Konten dari Pengguna

Satu Ujian, Sejuta Harapan: Cerita di Balik Tekanan UTBK 2026

Anita Nurul Fajriyah

Anita Nurul Fajriyah

Mahasiswi Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anita Nurul Fajriyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Dok. Pribadi-Suasana peserta survei lokasi UTBK (2026)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Dok. Pribadi-Suasana peserta survei lokasi UTBK (2026)

Menjelang pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026, tekanan mental menjadi bagian yang tak terhindarkan dari perjuangan siswa untuk menggapai perguruan tinggi negeri (PTN). Ketatnya daya persaingan pendaftar dengan jumlah kuota yang tak seberapa, membuat satu kursi di PTN dapat diperebutkan oleh puluhan hingga ratusan ribu peserta.

UTBK 2026 merupakan bagian dari Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) yang akan berlangsung pada akhir bulan April hingga awal Mei yang digelar serentak di berbagai pusat ujian di seluruh Indonesia. Ujian ini kembali menjadi gerbang utama bagi siswa untuk menuju perguruan tinggi negeri (PTN).

Bagi ratusan ribu peserta, UTBK tidak hanya sekedar ujian biasa. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda beda dengan tujuan yang sama, yakni mendapatkan kursi di PTN yang mereka tuju.

Dengan kuota SNBT yang berkisar 30-40 persen dari total daya tampung PTN, sementara jumlah pendaftar mencapai ratusan ribu hingga jutaan peserta secara nasional. Ketimpangan ini memicu tingkat persaingan yang sangat ketat, terutama di beberapa program studi favorit. bahkan satu kursi bisa diperebutkan oleh ratusan peserta.

Tekanan tersebut dirasakan langsung oleh para peserta. Banyak siswa mengaku mengalami overthinking, sulit tidur, hingga rasa takut gagal.

Seorang siswa kelas 12 berinisial SM, mengatakan bahwa tekanan datang dari tingginya ekspektasi terhadap hasil UTBK.

“aku takut bukan karena aku gabisa, tapi takut gagal setelah belajar lama rasanya semua usaha aku selama ini kayak sia-sia,” ujarnya.

Tak sedikit siswa yang mencoba bertahan dengan cara belajar nya masing-masing, belajar mandiri hingga larut malam, mengikuti bimbingan belajar, atau sekedar mencari ketenangan lewat dukungan dari teman.

Namun dibalik itu semua, muncul suatu pertanyaan: apakah dengan satu kali ujian cukup adil untuk menentukan masa depan seseorang? Ketika akses pendidikan dan fasilitas belajar belum merata, tekanan yang dirasakan siswa pun menjadi tidak sepenuhnya setara.

UTBK 2026 bukan hanya soal angka dan nilai. Di dalamnya terdapat berbagai cerita perjuangan siswa tentang mimpi, kecemasan, dan harapan yang saling beriringan. Bagi para siswa, ini bukan hanya sekedar ujian melainkan titik yang dapat merubah arah hidup mereka.