Kurikulum Terus Berganti, Pendidikan Indonesia Mau Dibawa ke Mana?

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari aqilah jihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perubahan kurikulum seharusnya meningkatkan kualitas pendidikan, bukan sekadar menambah tuntutan adaptasi bagi guru dan siswa.
Perubahan kurikulum selalu membawa harapan baru bagi dunia pendidikan Indonesia. Namun, di balik harapan tersebut, ada pertanyaan yang perlu dijawab: apakah yang berubah hanya kurikulumnya, atau kualitas pembelajarannya juga ikut meningkat?
Setiap kali kebijakan pendidikan mengalami perubahan, sekolah perlu menyesuaikan diri. Guru harus memahami pedoman baru, menyiapkan pembelajaran, dan menyesuaikan metode mengajar. Sementara itu, siswa dan orang tua juga perlu beradaptasi dengan sistem yang diterapkan. Persoalannya, apakah setiap perubahan tersebut benar-benar membawa pendidikan Indonesia menuju arah yang lebih baik?
Perjalanan kurikulum Indonesia menunjukkan adanya upaya menyesuaikan pendidikan dengan perkembangan zaman. Kurikulum 2013 kemudian diikuti Kurikulum Merdeka yang menekankan fleksibilitas pembelajaran dan pengembangan kompetensi siswa. Pada 2025, pemerintah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 sebagai penyesuaian terhadap kebijakan kurikulum sebelumnya, bukan sebagai pergantian kurikulum nasional.
Artinya, persoalannya bukan sekadar kurikulum yang berubah, melainkan bagaimana kesinambungan kebijakan dijaga dan perubahan diterapkan secara konsisten di sekolah.
Ketika Kebijakan Tidak Diikuti Kesiapan
Perubahan kurikulum pada dasarnya diperlukan agar pendidikan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat. Namun, perubahan yang baik harus disertai persiapan yang matang. Guru membutuhkan pelatihan, fasilitas, pendampingan, dan waktu untuk memahami pendekatan pembelajaran yang baru.
Kondisi setiap sekolah juga berbeda. Sekolah dengan fasilitas memadai mungkin lebih mudah menerapkan pembelajaran berbasis teknologi atau proyek. Sebaliknya, sekolah dengan keterbatasan sumber daya dapat menghadapi tantangan yang lebih besar.
Situasi ini menunjukkan bahwa kebijakan yang sama belum tentu menghasilkan pengalaman belajar yang setara. Jika perubahan tidak disertai pemerataan dukungan, tujuan meningkatkan kualitas pendidikan justru berisiko sulit tercapai.
Membaca Persoalan melalui Sosiologi Pendidikan
Dalam perspektif Sosiologi Pendidikan, sekolah merupakan institusi sosial yang dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi, dan lingkungan masyarakat. Karena itu, keberhasilan kurikulum tidak hanya bergantung pada rancangan kebijakan, tetapi juga pada kondisi sosial tempat kebijakan tersebut diterapkan.
Persoalan ini dapat dianalisis melalui teori reproduksi sosial Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu, pendidikan dapat turut mempertahankan ketimpangan sosial ketika perbedaan sumber daya dan modal budaya tidak memperoleh perhatian yang memadai.
Dalam konteks kurikulum, siswa yang bersekolah di lingkungan dengan fasilitas lengkap dan dukungan keluarga yang kuat mungkin memiliki kesempatan belajar lebih besar dibandingkan siswa yang menghadapi keterbatasan fasilitas. Jika perbedaan kondisi tersebut diabaikan, kurikulum yang sama justru dapat menghasilkan pengalaman pendidikan yang berbeda.
Teori ini mengingatkan bahwa pemerataan pendidikan tidak cukup dilakukan dengan menerapkan kebijakan yang sama. Pemerintah juga perlu memastikan setiap sekolah memiliki dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Konsistensi Bukan Berarti Menolak Perubahan
Kurikulum yang konsisten bukan berarti kurikulum yang tidak pernah berubah. Pendidikan memang perlu berkembang mengikuti perubahan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan peserta didik.
Namun, perubahan perlu memiliki tujuan yang jelas, tahapan pelaksanaan yang realistis, serta evaluasi berdasarkan kondisi nyata di sekolah. Pemerintah perlu mendengarkan pengalaman guru dan siswa agar kebijakan tidak berhenti sebagai dokumen administratif.
Guru juga bukan sekadar pelaksana kebijakan. Mereka merupakan pihak yang menerjemahkan kurikulum menjadi pengalaman belajar sehari-hari. Karena itu, keberhasilan perubahan membutuhkan keterlibatan dan dukungan nyata bagi para pendidik.
Evaluasi pun seharusnya tidak hanya mengukur apakah sekolah telah menerapkan kebijakan baru, tetapi juga apakah siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih baik.
Pendidikan Membutuhkan Arah yang Berkelanjutan
Pada akhirnya, persoalan kurikulum Indonesia bukan hanya tentang seberapa sering kebijakan berubah, melainkan apakah perubahan tersebut membawa perbaikan yang nyata.
Melalui perspektif Sosiologi Pendidikan, kita memahami bahwa kebijakan pendidikan selalu berhadapan dengan kondisi sosial yang beragam. Kurikulum yang baik membutuhkan kesiapan guru, fasilitas yang memadai, pemerataan kesempatan, dan evaluasi yang berkelanjutan.
Pemerintah tentu perlu memperbarui pendidikan sesuai perkembangan zaman. Namun, tanggung jawab tersebut tidak berhenti pada peluncuran kebijakan baru. Pemerintah juga harus memastikan kebijakan dapat diterapkan secara realistis dan memberikan manfaat bagi peserta didik.
Kurikulum boleh berkembang dan metode pembelajaran boleh diperbarui. Namun, tujuan menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan harus tetap menjadi arah bersama.
Pendidikan Indonesia tidak hanya membutuhkan kurikulum yang terus diperbarui, tetapi juga kesinambungan kebijakan, kesiapan pelaksanaan, dan komitmen untuk memperbaiki kualitas pembelajaran.
