Jika Perempuan Ingin Sekolah Tinggi, Memangnya Kenapa?
Tulisan dari Apreza Allanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika Pendidikan dan Impian Masih Harus Dipertanyakan

“Buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi? Toh nanti ujung-ujungnya mengurus rumah.”
Kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana. Bisa jadi kita pernah mendengarnya dari orang lain, dari lingkungan sekitar, atau bahkan dari keluarga sendiri. Bahkan bagi sebagian orang,kalimat tersebut dianggap sebagai nasihat biasa. Namun, pernahkah kita berhenti sebentar dan bertanya: mengapa pendidikan seorang perempuan harus selalu dikaitkan dengan apa yang akan ia lakukan setelah menikah?
Seolah-olah ketika seorang perempuan nantinya menjadi istri atau ibu, pendidikan yang sudah ditempuh bertahun-tahun otomatis menjadi tidak berguna dan tidak lagi memiliki nilai.
Padahal, pendidikan bukan hanya tentang pekerjaan. Pendidikan juga tentang bagaimana seseorang berpikir, mengambil keputusan, pengetahuan yang membuat kita lebih terbuka terhadap dunia, dan pengalaman yang mengubah cara seseorang melihat kehidupan.
Lalu, jika seorang perempuan ingin sekolah tinggi, memangnya kenapa?
Bukankah perempuan juga memiliki hak untuk menentukan sejauh mana ia ingin belajar, apa yang ingin ia cita-citakan, dan jalan seperti apa yang ingin ia tempuh?
Pertanyaan tersebut sebenarnya membawa kita pada persoalan yang lebih luas: bagaimana masyarakat masih memandang Pendidikan perempuan, bagaimana impian perempuan terkadang dianggap terlalu tinggi, dan bagaimana perjalanan seseorang tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana.
Pendidikan Tidak Seharusnya Punya Batas Berdasarkan Gender
Sejak kecil, banyak orang tumbuh dengan gambaran tentang bagaimana seharusnya seorang perempuan menjalani hidup. Perempuan dianggap akan menjadi istri, kemudian menjadi ibu, dan bertanggung jawab terhadap rumah tangga.
“Kalau nanti jadi ibu rumah tangga, buat apa sekolah tinggi-tinggi?”
Pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menunjukkan cara pandang yang cukup sempit terhadap Pendidikan. Seolah-olah Pendidikan hanya dianggap berguna dan bernilai Ketika hasilnya berupa pekerjaan, jabatan, atau penghasilan.
Padahal, tidak ada yang salah dengan perempuan yang memilih menjadi seorang ibu rumah tangga. Begitu pula tidak ada yang salah jika seorang perempuan memilih untuk bekerja dan membangun karier. Keduanya merupakan pilihan hidup yang sama-sama memiliki nilai.
Yang menjadi persoalan adalah ketika pilihan tersebut dijadikan alasan untuk membatasi Pendidikan seseorang.
Kalau melihat data di Indonesia, perempuan sendiri bukan kelompok yang tertinggal dalam partisipasi Pendidikan tinggi. Data BPS tahun 2025 menunjukkan angka partisipasi kasar perguruan tinggi perempuan mencapai 35,98 persen. Sedangkan laki-laki 29,88 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki keinginan dan kesempatan yang besar untuk melanjutkan Pendidikan.
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), 2025.
Namun, persoalan Pendidikan perempuan tidak berhenti pada apakah mereka bisa masuk perguruan tinggi atau tidak. Cara pandang masyarakat terhadap pilihan Pendidikan dan kehidupan perempuan juga tetap penting untuk diperhatikan.
Laki-laki yang ingin melanjutkan Pendidikan tinggi jarang ditanya apakah Pendidikan itu akan tetap berguna setelah menikah. Lalu, mengapa pertanyaan tersebut masih begitu mudah diarahkan kepada perempuan?
Pendidikan tidak berhenti berguna hanya karena kehidupan seseorang berubah.
Justru, disitulah nilai Pendidikan yang sebenarnya: semakin banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang, semakin banyak pula hal yang dapat ia bagikan kepada orang-orang di sekitarnya.
Perempuan Juga Berhak Memiliki Mimpi yang Tinggi
Ada kalanya perempuan yang memiliki cita-cita yang tinggi justru mendapat lebih banyak pertanyaan. Ingin kuliah tinggi, ditanya “untuk apa?”. Ingin punya karier, ditanya “siapa yang akan mengurus rumah?”. Ingin melanjutkan pendidikan, ditanya “apakah tidak takut terlambat menikah?”. Ingin mengejar sesuatu yang besar, terkadang dianggap “terlalu ambisius”.
