Konten dari Pengguna

Festival Rukun 2026, Bertemunya Anak Muda untuk Kolaborasi Indonesia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dimas Rahmat Naufal Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sesi Harmony Talks di Rukun Festival 2026 (Dok. NUO/Nasaruddin Umar Office)
zoom-in-whitePerbesar
Sesi Harmony Talks di Rukun Festival 2026 (Dok. NUO/Nasaruddin Umar Office)

Minggu pagi festival rukun di kawasan The Telkom Hub, Jakarta Selatan, terasa berbeda. Langkah kaki terus berdatangan dari berbagai arah. Ada yang mengenakan pakaian komunitas, ada pula yang datang bersama sahabat dan keluarga. Menariknya kegiatan ini untuk bercerita bertemu anak muda Indonesia dapat berkolaborasi

Wajah-wajah yang sebelumnya tidak saling mengenal perlahan bercampur dalam satu ruang yang sama. Tidak ada sekat, tidak ada rasa canggung. Semua datang dengan tujuan sederhana, menjadi bagian dari Rukun Festival 2026.

Suasana semakin hidup ketika panggung utama mulai dipenuhi aktivitas. Tawa terdengar di beberapa sudut, percakapan kecil mengalir di antara peserta, sementara komunitas-komunitas mulai memperkenalkan kegiatan mereka. Rasanya seperti memasuki sebuah ruang yang membuat siapa pun merasa diterima, meskipun baru pertama kali datang.

Barangkali inilah makna sebuah festival yang sesungguhnya. Bukan hanya tentang keramaian atau panggung hiburan, melainkan tentang ruang yang mempertemukan banyak cerita dari latar belakang yang berbeda.

Lebih dari 1.500 anak muda berkumpul sepanjang penyelenggaraan Rukun Festival 2026. Festival yang diinisiasi oleh Nasaruddin Umar Office (NUO) itu memang sejak awal dirancang sebagai ruang harmoni bagi komunitas, kreator, tokoh publik, dan masyarakat untuk saling terhubung, berbagi inspirasi, serta tumbuh bersama.

Pagi dimulai dengan suasana yang menenangkan melalui sesi Teman Pulang. Tidak sedikit peserta yang memilih duduk dengan tenang sambil mendengarkan setiap pesan yang disampaikan.

Di tengah rutinitas yang serba cepat, sesi ini terasa seperti pengingat bahwa setiap orang membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan kembali mendengarkan dirinya sendiri.

Memasuki siang hari, suasana berubah menjadi lebih dinamis. Salah satu sesi yang paling ramai dipadati peserta adalah Harmony Talks. Kursi-kursi hampir penuh, bahkan sebagian peserta rela berdiri di bagian belakang agar tetap bisa mengikuti jalannya diskusi.

Yang menarik bukan hanya siapa yang berbicara di atas panggung, melainkan bagaimana setiap percakapan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Perbedaan keyakinan, budaya, pengalaman hidup, hingga cara memandang dunia dibahas tanpa saling menyalahkan. Semua justru menjadi alasan untuk saling mendengarkan.

Di tengah ruang itu, perbedaan tidak lagi terasa menakutkan. Justru dari perbedaan itulah lahir banyak cerita yang membuat siapa pun sadar bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang layak dihargai.

Sesi Harmony Talks menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang, seperti Yenny Wahid, Dewi Lestari, Pdt. Steve Marcel, Yan Mitha Djaksana, hingga Habib Isa Al-Kaff. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa harmoni bukan sesuatu yang lahir karena semua orang memiliki pandangan yang sama, melainkan karena ada kemauan untuk terus membuka ruang dialog.

Di sisi lain area festival, suasana tidak kalah menarik. Berbagai komunitas mulai berinteraksi dengan pengunjung, termasuk Trash Ranger Indonesia yang hadir sebagai community partner.

Kehadiran Trash Ranger Indonesia memberikan warna tersendiri dalam Rukun Festival 2026. Harmoni ternyata tidak hanya berbicara tentang hubungan antarmanusia, tetapi juga hubungan dengan alam. Menjaga lingkungan menjadi bentuk kepedulian yang tidak kalah penting dalam membangun masa depan bersama.

Semakin sore, festival terasa semakin hidup. Peserta berpindah dari satu sesi ke sesi lain. Ada yang menikmati diskusi, ada yang mengunjungi area komunitas, ada pula yang sekadar duduk di rerumputan sambil berbincang dengan teman baru.

Pemandangan seperti ini terasa sederhana, tetapi menyimpan makna yang besar. Banyak orang datang sebagai individu, lalu pulang dengan membawa pengalaman, perspektif baru, bahkan pertemanan yang sebelumnya tidak pernah direncanakan.

Data penyelenggara menunjukkan lebih dari 1.500 peserta menghadiri Rukun Festival 2026, sekaligus menegaskan komitmen festival ini untuk memperkuat kolaborasi lintas komunitas, lintas iman, dan lintas sektor demi Indonesia yang lebih harmonis.

Menjelang malam, ketika rangkaian acara mulai memasuki sesi penutup, muncul satu perasaan yang sulit dijelaskan. Festival ini ternyata bukan hanya tentang panggung, pembicara, atau banyaknya pengunjung.

Lebih dari itu, Rukun Festival 2026 menjadi pengingat bahwa harmoni selalu dimulai dari hal-hal sederhana, menyapa orang yang belum dikenal, bersedia mendengar pendapat yang berbeda, serta peduli terhadap lingkungan yang menjadi rumah bersama.

Barangkali itulah alasan mengapa banyak peserta pulang dengan senyum yang sama. Bukan karena membawa hadiah, melainkan karena membawa keyakinan bahwa Indonesia masih memiliki banyak ruang untuk bertemu, berdialog, dan tumbuh bersama. Dan selama ruang-ruang seperti Rukun Festival terus hadir, harapan tentang masyarakat yang lebih rukun akan selalu menemukan jalannya.