pikiran kita sesungguhnya bisa diwujudkan dalam kenyataan.
Seperti kembalinya politik sebagai pelayan rakyat, semula ia hanya sebuah mimpi dan selamanya hanya akan jadi mimpi kecuali orang-orang yang baik sungguh-sungguh berani untuk mengambil kesempatan terjun ke politik dengan komitmen yang kuat melayani rakyat bukan turut terlibat dalam permainan dan daya goda kekuasaan.
