Persaingan MLSC All-Stars Ketat, Nadia Shakila Azzahra: Tak Seperti di Jogja

Pemain Tim MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All-Stars Yogyakarta, Nadia Shakila Azzahra, merasakan langsung ketatnya persaingan di ajang MLSC All-Stars 2026. Menurut Nadia, level kompetisi di turnamen nasional jauh lebih menantang dibanding seri regional yang pernah ia jalani di Yogyakarta.
Pengalaman itu menjadi tantangan baru bagi Nadia yang baru pertama kali tampil di MLSC All-Stars. Ia mengaku senang bisa menghadapi pemain-pemain terbaik dari berbagai kota sekaligus menambah banyak teman baru selama turnamen berlangsung.
"Kalau di MilkLife Jogja itu lawannya enggak terlalu berat-berat, tapi kalau di sini udah ngerasain lawan yang begitu berat-berat juga," saat berbincang dengan kumparanBOLANITA, Jumat (27/6) di Supersoccer Arena, Kudus.
Jauh sebelum ke panggung MLSC All-Stars 2026, perjalanan Nadia bergabung di MilkLife Soccer Challenge bermula dari informasi yang ia dapat di sekolah. Saat mengetahui ada program pembinaan sepak bola wanita tersebut, ia langsung meminta guru pendidikan jasmani untuk mendaftarkannya.
"Terus aku bilang ke guru PJOK, akhirnya didaftarin ke MilkLife juga. Alhamdulillah kemarin ikut seleksi All-Star ini dan bisa ke Kudus," ujarnya.
Kesempatan itu tak disia-siakan Nadia. Kendati baru ikut pada MLSC Yogyakarta 2025, Nadia berkembang pesat dalam tiga gelaran yang diikutinya.
Terbaru, ia juga menjadi Top Scorer dengan torehan 50 gol di U-12 di MLSC Yogyakarta Seri 2 2025/26. Prestasi itulah yang membuat Nadia berhasil terpilih ke skuad MLSC All-Stars Yogyakarta 2026 dan menjadi debutnya di gelaran nasional.
Kini, Nadia dkk sudah menapakkan kakinya di semifinal. Tapi, perjalanan All-Stars Yogyakarta menuju semifinal tidak diraih dengan mudah. Mereka harus melewati laga sengit melawan All-Stars Semarang yang berakhir lewat adu penalti di perempat final. Nadia menjadi salah satu eksekutor dan mengaku sempat dihantui rasa gugup sebelum menendang bola.
"Tentunya juga tadi ada grogi, takut enggak masuk juga, tapi enggak apa-apa," ucapnya.
Menurut Nadia, kekuatan Semarang tidak jauh berbeda dengan timnya. "Paling sama kayak Jogja lah, 11-12 sama Jogja," kata pemain 12 tahun itu.
Dari seluruh lawan yang dihadapi selama turnamen, Nadia menyebut All-Stars Solo sebagai tim yang paling menyulitkan. Menurutnya, tim tersebut memiliki pemain-pemain berkualitas, termasuk Ika Wonda yang dinilai memiliki kecepatan dan kemampuan melepaskan tembakan dengan baik.
Menatap semifinal kontra Jakarta pada Sabtu (27/6) esok, Nadia berharap timnya bisa meningkatkan kerja sama, komunikasi, dan kekompakan agar mampu melangkah hingga menjadi juara. Sementara secara pribadi, ia membidik gelar pemain terbaik.
"Jakarta tuh pastinya banyak yang bagus-bagus seperti Albianca, jadi takut. (Tapi harapannya) pastinya pulang juga harus bawa oleh-oleh dong, harus juara," pungkas Nadia.
