Konten dari Pengguna

IPK Tinggi, Tapi Hati Tak Tenang: Kecemasan Mahasiswa di Balik Angka Prestasi

Anita Nurul Fajriyah

Anita Nurul Fajriyah

Mahasiswi Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anita Nurul Fajriyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber foto: Unsplash / Borja Verbena
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: Unsplash / Borja Verbena

Di tengah tuntutan akademik yang semakin kompetitif, banyak mahasiswa berlomba-lomba meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) setinggi mungkin. Namun di balik angka yang terlihat membanggakan, tak sedikit dari mereka justru menyimpan kecemasan tentang masa depan yang belum pasti.

IPK selama ini sering dianggap sebagai tolak ukur utama keberhasilan mahasiswa. Nilai yang tinggi sering kali dipersepsikan sebagai tiket untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih mudah. Namun realitanya, tidak semua mahasiswa dengan IPK tinggi merasa aman dengan masa depan mereka.

Kecemasan ini muncul dari berbagai arah. Salah satunya adalah ketatnya persaingan di dunia kerja yang tidak hanya menuntut nilai akademik, tetapi juga pengalaman, keterampilan, serta relasi. Banyak mahasiswa mulai menyadari bahwa IPK saja tidak cukup untuk menjawab tantangan tersebut.

Seorang mahasiswa semester akhir mengungkapkan kegelisahannya meski ia mempunyai IPK tinggi.

“Orang-orang lihatnya enak karena ipk ku tinggi. Tapi jujur, aku malah sering kepikiran, nanti setelah lulus aku bisa apa? Takut nggak cukup saing sama yang punya pengalaman, karena ipk juga ga sepenuh menjamin kita buat dapet pekerjaan yang bagus” ujarnya.

Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ekspektasi dan realitas. Sistem pendidikan yang selama ini menekankan capaian akademik terkadang belum sepenuhnya mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja yang dinamis.

Tekanan sosial juga turut memperburuk keadaan. Media sosial kerap menampilkan pencapaian orang lain mulai dari magang di perusahaan ternama hingga diterima kerja bahkan sebelum lulus. Hal ini memicu perasaan tertinggal, meskipun secara akademik seseorang sudah tergolong unggul.

Hal serupa dirasakan mahasiswa lain yang kini aktif mencari peluang pekerjaan.

“Setiap buka LinkedIn atau Instagram, rasanya semua orang seperti sudah punya arah bahkan pencapaian. Sementara aku masih bingung mau mulai dari mana, padahal IPK aku termasuk tinggi,” ujarnya.

Di sisi lain, kondisi ini juga berdampak pada kesehatan mental mahasiswa. Rasa cemas, overthinking, hingga kelelahan emosional menjadi hal yang semakin sering dirasakan. Tidak sedikit yang akhirnya merasa bahwa pencapaian akademik yang mereka raih belum cukup untuk membuat mereka benar-benar tenang.

Fenomena IPK tinggi namun disertai kecemasan menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak bisa diukur dari angka semata. Dunia diluar kampus menuntut lebih dari sekadar nilai, sekaligus membuka ruang refleksi bahwa setiap individu memiliki proses dan waktunya masing-masing. Alih-alih terjebak dalam perbandingan, mahasiswa perlu mulai melihat potensi diri secara lebih utuh, tidak hanya dari apa yang tercetak di transkrip nilai, tetapi juga dari kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi.