Konten dari Pengguna

Tak Lagi Seritme: Mengamati Perbedaan Gaya Hidup di Usia Dewasa Muda

Aprilia Cahyani Prabudiantoro Putri

Aprilia Cahyani Prabudiantoro Putri

Dosen Sosiologi Universitas Terbuka, Pengamat sosial lulusan Sarjana dan Magister Sosiologi Universitas Indonesia, mengulas relasi antara manusia dan ruang hidupnya baik di urban maupun rural.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aprilia Cahyani Prabudiantoro Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Ada masa ketika kita berjalan beriringan. Tapi waktu tak selalu memberi jalan yang sama panjang, atau arah yang serupa.”

Gambar didesain di Canva.com oleh Aprilia Cahyani Prabudiantoro Putri, 2025.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar didesain di Canva.com oleh Aprilia Cahyani Prabudiantoro Putri, 2025.

Usia dua puluh enam seringkali menjadi persimpangan. Bukan hanya karena angka usia itu cukup "tua" untuk dituntut dewasa, tapi juga cukup "muda" untuk masih dianggap bisa bebas. Di titik ini, hidup terasa seperti lembaran puzzle dimana setiap orang mulai meletakkan keping-kepingnya ke tempat yang sangat berbeda. Pada akhirnya, hidup antar sahabat pun sudah tak lagi sama. Ada yang sibuk meniti karier, ada yang mempersiapkan pernikahan, ada yang sudah berkeluarga dan memikirkan isi dapur, sementara sebagian lain masih bisa menikmati liburan dadakan atau kumpul tengah malam tanpa beban.

Dalam perbedaan ritme inilah, kadang kita merasa... tak lagi selaras.

Ketika Sahabat Tak Lagi Satu Frekuensi

Relasi antar perempuan, khususnya dalam lingkup sahabat dekat, seringkali dibangun dari rasa “seperjuangan”—sama-sama ngerjain tugas kampus sampai subuh, nangis bareng soal gebetan menyebalkan, sampai saling tag di story diskon lipstik. Tapi ketika hidup bergeser, perjuangannya pun berubah. Ada yang harus mempertimbangkan nominal patungan seharga beras untuk sebulan, kebutuhan rumah tangga yang setiap hari ada aja, atau menunda beli skincare karena harus bayar listrik.

Sementara itu, tak semua sahabat paham ritme baru ini. Mungkin bukan karena tak peduli, tapi memang belum sampai ke titik yang sama. Seringnya, responsnya jadi semacam, “Ah, masa sih gak bisa ikut? Kan kita patungan doang,” atau “Lu harusnya ngomong dong, biar gak bikin kita nungguin.”

Padahal, kadang bukan sekadar soal patungan atau kabar. Tapi lebih ke rasa lelah emosional: untuk terus menjelaskan, terus merasa bersalah, dan terus menyesuaikan diri dengan dinamika yang sudah tidak seiring.

Gaya Hidup: Bukan Hanya Soal Uang, Tapi Soal Fokus

Seringkali, orang mengira perbedaan gaya hidup cuma soal tebal tipisnya dompet. Padahal, lebih dari itu, ini soal prioritas dan beban tanggung jawab. Perempuan yang sudah berumah tangga, terlepas dari besar kecilnya penghasilan, akan cenderung memprioritaskan stabilitas rumah tangga, karena memang itu bagian dari perannya baik secara personal maupun sosial.

Di sisi lain, sahabat yang belum menikah bisa jadi belum punya tanggung jawab finansial dan emosional yang sama. Bukan berarti mereka lebih bebas secara moral atau lebih salah secara sosial. Hanya saja, ketika ruang hidup sudah berbeda, frekuensi pun tak bisa dipaksa sama.

Memilih Jarak Bukan Berarti Memutus

Kadang kita merasa bersalah ketika mulai mengambil jarak. Tapi jarak bukan selalu bentuk dari permusuhan. Dalam sosiologi, ini bisa dilihat sebagai bentuk boundaries management, yaitu strategi emosional dan sosial untuk tetap waras di tengah relasi yang tak lagi seimbang.

Apalagi bagi perempuan, relasi pertemanan seringkali begitu melekat sampai jadi bagian identitas. Maka ketika harus menjaga jarak, itu bukan keputusan yang ringan. Tapi saat keberadaan dalam lingkaran justru membuat kita terus merasa bersalah, lelah, atau bahkan terancam mengganggu keharmonisan rumah tangga... mungkin saatnya memberi ruang.

Akan Ada Masanya Mereka Mengerti

Mungkin saat ini, mereka yang masih di fase berbeda akan kesulitan memahami. Bahkan bisa jadi, kita dianggap berubah, terlalu perhitungan, atau bahkan tidak setia kawan. Tapi pengalaman adalah guru paling efektif. Dan mungkin, suatu hari nanti, mereka akan mengingat masa ini, dan baru bisa mengangguk pelan.

Sampai saat itu tiba, tak perlu membenci, tak usah menjelaskan terlalu banyak. Fokus saja pada versi diri yang paling butuh kita jaga saat ini, yaitu diri kita, rumah tangga kita, dan kesehatan mental kita.