Konten dari Pengguna

Sejarah Candi Kidal di Malang Jawa Timur

Asprilla Adhika Pratama
3D Graphic Designer, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Siber Asia
26 Juni 2025 17:09 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sejarah Candi Kidal di Malang Jawa Timur
Menelisik sejarah Candi Kidal di Malang, peninggalan Kerajaan Singhasari yang sarat nilai spiritual, budaya, dan relevan untuk generasi masa kini.
Asprilla Adhika Pratama
Tulisan dari Asprilla Adhika Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto Candi Kidal Sumber : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI
zoom-in-whitePerbesar
Foto Candi Kidal Sumber : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI
ADVERTISEMENT
Setiap malam 1 Suro, suasana Candi Kidal di Desa Rejokidal, Tumpang, Malang, berubah menjadi sakral. Warga berkumpul dengan membawa bunga dan air untuk melaksanakan ritual penyucian diri yang telah diwariskan turun-temurun. Tradisi ini bukan sekadar kepercayaan, melainkan cara masyarakat lokal menjaga hubungan spiritual dengan leluhur dan warisan budaya. Candi Kidal tak hanya berdiri sebagai peninggalan sejarah, tapi juga hidup dalam praktik keagamaan dan kearifan lokal yang masih bertahan hingga kini. Fenomena ini memperkuat posisi Candi Kidal sebagai situs sejarah penting di Jawa Timur yang layak dipahami lebih dalam.
ADVERTISEMENT
Di desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, berdiri sebuah candi berarsitektur khas Jawa Timur yang menyimpan kisah hidup bangsa—Candi Kidal. Dibangun pada 1248 M sebagai memorial bagi Raja Anusapati dari Kerajaan Singhasari, candi ini menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur dan kekuasaan ilahi. Setelah bertahun-tahun terlupakan, kini Candi Kidal kembali mencuri perhatian sebagai warisan budaya yang kaya nilai sejarah dan relevansi modern.

Jejak Kerajaan Singhasari yang Terukir di Batu

Candi Kidal diyakini dibangun sebagai pendharmaan untuk Raja Anusapati, putra Ken Dedes dan penerus tahta Singhasari. Terdapat dua catatan utama mengenai kematiannya: Kitab Negarakertagama (1365) menyebut tahun 1170 Saka (1248 M), sedangkan Pararaton mencatat 1171 Saka (1249 M). Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI mencatat, candi ini rampung pada 1260 M, setelah upacara Srada dua belas tahun pascakekematian raja. Hal ini menegaskan Candi Kidal bukan sekadar monumen mati, melainkan saksi ritual spiritual raja dan rakyat.
ADVERTISEMENT

Relief Garuda sebagai Narasi Spiritualitas & Kebaktian

Ciri khas Candi Kidal adalah Relief Garudeya yang menggambarkan kisah Garuda membebaskan ibunya dari perbudakan air amerta terpahat lengkap di kaki candi. Relief ini menjungkirbalikkan dunia batin: Garuda memikul ular, kendi di kepala, hingga menyanggah seorang wanita. Pakar interpretasi arkeologi menilai, ini bukan sekadar kisah mitos, tetapi simbol kebaktian Anusapati kepada Ken Dedes: ibunya. Relief ini menegaskan konsep Siwaisme dan penghormatan leluhur sebagai landasan spiritual masyarakat Jawa abad ke-13.

Pelajaran sejarah yang mentransformatif

Di era milenial dengan modernitas teknologi, Candi Kidal hadir sebagai sumber belajar hidup. Ia mengajarkan arti penghormatan, kesinambungan identitas budaya, dan nilai spiritualitas yang bersumber dari naskah tua dan ritual kuno. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (2020) mencatat Candi Kidal sebagai cagar budaya yang terus dilestarikan meski belum mendapat sorotan layak seperti Candi Singosari
ADVERTISEMENT
Ciri khas Candi Kidal terletak pada adanya narasi cerita Garuda terlengkap yang terpahat pada kaki candi. Cara membacanya dengan berjalan berlawanan arah jarum jam, dimulai dari sisi sebelah selatan. Relief pertama menggambarkan Garuda menggendong 3 ekor ular besar, relief kedua melukiskan Garuda dengan kendi di atas kepalanya, dan relief ketiga Garuda meyangga seorang wanita di atasnya.
Menurut kesusasteraan Jawa Kuno, Garudeya, ketiga relief tersebut menggambarkan perjalanan Garuda dalam membebaskan ibunya dari perbudakan dengan penebusan air suci “amerta”. Berdasar relief Garudeya banyak yang beranggapan bahwa Anusapati sangat berbakti dan mencintai ibunya. Dia ingin ibunya lepas dari penderitaan dan nestapa salama hidupnya, menjadi suci kembali dan wanita sempurna. Relief Garudeya pada Candi Kidal mengambarkan bakti Anusapati kepada ibunya Kendedes.
ADVERTISEMENT

Warisan berkelanjutan ala desa

Pemugaran pada dekade 1990-an serta perawatan berkala oleh Balai Pelestarian Kebudayaan mendorong kesadaran pelestarian lokal. Kini, Candi Kidal menjadi magnet wisata dan studi budaya yang berfungsi sebagai ruang edukasi sejarah hidup dan pusat wisata heritage yang layak dijadikan agenda sekolah dan penelitian. Lebih jauh, nilai-nilai spiritual seperti penghormatan terhadap leluhur dan pengorbanan diri pun makin relevan dikedepankan di masyarakat modern.

Merawat Cerita dalam Batu

Mengunjungi Candi Kidal berarti menenggelamkan diri dalam kisah masa lalu yang berbicara melalui relief dan arsitektur. Ia mengajak kita memahami kompleksitas sejarah, spiritualitas, dan kebudayaan Jawa Timur dan menegaskan satu hal yaitu jangan biarkan warisan budaya menjadi sunyi. Kita yang hidup saat ini memiliki tanggung jawab menghidupkan kembali cerita itu, agar generasi berikut melihatnya bukan sebagai batu mati, melainkan sebagai cermin nilai dan identitas.
ADVERTISEMENT