Makna Kaleng Ramadhan dalam Perjamuan Khong Guan

Mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya
Tulisan dari Karina Dwi Anjarsari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menilik Ulasan Kaleng Ramadhan dalam Puisi Perjamuan Khong Guan
Mengusung tema klasik yang masih tetap ramai jadi misteri dan perbincangan, terlebih menjelang puasa di bulan Ramadhan penuh berkah. Kesan pertama (first impression) saya ketika melihat serta membaca Perjamuan Khong Guan ada di sampul (cover) buku yang didesain mirip kaleng biskuit khong guan. Namun, aktivitas makan di kaleng biskuit khong guan tergantikan oleh penulisan puisi. Masih dengan pertanyaan klasik, “Bapaknya dimana?” Namun, tenang saja karena Joko Pinurbo memberi penjelasan tentang makna apa yang dimaksud khong guan di dalam puisinya meski secara tersirat. Kemudian, kesulitan yang saya alami saat membaca buku ini lebih mengarah ke mentalitas maupun energi sebagai pembaca, karena seringkali rasa malas datang hanya menghambat proses membaca karya sastra genre puisi. Beruntunglah saya memiliki tips dan trik untuk menghilangkan kebiasaan buruk itu. Dalam buku Perjamuan Khong Guan kaleng pertama berisi puisi-puisi yang merespon keseharian manusia bahkan teralienasi dengan kehidupan akibat kerja, perkembangan zaman, dan teknologi digital. Sedangkan kaleng kedua serumpun dengan yang pertama. Kaleng kedua menggunakan analogi menyentil sekaligus dominan menggunakan majas personifikasi. Seperti terbahak, berdecak, bahkan malu karena terkena sindiran. Kaleng ketiga tentang Minnah si Kutu Buku. Siapakah dia? Sebenarnya Joko Pinurbo hanya memakai nama artis terkenal saja tanpa ada hubungan sedikitpun terhadap kisah nyata. Terakhir adalah kaleng keempat. Jika dicermati dari daftar isinya, kita sudah bisa menebak sebenarnya ke mana arah kumpulan puisi Joko Pinurbo tersebut. Untuk pola penulisan Perjamuan Khong Guan sendiri yaitu mengajak pembaca berjalan mengikuti alur hingga selesai.
Selanjutnya, saya akan membahas mengenai sampul (cover) yang digunakan pada buku kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan yang sangat kreatif, karena merupakan gambaran seperti kaleng khong guan aslinya. Buku tersebut juga menampilkan puisi-puisi yang mengkritik dan juga menggelitik. Buku kumpulan puisi tersebut dibagi menjadi empat bab yang ditulis unik, dengan perubahan judul seperti jajan atau makanan lebaran serta perubahan bab dengan kata “kaleng” seperti bentuk fisik khong guan yang asli. Kaleng pertama adalah gambaran awal yang mencoba untuk menceritakan sebuah peristiwa penting, kemudian dicampur dalam satu bab. Kaleng ini berisikan kritik di bidang politik yang selalu ricuh, keributan yang tidak ada ujung penyelesaiannya, kondisi keagamaan sekarang sudah membuat banyak manusia lupa terhadap keberadaan tuhannya. Kemudian, kaleng kedua lebih menyuguhkan tema percintaan maupun romantisme. Namun, tetap ada beberapa puisi yang berkaitan tentang kritik sosial. Kaleng ketiga memusatkan perhatian pada sosok perempuan bernama Minnah, entah dari mana asalnya tokoh ini. Di kaleng ketiga, semua judul mengandung unsur nama Minnah (Lahirnya Minnah, Rumah Minnah, Sekolah Minnah, Kepala Minnah, Bola Minnah, bahkan Minnah Minnah yang lainnya. Menelisik puisi “Rumah Minnah” sendiri digambarkan berdinding buku-buku sehingga rambut lurus Minnah terkadang berganti menjadi keriting karena membaca, tetapi ia sama sekali tidak keberatan melakukan hal itu. Baginya hidup seolah pustaka cinta yang tidak akan pernah habis untuk dibaca. Terakhir, kaleng keempat yaitu kaleng paling ditunggu serta dicari, selayaknya wafer yang menjadi primadona dari seluruh tampilan eksis sekaligus pesona biskuit. Pada kaleng ini, saya menemukan judul puisi yang sama dengan judul buku, yaitu "Perjamuan Khong Guan". Hal itu semakin menambah bukti bahwa kaleng empat adalah inti atau wafer yang dicari. Ditemukan juga penjelasan mengenai kemisteriusan maupun alasan mengapa sosok bapak tidak ada dalam sampul (cover) melalui diksi yang jelas. Banyak sekali pengulangan kata khong guan seolah membawa saya sebagai pembaca masuk ke berbagai makna di rangkaian cerita. Kata-kata satire (sindiran) juga sering terlontar dalam beberapa puisi miliknya, tetapi masih terkesan humor sehingga menambah ciri khas Joko Pinurbo sendiri.
