Manusia Tak Bisa Hidup Sendiri: Penjelasan Ilmiah dan Al- Qur'an

Mahasiswi - UIN Syarif Hidayatullah Jakarta- Komunikasi dan Penyiaran Islam
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Annisa Rahma Lila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah merasa hidup ini terasa hampa tanpa kehadiran orang lain? Tenanglah, itu bukan suatu kelemahan. Faktanya, manusia memang didesain sebagai makhluk sosial yang tak bisa lepas dari interaksi dengan sesama.
Manusia dikenal sebagai makhluk sosial, sebuah istilah yang merujuk pada kebutuhan mendalam manusia dalam menjalani hidup dan berinteraksi dengan kelompok. Konsep ini memiliki dasar yang kuat dalam ilmu psikologi, sosiologi, dan bahkan terdapat penjelasannya dalam Al-Qur'an.
Mari kita kupas tuntas alasan mengapa manusia tidak bisa hidup sendiri dan bagaimana pandangan ilmu pengetahuan serta agama bisa saling melengkapi.
Perspektif Psikologi: Kebutuhan Interaksi Sosial
Dalam psikologi, manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain bahkan dijelaskan melalui teori-teori dasar mengenai motivasi dan perkembangan. Salah satu teori yang paling dikenal adalah Teori Kebutuhan Maslow, yang dikemukakan oleh Abraham Maslow dalam bukunya "Motivation and Personality". Maslow menyatakan bahwa manusia memiliki kebutuhan hirarki,dimulai dari kebutuhan dasar fisik seperti makan, minum, istirahat hingga kebutuhan keamanan diri, lalu kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki, yang terletak pada level kedua dan ketiga dari hierarki, dan kebutuhan aktualisasi dalam dirinya. teori ini mengungkap perlunya manusia dalam menjalin hubungan dengan sesamanya sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan hidup. (Maslow, 1954)
Albert Bandura, dalam teorinya yang terkenal Social Learning Theory, menekankan pentingnya pembelajaran sosial sebagai dasar perkembangan pengetahuan manusia. Menurut Bandura, manusia memiliki kemampuan belajar dengan mengamati dan meniru perilaku orang lain. Hal ini menegaskan bahwa interaksi sosial merupakan sarana utama dalam proses belajar dan tumbuh kembang individu. Melalui proses ini, manusia sebagai makhluk sosial dapat mentransfer pengetahuan dan keterampilan antar generasi, yang pada gilirannya memperkaya budaya dan peradaban. Konsep ini menunjukkan hubungan antar individu memainkan peran kunci dalam melestarikan nilai-nilai dan inovasi yang mendukung kemajuan masyarakat. (Lyons & Berge, 2012).
Perspektif Sosiologi: Struktur Sosial dan Kebutuhan Kolektif
Dalam sosiologi, teori-teori yang menjelaskan sifat sosial manusia lebih menekankan pada struktur sosial dan dinamika kelompok. Émile Durkheim, dalam karyanya "The Division of Labour in Society", membahas tentang pembagian kerja dan integrasi sosial mempengaruhi keterikatan hubungan dalam masyarakat. Durkheim menunjukkan bahwa manusia memerlukan struktur sosial yang stabil untuk memastikan fungsi sosial yang efektif dan solidaritas. (Durkheim, 1933)
Menurut Durkheim, integrasi dalam kelompok sosial dan kepatuhan terhadap norma-norma sosial adalah kunci untuk menjaga keseimbangan dan keteraturan dalam masyarakat. Sebab tanpa masyarakat, individu kehilangan konteks untuk memahami keberadaannya. Inilah mengapa ia mengatakan bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Masyarakat memberikan identitas, tujuan, dan makna hidup bagi individu.
George Herbert Mead dalam pendapat yang di "Mind, Self, and Society", menyoroti pentingnya simbol dan komunikasi dalam pembentukan identitas sosial. Menurutnya, manusia membentuk pemahaman diri dan hubungan sosial melalui interaksi simbolik dan komunikasi, yang menekankan bahwa manusia membutuhkan interaksi sosial untuk memahami diri mereka dan tempat mereka dalam masyarakat. (Mead, 1943)
Perspektif Al-Qur'an: Kebutuhan Sosial dalam Ajaran Islam
Dalam ajaran Islam, Al-Qur'an memaparkan pentingnya interaksi sosial. Salah satu ayat yang relevan adalah Surah Al-Hujurat (49:13), yang berbunyi:
"Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Meneliti."
Ayat ini menunjukkan bahwa keberagaman dan interaksi sosial adalah bagian dari ciptaan Allah yang bertujuan untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain. Konsep ini menegaskan bahwa hubungan sosial tidak hanya penting, tetapi juga merupakan bagian dari tujuan penciptaan manusia.
Selain itu, Al-Qur'an juga mengajarkan tentang pentingnya bekerja sama dan saling membantu dalam masyarakat. Dalam sebagian Surah Al-Ma'idah (5:2), disebutkan:
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran."
Terdapat Ayat yang menjelaskan perlunya kerjasama dan solidaritas dalam membangun masyarakat yang adil dan harmonis. Ini juga mencerminkan pandangan bahwa manusia sebagai makhluk sosial harus berfungsi secara kolektif untuk mencapai tujuan bersama dan memenuhi tanggung jawab sosial.
Manusia hidup dalam dunia yang penuh interaksi dan hubungan, baik secara psikologis, sosial, maupun spiritual. Psikologi menjelaskan kebutuhan manusia untuk merasa terhubung, sosiologi menggambarkan pentingnya struktur sosial, dan Al-Qur'an mengingatkan bahwa keberagaman serta kerja sama adalah bagian dari rencana besar Sang Pencipta.
Menariknya, ketiga perspektif ini saling melengkapi. Sebuah pengingat bahwa hidup ini memang dirancang untuk berbagi, saling mendukung, dan memahami satu sama lain.
Nah, bagaimana menurut kamu? Apa hal paling bermakna dalam menjadi makhluk sosial?
Referensi:
Al-Qur'an, Surah Al-Hujurat (49:13)
Al-Qur'an, Surah Al-Ma'idah (5:2)
Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Prentice Hall.
Durkheim, É. (1893). The Division of Labour in Society. Alcan.
Maslow, A. H. (1954). Motivation and Personality. Harper & Row, 80.
Mead, G. H. (1934). Mind, Self, and Society. University of Chicago Press.
