Konten dari Pengguna

Mengapa Generasi Hari Ini Makin Malas Menikah? Ini Faktanya!

Annisa Salsabilla Putri

Annisa Salsabilla Putri

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Pamulang dengan Program Studi Akuntansi.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Annisa Salsabilla Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potret realitas generasi masa kini yang nyaman dalam kesendirian. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Potret realitas generasi masa kini yang nyaman dalam kesendirian. Foto: Unsplash

Di tengah masyarakat yang dulu menganggap pernikahan sebagai pencapaian hidup utama, kini makin banyak anak muda justru memilih menunda atau bahkan tidak menikah sama sekali. Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya hidup, melainkan cerminan dari realitas baru yang dihadapi generasi muda: biaya hidup yang tinggi, ketidakpastian karier, perubahan nilai sosial, hingga cara pandang terhadap komitmen yang ikut bergeser.

Menurut sejumlah pemberitaan terbaru, penurunan angka pernikahan di Indonesia terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi salah satu isu sosial yang paling banyak dibahas. Data yang dikutip Databoks menunjukkan tren pemuda berstatus kawin terus menurun dalam enam tahun terakhir, sementara persentase yang belum kawin meningkat. Di sisi lain, pakar yang dikutip Kompas menilai bahwa faktor ekonomi, pendidikan, karier, dan perubahan budaya ikut membentuk sikap generasi muda terhadap pernikahan.

Tekanan Ekonomi Jadi Alasan Utama

Alasan paling sering muncul adalah soal uang. Banyak anak muda merasa belum cukup siap secara finansial untuk menikah karena pengeluaran hidup yang makin besar, harga kebutuhan pokok yang naik, serta sulitnya membeli rumah atau menabung untuk masa depan. Dalam kondisi seperti ini, pernikahan tidak lagi dipandang sebagai langkah spontan, melainkan keputusan besar yang harus dipikirkan matang-matang.

Ketidakpastian pekerjaan juga memperkuat keraguan tersebut. Generasi muda cenderung ingin memiliki penghasilan stabil sebelum membangun keluarga, karena mereka menyadari bahwa rumah tangga membutuhkan fondasi ekonomi yang kuat. Akibatnya, pernikahan sering ditunda sampai dianggap “aman” secara finansial.

Karier dan Pendidikan Menggeser Prioritas

Selain ekonomi, prioritas hidup generasi muda juga berubah. Pendidikan yang lebih panjang dan ambisi karier yang lebih tinggi membuat banyak orang memilih fokus membangun diri terlebih dahulu sebelum menikah. Bagi sebagian anak muda, menikah di usia muda justru dianggap bisa menghambat pencapaian pribadi dan profesional.

Pola pikir ini semakin kuat di era sekarang karena sukses tidak lagi diukur dari status pernikahan. Banyak orang menempatkan pencapaian akademik, kestabilan karier, pengalaman hidup, dan kebebasan personal sebagai target utama sebelum masuk ke jenjang rumah tangga. Pergeseran ini menunjukkan bahwa pernikahan kini lebih sering dipandang sebagai pilihan, bukan kewajiban sosial.

Perubahan Cara Pandang terhadap Komitmen

Faktor lain yang tak kalah penting adalah perubahan budaya dan cara pandang terhadap relasi. Pemberitaan Kompas menyebut munculnya narasi seperti “marriage is scary” di media sosial ikut memengaruhi persepsi anak muda terhadap pernikahan. Di ruang digital, cerita tentang perceraian, konflik rumah tangga, dan beban emosional sering lebih cepat menyebar daripada kisah pernikahan yang harmonis.

Selain itu, pengalaman keluarga juga berpengaruh. Mereka yang tumbuh dalam keluarga dengan perceraian atau konflik berkepanjangan cenderung lebih berhati-hati saat memutuskan menikah. Hal ini membuat sebagian generasi muda menilai pernikahan bukan lagi simbol kebahagiaan otomatis, melainkan komitmen besar yang penuh risiko.

Gaya Hidup Modern Semakin Bebas

Gaya hidup modern turut mendorong penundaan pernikahan. Anak muda kini punya lebih banyak ruang untuk mengejar kebebasan, perjalanan, hobi, dan pengembangan diri tanpa merasa harus segera berkeluarga. Dalam banyak kasus, mereka ingin menikmati fase dewasa muda lebih lama sebelum memikul tanggung jawab rumah tangga.

Teknologi dan aplikasi kencan juga menghadirkan tantangan baru. Pakar yang dikutip Kompas menyebut fenomena “paradox of choice”, yaitu terlalu banyak pilihan justru membuat seseorang makin sulit berkomitmen. Di tengah banyaknya opsi hubungan, sebagian orang menjadi lebih selektif, lebih lama mempertimbangkan pasangan, dan akhirnya menunda pernikahan.

Apa Artinya bagi Masyarakat?

Fenomena ini tidak bisa langsung dibaca sebagai tanda generasi muda anti menikah. Yang lebih tepat, mereka sedang menyesuaikan diri dengan realitas hidup yang berbeda dari generasi sebelumnya. Bagi banyak anak muda, menikah bukan lagi target yang harus dicapai secepat mungkin, melainkan keputusan besar yang hanya diambil saat kondisi benar-benar siap.

Karena itu, pembahasan soal rendahnya minat menikah seharusnya tidak berhenti pada kritik kepada generasi muda. Isu ini juga berkaitan dengan ekonomi, pendidikan, kesehatan mental, dan perubahan sosial yang lebih luas. Jika faktor-faktor tersebut tidak dibaca dengan jernih, maka fenomena ini akan terus dipahami secara keliru sebagai sekadar “malas menikah”.