Konten dari Pengguna

Sleep Paralysis, 'Ketindihan' Saat Tidur yang Bukan karena Hantu

Aprilia Putri Pitaloka

Aprilia Putri Pitaloka

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aprilia Putri Pitaloka tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://pixabay.com/id/photos/istirahat-sedang-tidur-imut-gadis-4491221/
zoom-in-whitePerbesar
https://pixabay.com/id/photos/istirahat-sedang-tidur-imut-gadis-4491221/

Setiap orang tidak dapat terlepas dari tidur karena tidur menjadi suatu kebutuhan dasar bagi manusia yang sifatnya fisiologis. Tidur merupakan keadaan di mana kesadaran seseorang akan sesuatu semakin menurun. Walaupun kesadaran kita semakin menurun saat tidur, aktivitas otak kita masih tetap bekerja dengan baik dan memainkan peran dalam mengatur fungsinya, seperti mengatur fungsi pernapasan, pencernaan, aktivitas jantung dan pembuluh darah, serta fungsi kekebalan dalam memberikan energi-energi untuk tubuh dan dalam pemrosesan kognitif, termasuk penataan, penyimpanan, dan pembacaan informasi yang tersimpan dalam otak, serta perolehan informasi saat otak terjaga.

Manusia pada dasarnya membutuhkan waktu istirahat di setiap harinya setelah melakukan berbagai aktivitas yang melelahkan. Hal itu dapat terjadi karena menurut restorative theory, tubuh membutuhkan waktu istirahat untuk memperbaiki sistem kerjanya. Dengan tidur, manusia dapat melepaskan rasa lelah, baik secara jasmani maupun mental. Selain itu, tidur diyakini dapat memulihkan tenaga setelah melakukan aktivitas karena tidur akan memberikan waktu melakukan perbaikan dan penyembuhan pada sistem tubuh untuk periode keterjagaan berikutnya. Sehingga, tidur menjadi salah satu kebutuhan manusia yang sangat penting.

Ketika tidur, adakalanya manusia mengalami gangguan tidur atau sering disebut sebagai sleep disorder. Sleep disorder merupakan suatu gangguan pada pola tidur normal yang dapat mengacaukan fungsi tubuh. Mereka yang mengalami sleep disorder akan merasa terganggu dalam waktu istirahatnya. Mereka akan merasa tersiksa karena masa tidurnya menjadi tidak efektif dan kurang mendapat pemulihan tenaga. Ada berbagai jenis gangguan tidur yang sering dialami oleh manusia salah satunya adalah sleep paralysis atau orang awam sering menyebutnya dengan istilah ketindihan. Sleep paralysis atau ketindihan ini sering kali dialami oleh beberapa remaja, bahkan sampai orang dewasa. Sleep paralysis merupakan suatu keadaan ketika individu dalam kondisi tidur nyenyak, kemudian secara tiba-tiba terbangun dan tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya (Cheyne, 2005). Sleep paralysis dapat berlangsung dalam hitungan detik hingga menit. Saat seseorang mengalami sleep paralysis, beberapa orang akan mengalami kesulitan dalam berbicara dan bernapas, bahkan merasa sesak di dada.

Hampir setiap orang pernah mengalami sleep paralysis dalam hidupnya. Akan tetapi, beberapa orang awam mempercayai bahwa gangguan tidur sleep paralysis atau ketindihan ini dapat dialami seseorang karena mereka mendapat gangguan yang berasal dari makhluk halus di sekitarnya. Padahal, sudut pandang medis dan psikologis mengklaim bahwa sleep paralysis dapat terjadi karena otot-otot sedang tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Ini terjadi karena kerja otak dalam mengatur fungsi pergerakan otot masih terbawa oleh alam mimpi. Awalnya, sleep paralysis terjadi ketika seseorang terbangun dari fase tidur REM tahap tidur nyenyak. Pada fase ini, seseorang akan bermimpi disamping otak memerintahkan tubuh untuk mengistirahatkan otot-otot atau melumpuhkan sementara otot tubuh.

