Konten dari Pengguna

Sudirman Said; Kecermatan Mengamati & Kejeniusan Mengambil Solusi

Anisa Nofi

Anisa Nofi

Menyukai Sepak Bola

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anisa Nofi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sudirman Said; Kecermatan Mengamati & Kejeniusan Mengambil Solusi
zoom-in-whitePerbesar

Membaca tidak selalu dalam arti yang sempit, seturut dengan pikiran konensional: menelaah teks-teks berupa tulisan, serangkaian kata-kata yang bersambung-sambung sebagai kalimat, dalam lembar demi lembar buku. Membaca bukan sekedar itu. Dan teks tidak sekedar wujud tulisan. Lebih jauh melampaui pikiran konvensional, membaca adalah kejelian mengamati perubahan-perubahan kecil yang terjadi di dalam lingkungan kita. Membaca adalah kecermatan menelaah teks-teks yang hidup dalam laju gerak kehidupan. Membaca adalah juga menyangkut perkara meresapi dan mengambil pemahaman dari apapun yang ditangkap dari keadaan di luar kita, di sekeliling kita.

Kecermatan dan kejelian mengamati atau membaca dalam pengertian yang tak konvensional ini begitu penting. Setiap orang perlu memiliki kepekaan membaca keadaan ini. Pemikiran ini seturut dengan pikiran positivisme yang menganggap bahwa keadaan – entah keadaan alam atau keadaan sosial – memiliki pola-pola atau hukum-hukum keteraturannya sendiri. Ilmuwan positivis persis menangkap pesan ini: ia melakukan serangkaian riset untuk menemukan pola-pola itu.

Bagi calon pemimpin, kecermatan membaca keadaan mutlak sesuatu hal yang penting dilakukan. Perubahan-perubahan kecil yang berlangsung di sekitarnya sangat berarti untuk diketahui. Dia harus mampu membaca irama keadaan dan menemukan titik-titik penting dalam laju perubahan itu. Dia harus mengetahui apa sesungguhnya yang sedang terjadi dan menjadi persoalan masyarakat dan lingkungannya.

Kegunaannya apa? Bila seorang pemimpin memiliki kejelian mengamati persoalan lingkungannya, praktis dia memahami perihal penting apa yang terjadi. Selanjutnya pengetahuan itu dipaparkan, dikaji untuk menemukan solusi yang penting. Praktis kerja seorang pemimpin adalah kecermatan membaca keadaan, kejeniusan dalam mencari solusi persoalan, dan ketulusan mengambil tindakan perbaikan. Dengan begitu, kita bisa menyaksikan pemimpin yang ideal.

Sudirman Said adalah salah seorang yang dirindukan oleh masyarakat Jawa Tengah untuk menjadi pemimpin. Kerinduan itu dengan seizin Allah kemungkinan besar berlanjut menjadi kenyataan. Jika mengacu pada syarat yang perlu sebagaimana ditegaskan di atas (perihal kecermatan membaca keadaan), Sudirman Said seringkali menunjukkan itu. Suatu kali, Sudirman Said melihat kenyataan tentang petani bawang yang menurutnya berada dalam situasi ketidaksejahteraan. Identifikasi dan pembacaan yang jenius membawanya pada kesimpulan untuk melakukan tindakan berupa keberpihakan kepada petani. Serangkaian usaha untuk meningkatkan pendapatan petani dilakukan dengan memangkas berbagai hambatan-hambatan kecil berupa lapisan tengkulak yang menggerogoti penjualan bawang. Dia mendekatkan petani dengan pesar.

Dari aspek pengamatan itu. Sudirman Said juga menemukan tentang fakta kualitas bawang yang masih perlu ditingkatkan. Lalu dia mengupayakan strategi agar kualitas tanaman bawangnya kian baik. Dipikirkanlah langkah-langkah strategis bagaimana nanti untuk menghadirkan teknologi yang mendukung rencana tersebut. Dan seterusnya yang ia lakukan melalui serangkaian pengamatan. Kejelian dari pengamatan dan pembacaan itu dia kembangkan dengan tajam.

Kita menyaksikan sebuah proses intelektual. Kita menyaksikan kerja dari seorang yang berpengetahuan yang memiliki kepedulian sosial. Itulah yang sering dilakukan oleh Sudirman Said. Dia adalah pemimpin yang mengerti apa yang hendak dia pimpin. Dia mengerti persoalaan apa yang ditangkapnya dan rencana solusi macam apa yang hendak dihaturkannya.

Sudirman Said bilang bahwa kredibilitas seorang pemimpin salah satunya diukur dari kemampuanya apakah ia paham dengan apa yang hendak dia kerjakan.