Konten dari Pengguna

Suara Krisis Iklim: Petani, Nelayan, dan Dampak Perubahan Iklim di Sekitar Kita

Anna Tasya Khoirunnisa

Anna Tasya Khoirunnisa

Mahasiswa S1 Sistetem Informasi

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anna Tasya Khoirunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo by Getty Images on Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Photo by Getty Images on Unsplash

Beberapa tahun terakhir, ada yang terasa berbeda di sekitar kita. Bukan hanya cuaca yang makin tak menentu, tapi juga suasana hati banyak orang yang ikut berubah. Kita mulai terbiasa dengan berita banjir di Jakarta, kebakaran hutan di Kalimantan, hingga gelombang panas yang melanda kota-kota besar. Padahal dulu, semua itu adalah peristiwa luar biasa. Sekarang, mereka datang seperti rutinitas musiman. Perubahan iklim bukan lagi isu jauh dari kehidupan kita. Ia sudah dekat, nyata, dan perlahan mengubah banyak hal tanpa kita sadari.

Saat Petani Tak Lagi Bisa Menebak Musim

Saya masih ingat, dulu musim hujan dan kemarau datang cukup teratur. Orang-orang desa tahu kapan waktunya menanam, kapan harus memanen. Tapi sekarang, semuanya terasa kacau. Petani bingung membaca alam. Hujan bisa turun tiba-tiba di tengah kemarau. Atau sebaliknya, kemarau berkepanjangan datang tanpa ujung. Pak Slamet, seorang petani di Jawa Tengah, pernah berkata, “Dulu kami bisa nebak musim dari bau angin. Sekarang cuaca seperti orang bingung.” Hasil panen menurun drastis. Bahkan, tak jarang gagal total. Ini bukan cuma soal ekonomi mereka, tapi soal rantai pasokan makanan kita semua.

Musim Kebakaran yang Jadi Tradisi Kelam

Setiap kemarau, kita seperti menunggu kabar buruk: hutan terbakar lagi. Di Sumatera dan Kalimantan, ribuan hektare hutan hangus dilahap api. Langit diselimuti asap. Udara tak layak dihirup. Sekolah diliburkan. Anak-anak jatuh sakit. Aktivitas lumpuh. Ironisnya, kita sudah seperti terbiasa. Padahal ini bukan hanya soal pembakaran lahan, tapi juga soal suhu yang terlalu tinggi, tanah yang terlalu kering, angin yang terlalu kencang. Alam menciptakan kondisi sempurna bagi api untuk menjalar cepat. Dan kita tetap abai.

Nelayan Bawa Pulang Utang

Laut pun berubah. Suhu air naik, terumbu karang memutih dan mati. Tempat berkembang biak ikan semakin hilang. Pak Junaedi, seorang nelayan di Sulawesi, mengeluh, “Dulu pulang melaut bawa banyak ikan. Sekarang bawa pulang utang.”

Hasil tangkapan menurun. Pendapatan berkurang. Desa-desa pesisir mulai terguncang. Belum lagi naiknya permukaan laut yang pelan-pelan menggerus daratan. Air asin menyusup ke sumur. Rumah warga tergenang perlahan-lahan. Dan ini semua nyata, bukan teori.

Krisis Iklim Juga Soal Kemanusiaan

Kita sering membahas perubahan iklim seolah cuma tentang lingkungan. Padahal, ini soal kemanusiaan. Yang paling dulu dan paling parah terkena dampaknya adalah mereka yang tinggal di pinggiran: petani, nelayan, warga di bantaran sungai, di pesisir, di pinggir hutan. Ketika banjir datang, mereka kehilangan rumah. Ketika gagal panen, mereka kehilangan penghasilan. Ketika udara memburuk, mereka tak punya akses ke layanan kesehatan yang layak. Krisis iklim memperlebar jurang ketimpangan sosial yang sudah ada sejak lama.

Kita Bisa Berbuat Sesuatu

Kita memang tak bisa menghentikan krisis ini sendirian. Tapi kita bisa memperlambatnya. Mulai dari hal sederhana: hemat listrik, kurangi plastik sekali pakai, tanam pohon, pilih transportasi umum. Kita juga bisa mendukung komunitas hijau, inovasi lokal, dan memilih pemimpin yang peduli pada keberlanjutan. Jangan biarkan pemerintah dan korporasi berpikir kita tak peduli. Suara kita penting. Diam justru membuat mereka merasa bebas mengabaikan.

Alam Sudah Berteriak, Akankah Kita Mendengar?

Ini bukan soal menyalahkan siapa. Ini soal mengakui bahwa kita semua punya peran. Alam sudah berteriak. Kita bisa mendengarnyaatau memilih menutup telinga. Tapi satu hal pasti: jika bumi ini rusak, kita tidak punya tempat lain untuk pergi. Maka selagi bisa, mari kita jaga rumah kita bersama.