Manusia sebenarnya membutuhkan waktu kurang lebih 90 menit untuk bisa tertidur nyenyak atau pulas. Berlangsungnya selama waktu 90 menit tersebut manusia selama tidur mengalami siklus 4 tahapan tidur REM, diantaranya 3 tahap NREM dan 1 tahap REM. Sleep paralysis dapat terjadi karena seseorang tiba-tiba terbangun ketika berada pada tahapan siklus REM 4 atau tiba-tiba siklus tidur tidak berjalan sesuai urutan karena terjadi lompatan ke tahap 1 NREM. Sehingga, ini akan menyebabkan terjadinya ketidakselarasan antara kondisi tubuh dengan pikiran di mana pada tahap tidur REM 4 ini sistem otot masih dalam keadaan lumpuh sementara, sedangkan pikiran mulai tersadar. Hal inilah yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan bergerak dan berbicara ketika dalam kondisi sleep paralysis. Sementara itu, penyebab seseorang dapat mengalami sesak napas ketika dalam kondisi sleep paralysis, yaitu karena kinerja dada dalam menghirup udara pada tahap tidur REM 4 ini ternyata juga dipengaruhi oleh otot yang sedang mengalami kelumpuhan sementara. Hal tersebut bisa menjadi sangat berbahaya apabila berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Sesak napas dalam kondisi sleep paralysis dapat menjadi penyebab kematian mendadak pada seseorang.

Sleep paralysis dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas tidur kita. Adanya gangguan masalah tidur, seperti gangguan katuk di pagi hari atau disebut dengan istilah narkolepsi serta gangguan kram kaki pada saat tidur tahap REM 4, dapat memicu terjadinya sleep paralysis. Kemudian, kurang tidur, sering begadang, atau jadwal tidur yang selalu berubah-ubah karena mengerjakan tugas atau menyelesaikan suatu pekerjaan dapat pula memicu seseorang mengalami sleep paralysis. Bahkan, posisi tidur salah satunya dengan posisi tidur telentang dapat menjadi pemicu terjadinya sleep paralysis. Selain itu, gangguan mental seseorang juga dapat menjadi pemicu terjadinya sleep paralysis. Seseorang yang merasa tertekan atau sedang berada pada kondisi stres akan mengalami perubahan pola tidur mereka.

Sleep paralysis dapat terjadi kepada siapa saja. Untuk mencegahnya, kita dapat mengatur pola tidur yang baik dan menghindari hal-hal yang dapat mengganggu kondisi mental kita. Selain itu, ketika kita mengalami sleep paralysis, sebaiknya kita tetap bersikap tenang dan jangan terlalu takut, bahkan terburu-buru. Lebih baik kita menenangkan diri terlebih dahulu dengan cara menarik dan menghembuskan napas secara perlahan jika pernapasan tidak dipengaruhi otot yang sedang mengalami kelumpuhan sementara. Setelah dalam keadaan tenang, cobalah untuk menggerakkan anggota tubuh seperti tangan atau cara yang paling mudah, yaitu menggerakan jari jari tangan seperti melakukan gerakan mencengkram. Cara tersebut dapat dilakukan secara perlahan-lahan agar kita dapat terlepas dari gangguan tidur sleep paralysis atau ketindihan.

Daftar Pustaka

Davies, Owen. (2003). The Nightmare Experience, Sleep Paralysis, and Witchcraft Accusations. Taylor & Francis. https://doi.org/10.1080/0015587032000104211

Lichtenstein, Ben W. M.D., & Rosenblum, Alfred H. M.D. (1942). Sleep paralysis. The Journal of Nervous and Mental Disease, 95(2). 153-155. https://journals.lww.com/jonmd/citation/1942/02000/sleep_paralysis.3.aspx

Permata, K. A., & Widiasavitri, P. N. (2019). Hubungan Antara Kecemasan Akademik dan Sleep Paralysis pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Tahun Pertama. Jurnal Psikologi Udayana, 6(1), 1-10. https://ojs.unud.ac.id/index.php/psikologi/article/download/48617/28935

Sleep Paralysis: Causes, Symptoms, and Treatments. (2016, September 14). American Sleep Association. https://www.sleepassociation.org/sleep-disorders/more-sleep-disorders/sleep-paralysis/

Sylvia, Sulistio. (2018). Perancangan Buku Ilustrasi Mengenai Gangguan Tidur Sleep Paralysis [Thesis, Universitas Multimedia Nusantara]. Universitas Multimedia Nusantara. https://kc.umn.ac.id/7722/

Ummah, M. (2017). Hubungan antara stres akademik dengan kualitas tidur pada mahasiswa pondok pesantren [Thesis, Universitas Mercu Buana Yogyakarta]. Universitas Mercu Buana Yogyakarta. http://eprints.mercubuana-yogya.ac.id/1192/