Seorang perempuan bisa memiliki Pendidikan tinggi dan tetap membangun keluarga. Ia bisa bekerja sekaligus menjadi ibu, Bisa pula memilih fokus pada keluarga tanpa kehilangan kesempatan untuk terus belajar. Pilihan-pilihan tersebut tidak harus dipertentangkan.
pendidikan bahkan memiliki nilai yang jauh lebih panjang daripada sekadar gelar yang tertulis di belakang nama.
Pengetahuan yang kita dapatkan hari ini bisa saja baru terasa manfaatnya bertahun-tahun kemudian. Apa yang kita pelajari dapat memengaruhi cara kita mendidik anak, berkomunikasi dengan keluarga, mengambil keputusan, menghadapi masalah, bahkan menentukan nilai-nilai yang ingin kita teruskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, rasanya kurang adil jika pendidikan perempuan hanya dinilai dari pertanyaan, “Nanti kerjanya apa?”
Pendidikan Tidak Harus Selalu Dibuktikan dengan Karier
Mungkin sudah waktunya kita berhenti melihat Pendidikan perempuan hanya dari pertanyaan “Nanti setelah lulus mau kerja apa?” Pertanyaan itu tidak salah, Namun, jika hanya itu ukuran yang digunakan, maka Pendidikan menjadi terlalu sempit.
Hal ini juga bukan sekedar pemikiran ideal. Pada Juni 2026, Bappenas Bersama UNICEF meluncurkan studi mengenai investasi pada remaja perempuan di Indonesia. Studi tersebut menunjukkan bahwa pemenuhan hak remaja perempuan, termasuk Pendidikan yang berkualitas, dapat memberikan manfaat jangka Panjang bagi masyarakat dan perekonomian.
Artinya, Pendidikan perempuan tidak hanya memberikan manfaat bagi individu yang menjalaninya. Dampaknya dapat meluas ke lingkungan dan masyarakat.
Pendidikan yang dimiliki seseorang bahkan bisa menjadi sesuatu yang diwariskan tanpa harus berbentuk harta.
Rumah mungkin bisa diwariskan kepada anak. Uang bisa habis digunakan. Tetapi ilmu, cara berpikir, pengalaman, dan nilai-nilai yang baik dapat terus diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, melihat pendidikan bukan sebagai sesuatu yang hanya berguna ketika seseorang bekerja, tetapi sebagai bekal hidup yang akan terus mengikuti seseorang ke mana pun ia pergi.
Jadi, Perempuan Mau Sekolah Tinggi, Memangnya Kenapa?
Mungkin, pertanyaan itu sebenarnya tidak membutuhkan jawaban yang rumit. Jika seorang perempuan ingin sekolah tinggi, memangnya kenapa?
Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk belajar lebih jauh. Tidak ada yang salah dengan memiliki cita-cita yang tinggi. Dan tidak ada yang salah Ketika seseorang ingin menjadi versi terbaik dari dirinya melalui Pendidikan.
Jika ia ingin sekolah tinggi, biarkan ia belajar. Jika ia ingin bekerja, biarkan ia berkembang. Jika ia ingin membangun keluarga, biarkan ia menjalani pilihannya. Jika suatu saat jalan yang dipilih ternyata berubah, itu juga bagian dari kehidupan.
Perempuan berhak mendapatkan pendidikan setinggi yang mereka mampu dan inginkan, bukan karena mereka harus menjadi pekerja, bukan karena mereka harus memiliki jabatan, dan bukan pula karena mereka harus membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Mereka berhak belajar karena pendidikan adalah bagian dari proses menjadi manusia yang lebih berpengetahuan. Mereka berhak bermimpi karena masa depan bukan sesuatu yang seharusnya ditentukan hanya berdasarkan gender.
Pada akhirnya, mungkin pendidikan bukan tentang seberapa tinggi seseorang bisa berdiri di hadapan orang lain.
Pendidikan adalah tentang seberapa luas ia bisa melihat dunia, seberapa bijak ia mengambil keputusan, dan seberapa banyak kebaikan yang dapat ia teruskan kepada orang-orang setelahnya.
Jadi, jika seorang perempuan berkata bahwa ia ingin sekolah tinggi, mungkin kita tidak perlu lagi bertanya “Buat apa?”. Cukup dengarkan dan biarkan ia belajar.
Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu sejauh apa sebuah ilmu akan membawa seseorang. Bisa jadi ilmu itu mengubah hidupnya. Bisa jadi ilmu itu membantu keluarga nya. Bisa jadi ilmu itu kelak membentuk cara ia mendidik anak-anaknya. Atau mungkin, ilmu tersebut akan diteruskan kepada generasi selanjutnya.
Karena belajar tidak pernah menjadi sia-sia.
Dan sebab perempuan tidak perlu menunggu alasan yang cukup untuk berhak memiliki mimpinya.

