Cabo Verde, Vozinha, dan Kemenangan atas Keraguan

Pemerhati Politik dan Kebijakan Publik
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Teuku Parvinanda Handriawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menutup hari yang melelahkan setelah seharian memantau pergerakan SPMB SMA tahun 2026, pertandingan antara Spanyol melawan Cabo Verde menambah isi pikiran. Pasalnya pertandingan ini sudah diprediksi sebagai pertandingan gajah melawan semut. Dan benar saja, ketika pertandingan mulai berjalan lepas tengah malam waktu Indonesia, penguasaan bola dikuasai Spanyol. Nyaris mata ini tak mampu menahan kantuk.
Namun ternyata Spanyol hari itu tidak melawan semut biasa. Cabo Verde, salah satu wakil Afrika yang luas wilayahnya hampir sama dengan Kabupaten Sukabumi dan baru pertama kali menjejakkan kaki di Piala Dunia, mampu menahan gempuran juara dunia dan juara Eropa, Spanyol.
Sepanjang pertandingan, Spanyol tampil dominan. Penguasaan bola mencapai 74 persen. Mereka melepaskan 27 tembakan ke arah pertahanan Cabo Verde. Secara statistik, hasil pertandingan seharusnya mudah ditebak. Namun sepak bola, seperti kehidupan, sering kali tidak tunduk pada angka-angka.
Laga berakhir tanpa gol. Skor 0-0 terasa seperti kemenangan bagi Cabo Verde dan sekaligus pengingat bagi dunia bahwa tidak semua hal dapat diukur hanya dari peringkat, reputasi, atau sejarah.
Sebelum pertandingan, Cabo Verde berada di peringkat ke-67 FIFA. Jauh di bawah Spanyol yang merupakan salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia. Tetapi di lapangan, para pemain Cabo Verde menunjukkan sesuatu yang tidak tercantum dalam tabel peringkat: keberanian, disiplin, dan keyakinan bahwa mereka pantas berada di panggung terbesar sepak bola dunia.
Kisah Cabo Verde sendiri menarik untuk disimak. Negara kepulauan kecil di Samudra Atlantik itu memiliki luas wilayah hanya sekitar 4.000 kilometer persegi. Hampir setara dengan Kabupaten Sukabumi. Negara yang baru merdeka pada tahun 1975 tersebut bahkan usianya sekitar tiga dekade lebih muda dibanding Indonesia.
Di tengah keterbatasan sumber daya dan populasi yang kecil, Cabo Verde berhasil membangun stabilitas politik, ekonomi berbasis jasa dan pariwisata, serta perlahan mengembangkan sepak bolanya hingga akhirnya mencatat sejarah lolos ke Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya.
Mereka datang bukan sebagai favorit. Bahkan banyak yang memprediksi mereka hanya akan menjadi pelengkap grup yang dihuni Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi. Namun pertandingan pertama menunjukkan bahwa mereka datang bukan untuk sekadar hadir. Mereka datang untuk bersaing.
Di balik kokohnya pertahanan Cabo Verde malam itu, berdirilah seorang sosok yang mungkin menjadi simbol paling kuat dari kegigihan: Josimar Dias, atau yang lebih dikenal sebagai Vozinha.
Usianya sudah 40 tahun. Pada umur ketika sebagian besar pesepak bola sudah lama pensiun, ia justru menjalani debut di Piala Dunia. Tidak hanya sekadar tampil, tetapi menjadi pahlawan negaranya.
Tujuh penyelamatan berhasil ia lakukan sepanjang pertandingan. Sundulan Mikel Oyarzabal ditepis. Peluang emas Aymeric Laporte digagalkan. Tembakan Pedri dan Ferran Torres juga berhasil diamankan. Berkali-kali pemain Spanyol dibuat frustrasi oleh refleks dan ketenangan sang penjaga gawang.
Penampilannya diganjar gelar pemain terbaik pertandingan. Rating nyaris sempurna diberikan oleh berbagai platform statistik sepak bola. Dunia yang sebelumnya nyaris tidak mengenalnya tiba-tiba menaruh perhatian besar kepadanya. Dalam hitungan jam, jutaan orang mulai mengikuti akun media sosialnya.
Namun yang paling menarik bukanlah jumlah penyelamatan atau ledakan popularitas yang ia terima setelah pertandingan. Yang lebih menarik adalah perjalanan panjang yang membawanya sampai ke titik itu.
Vozinha baru memulai karier profesional pada usia sekitar 25 tahun. Jalannya tidak mulus. Ia berpindah dari satu klub ke klub lain, bermain di berbagai negara, jauh dari sorotan media dunia. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada kisah sensasional. Yang ada hanyalah ketekunan menjalani profesi selama hampir dua dekade.
Empat belas tahun memperkuat tim nasional Cabo Verde. Delapan puluh sembilan kali membela negaranya. Dan ketika kesempatan terbesar dalam hidupnya datang pada usia 40 tahun, ia siap menyambutnya.
Barangkali itulah pelajaran terbesar dari Cabo Verde dan Vozinha.
Di era yang serba cepat, kita sering terjebak pada ukuran-ukuran instan. Peringkat, gelar, popularitas, jumlah pengikut, atau pencapaian yang terlihat di permukaan. Kita lupa bahwa banyak kemenangan besar lahir dari proses panjang yang tidak terlihat.
Cabo Verde mengajarkan bahwa ukuran kecil bukan alasan untuk berpikir kecil. Bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bermimpi besar. Negara kecil yang bahkan baru pertama kali tampil di Piala Dunia mampu berdiri sejajar dengan salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia.
Sementara Vozinha mengingatkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk mencapai panggung tertinggi. Bahwa pengalaman, ketekunan, dan kesetiaan pada proses sering kali menghasilkan buah yang tidak terduga.
Malam itu saya memang sedang memikirkan hasil SPMB putri saya. Tentang persaingan, peluang, dan kecemasan yang kerap menyertai setiap proses seleksi. Namun tanpa diduga, pertandingan Spanyol melawan Cabo Verde memberikan perspektif yang berbeda.
Kadang-kadang hidup tidak ditentukan oleh seberapa besar kita di atas kertas. Tidak ditentukan oleh seberapa tinggi peringkat kita dibanding orang lain. Yang lebih menentukan adalah apakah kita tetap bertahan, terus berusaha, dan siap ketika kesempatan itu datang.
Cabo Verde dan Vozinha telah membuktikannya kepada dunia.
Dan mungkin, itu juga pelajaran yang perlu kita ingat dalam kehidupan sehari-hari.
