Kumparan Logo

Produser 'The Longest Wait' Buka Suara soal Kritik Sosok di Balik Perjuangan Timnas yang Tak Muncul

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Executive Producer film The Longest Wait, Sakti Parantean, saat Ditemui di Kawasan Barito, Jakarta Selatan, Jumat (6/11/2026). Foto: Aprilandika Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Executive Producer film The Longest Wait, Sakti Parantean, saat Ditemui di Kawasan Barito, Jakarta Selatan, Jumat (6/11/2026). Foto: Aprilandika Pratama/kumparan

Executive producer film The Longest Wait, Sakti Parantean, menanggapi kekecewaan publik yang menilai film tersebut belum menampilkan sejumlah pihak di balik perjuangan Timnas Indonesia. Ia menegaskan, film itu tidak bermaksud mengesampingkan jasa siapa pun.

Sakti menjelaskan, The Longest Wait berfokus pada sudut pandang para pemain Timnas Indonesia. Film tersebut ingin memperlihatkan sisi lain para pemain yang tidak selalu terlihat ketika pertandingan berlangsung.

“Film kami ini jelas bahwa point of view-nya itu adalah para anak-anak muda ini, pemain Timnas yang memakai seragam dan juga membela mati-matian bangsa kita di lapangan hijau. Itu yang ingin kami angkat, bagaimana support system mereka, bagaimana background mereka, bagaimana harapan mereka, semangat mereka, mungkin juga kekhawatiran mereka, trauma mereka,” ujar Sakti saat ditemui di kawasan Barito, Jakarta Selatan.

Film dokumenter The Longest Wait. Foto: Dok. Fremantle Indonesia

Menurutnya, tim produksi mendapat akses dari federasi untuk merekam kegiatan para pemain. Namun, dalam menentukan materi yang masuk ke film, ada sejumlah pertimbangan yang harus diperhatikan.

“Saya menghargai bahwa banyak juga anggapan kenapa ini tidak ada, kenapa si ini tidak ada, kenapa si ini ada. Selain daripada apa yang kita ingin tampilkan, at the end of the day kita mempunyai challenge tertentu, terutama dari bagaimana kita memilih editorial,” jelasnya.

Sakti menyebut, pemilihan cerita dan figur dalam film juga harus mempertimbangkan aspek legal dan komersial. Hal itu mencakup izin penggunaan materi, lisensi, hingga persetujuan dari pihak-pihak terkait.

“Apakah kita mempunyai yang pertama legalitas yang cukup, seperti misalnya license, seperti misalnya release form, seperti misalnya consent, seperti misalnya IP yang kita gunakan,” tutur Sakti.

Film dokumenter The Longest Wait. Foto: Dok. Fremantle Indonesia

Ia menegaskan, proses tersebut menjadi salah satu pembeda antara film dengan konten digital. Menurut Sakti, pihak produksi memiliki tanggung jawab untuk memastikan materi yang ditampilkan telah melalui proses perizinan.

“Jadi faktor-faktor seperti itu juga yang menentukan apakah sebuah fakta, sebuah cerita, sebuah figur itu masuk ke dalam sana tanpa mengesampingkan jasa-jasa dari orang-orang yang terlibat di dalam perjuangan Timnas ini,” beber dia.

Sakti secara khusus menegaskan bahwa tidak ada niat dari tim produksi untuk mengabaikan peran pihak mana pun, termasuk kitman yang turut menjadi bagian dari tim.

“Tidak ada sama sekali maksud dari kami untuk mengesampingkan jasa-jasa siapa pun juga, termasuk juga kitman. Mungkin ada yang tanya juga kenapa enggak ada kitman di sana,” ungkap Sakti.

“Itu dia, balik lagi ke hal-hal seperti itu, apakah mendukung cerita yang ingin kita tampilkan, ataukah memang kita juga mempunyai keterbatasan dalam mengakses secara waktu, secara izin, secara apa pun juga itu,” sambungnya.

Melalui film tersebut, Sakti berharap penonton bisa memahami pengalaman para pemain saat membela Timnas Indonesia. Ia juga ingin kisah perjuangan mereka menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.

“Tujuannya adalah bagaimana kita semua sebagai bangsa Indonesia itu bisa, yang pertama menyelami pengalaman mereka, terus kemudian juga mempunyai inspirasi bahwa perjuangan mereka ini seharusnya bisa dihargai dan mungkin memotivasi kita atau anak-anak muda atau anak-anak kecil sekarang untuk bisa melanjutkan tongkat estafet menjadi pemain-pemain sepak bola di masa depan yang akan membanggakan bangsa kita sendiri,” tutup Sakti.