Konten dari Pengguna

Tentang Sudirman Said dan Mengapa Politik Perlu Diperjuangkan?

Anisa Nofi

Anisa Nofi

Menyukai Sepak Bola

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anisa Nofi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tentang Sudirman Said dan Mengapa Politik Perlu Diperjuangkan?
zoom-in-whitePerbesar

Alangkah baiknya jika politik kita dipenuhi pribadi-pribadi yang memiliki idealisme tinggi. Karena dari sanalah etika dan moral dapat ditegakkan. (Sudirman Said)

Cerita tentang politik adalah cerita tentang kekuasaan, dan seringkali pengabaian atas hak-hak rakyat. Cerita itu mengalir begitu saja dan ditunjukkan melalui keadaan-keadaan yang nyata. Segala drama kekuasaan itu dicitrakan dengan buruk. Alhasil, cerita tentang politik menghadirkan kesuraman, tanpa harapan.

Tapi Sudirman Said tak bertolak dari cerita itu. Dia punya cerita lain yang lebih baik dan memberikan harapan. Dia menggambarkan politik tak sesuram yang dibayangkan orang kebanyakan meskipun ia mengakui yang dilihat orang kebanyakan juga merupakan kenyataan.

Bagaimana dia menggambarkan cerita politik dalam pandangannya?

Mula-mula, Sudirman Said menempatkan politik sebagai sesuatu yang penting. Politik adalah hulu dari seluruh sendi kehidupan bernegara (tribunnews.com, 9 Agustus 2017). Sebagai sendi kehidupan, kita hampir tidak mungkin lepas dari segala yang berkaitan dengan politik. Betapapun buruknya politik dalam pandangan kita, keputusan-keputusan politik menentukan harga segala kebutuhan bahan pokok kehidupan sehari-hari. Keputusan politik menentukan pendidikan kita. Keputusan politik menentukan bagaimana kebijakan hubungan kita sebagai sesama pemeluk agama. Keputusan politik menentukan berbagai regulasi penting yang mengatur kehidupan kita.

Dengan kata lain, Sudirman Said menegaskan bahwa kepentingan dan hajat hidup orang banyak ditentukan oleh keputusan atau proses politik (tribunnews.com, 9 Agustus 2017). Dan karena itu, naif sekali jika kita menjadi apatis atas politik hanya karena kita menganggap politik tidak lagi sesuatu yang baik, lantaran politik diberi label dan dicitrakan buruk. Kita boleh mencacinya tapi ada ungkapan yang bijak: “daripada mencaci kegelapan, sebaiknya nyalakan lilin”. Daripada mencaci (saja) politik yang ada, sebaiknya ambil tindakan nyata untuk mengambil kesempatan merubahnya.

Seorang dramawan asal Jerman, Bertolt Brecht, melukiskan seorang yang apatis terhadap politik, yang buta politik dan berkoar-koar menunjukkan kebenciannya kepada politik sebagai buta terburuk.

Katanya: “Orang yang buta politik, tak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, harga rumah, harga obat, semuanya bergantung kepada keputusan politik. Dia membanggakan sikap anti politiknya, membusungkan dada dan berkoar: "Aku benci politik!" Sungguh bodoh dia, yang tak mengetahui bahwa karena dia tak mau tahu politik, akibatnya pelacuran, anak terlantar, perampokan, dan yang terburuk, korupsi dan perusahaan multinasional yang menguras kekayaan negeri”.

Sudirman Said menyadari dengan apa yang disampaikan oleh dramawan Jerman itu. Dia tentu tak ingin politik yang dicitrakan buruk terus-menerus dikuasai oleh orang-orang yang selamanya hanya berpikir tentang kesempatan memperkaya diri. Dia ingin politik itu berpihak kepada rakyat dan karena itu mesti ada dan harus banyak orang-orang yang baik yang bersedia bertindak untuk kepentingan rakyat tampil merebut politik.

Siapa orang-orang yang baik diyakini oleh Sudirman Said sebagai penting untuk masuk politik?

Pertama, mereka yang memiliki pengetahuan dan pendidikan yang baik. Tanpa pengetahuan dan pendidikan yang baik, perubahan tak mungkin bisa dicapai. Itulah sebabnya, orang-orang yang mengenyam pendidikan, orang-orang sekolahan, orang-orang pinter, merekalah yang diharapkan oleh Sudirman Said mengisi pos-pos strategis di dalam politik. Pengetahuan mereka sangat penting untuk membantu kepentingan rakyat. Bukankah pengetahuan diorientasikan untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia?

Kedua, selain berpengetahuan, mereka haruslah memiliki kepedulian tinggi untuk masuk politik. Tentu saja makna kepedulian berpolitik haruslah dimengerti sebagai kesediaan untuk mengabdi. Politik adalah sebuah panggilan hati. Bukan panggilan perut. Politik hendaknya demi memenuhi harapan hajat hidup orang banyak, bukan hajat dan kepentingan diri pribadi. Dua syarat ini, berpengetahuan dan memiliki kepedulian dalam politik, itulah yang diperlukan dan dianggap penting oleh Sudirman Said.

Sudirman Said mengatakan: “Saya mengajak sebanyak mungkin concern citizens, bersama sama membangun dan menjernihkan hulu dari sendi-sendi kehidupan bernegara kita” (tribunnews, 8/8/2017).

***

Alasan penting mengapa Sudirman Said mendorong orang-orang yang baik untuk masuk ke politik tak lain, sekali lagi, untuk menjaga politik agar tidak dikelola oleh orang-orang yang buruk, orang-orang yang meminggirkan nilai-nilai luhur demi kepentingan transaksional pragmatis. Orang-orang yang terjun ke dalam politik yang hanya karena panggilan keuntungan pribadi, tidak akan mempedulikan kepentingan rakyat. Di tangan mereka, politik menjadi suram dan tak bisa diharapkan. Mereka tidak peduli dengan idealisme. Itulah kenapa, dulu Sudirman Said sering mengampanyekan: “jangan pilih politisi busuk”. (tribunnews.com).

“Dimana-mana”, tulis Pramoedya Anantar Toer dalam novelnya, Sekali Peristiwa di Banten Selatan, “aku selalu dengar: yang benar juga yang akhirnya yang menang. Itu benar; benar sekali. Tapi kapan? Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar”.

Demikian juga politik. Ia hanya bakal menjadi pelayan bagi rakyat sejauh diperjuangkan oleh orang-orang yang baik yang memiliki komitmen moral dalam politik dan peduli atas penderitaan rakyat. Sejauh itu tak diperjuangkan, mungkin benar, selamanya politik yang ideal hanya menghiasi cerita-cerita khayal.