Toxic Positivity untuk Difabel: Saat "Kamu Pasti Bisa!" Justru Menyakitkan

Mahasiswa Universitas Brawijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari ANNISA ARIANY PUTRI HARSONO tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalimat-kalimat seperti inilah yang secara tidak sengaja sering kita lontarkan kepada teman-teman difabel—dengan niat baik, tentu saja namun justru menyakitkan. Tapi pernahkah kita berpikir, apakah kata-kata tersebut membesarkan hati atau justru menambah beban yang tak terlihat? Dibalik kalimat-kalimat penuh semangat itu, tersembunyi apa yang disebut dengan toxic positivity: tekanan untuk terus kuat, terus optimis, meski dalam realitasnya terdapat tantangan yang tak bisa diselesaikan begitu saja hanya dengan kalimat "semangat ya" maupun "kamu pasti bisa!".
"Kamu luar biasa banget!"
"Walaupun kondisi kamu begitu, tapi kamu tetep semangat keren!"
"Keterbatasanmu kan bukan jadi halangan, kamu pasti bisa!"
Toxic positivity merupakan bentuk dukungan yang terlalu fokus pada sisi secara positif namun berlebihan hingga mengabaikan realita, rasa sakit, atau emosi yang valid. Bagi para penyandang disabilitas, ini muncul saat orang-orang terlalu mengagung-agungkan atau memuji "semangat hidup" mereka, tanpa benar-benar memahami beban sosial dan struktural yang mereka hadapi setiap hari.
Alih-alih merasa adanya dukungan, banyak teman-teman difabel justru merasa harus selalu kuat—seakan mereka tidak boleh mengeluh, tidak boleh terlihat lelah, tidak boleh pasrah dikarenakan orang-orang sudah menaruh ekspektasi terlalu tinggi pada hidup teman-teman difabel bahwa mereka pasti bisa menjalaninya.
Dalam suatu teori yang membahas disabilitas, teori super-crip model hadir menjelaskan bagaimana teman-teman difabel sering dipuji setinggi langit hanya karena mereka bisa menjalani kehidupan yang dianggap "normal". Contohnya? saat difabel yang pergi kuliah, bekerja, ataupun menikah dianggap luar biasa—padahal hal tersebut merupakan hal yang biasa bagi siapapun.
Namun dalam pujian itu juga ada jebakan: jika difabel dianggap "hebat"karena bisa menyesuaikan diri dengan standar orang non-difabel, maka yang dianggap gagal ialah teman-teman difabel yang tidak dapat memenuhi standar tersebut. Tidak semua difabel bisa, mau, atau perlu memenuhi standar ataupun ekspektasi "tangguh luar biasa". Dan hal tersebut bukanlah kegagalan—itu manusiawi.
Masyarakat kita masih jauh dari inklusif, banyaknya sekolah yang menolak siswa difabel karena "tidak siap", dunia kerja yang belum ramah terhadap difabel (lowongan terbatas), bahkan fasilitas umum yang hanya sekedar kata-kata. Dalam kondisi ini, menyuruh teman difabel untuk "terus semangat" namun tanpa memperjuangkan perubahan struktural ialah bentuk pengalihan tanggung jawab. Kita seperti berkata, "kalau kamu gagal itu, karena kamu tidak cukup kuat," bukan karena sistem diskiriminatif yang masih ada.
Dampaknya, difabel yang terus-menerus diposisikan sebagai "inspirasi" sering merasa tidak boleh terlihat lemah, harus selalu tampil positif, serta tidak bebas mengekspresikan rasa sedih atau frustasinya. Akhirnya mereka memendam tekanan emosional, merasa tidak boleh menjadi manusia biasa yang boleh lelah, boleh marah, maupun boleh gagal.
Daripada mengatakan "kamu pasti bisa" kita bisa bilang:
"Aku percaya kamu tahu apa yang terbaik buat kamu."
"Kalau kamu butuh ruang untuk marah, sedih, atau istirahat, itu nggak apa-apa banget kok."
"Gimana aku bisa bantu atau mendukung kamu hari ini?"
Dukungan tidak selalu harus bersifat heroik. Kadang yang paling inklusif ialah yang mendengarkan, memberi ruang, dan menghapus hambatan, bukan menyemangati tanpa memahami kebutuhan teman-teman difabel.
