Berhenti Takut, Mulai Mengerti: Cara Kita Memandang HIV Harus Berubah

Saya merupakan seorang mahasiswa semester 6 program studi Kedokteran Universitas Bangka Belitung
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ardella Rizki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jujur saja, banyak dari kita masih merasa takut ketika mendengar kata HIV. Rasa takut itu sering muncul bukan karena kita benar-benar paham, tetapi justru karena kita kurang informasi. Dari situ lahir prasangka, jarak, bahkan penolakan terhadap orang dengan HIV (ODHIV). Padahal, kenyataannya sudah jauh berubah dari yang selama ini kita bayangkan.
Hari ini, HIV bukan lagi vonis mati seperti dulu. Dengan pengobatan rutin, ODHIV bisa hidup sehat, bekerja, dan menjalani aktivitas seperti orang lain. Bahkan ketika virusnya tidak terdeteksi, mereka tidak menularkan HIV kepada orang lain. Ini bukan sekadar opini, melainkan fakta medis yang sudah terbukti.
Sayangnya, informasi seperti ini sering kalah cepat dibandingkan stigma. Masih banyak yang percaya HIV menular lewat bersalaman, makan bersama, atau duduk berdekatan. Akibatnya, ODHIV dijauhi bukan karena mereka berbahaya, tetapi karena kita belum cukup paham. Yang lebih menyedihkan, penolakan ini sering datang dari lingkungan terdekat.
Stigma bukan hanya melukai secara emosional, tetapi juga berdampak nyata dalam kehidupan. Banyak orang enggan melakukan tes HIV karena takut dihakimi. Ada juga yang sudah terdiagnosis, tetapi menunda pengobatan karena khawatir identitasnya terbongkar. Akibatnya, penanganan menjadi terlambat dan risiko justru semakin besar.
Di titik ini, kita perlu jujur melihat masalahnya. Yang membuat HIV terasa menakutkan bukan hanya virusnya, tetapi cara kita memperlakukan orang yang hidup dengannya. Cara pandang yang keliru ini memperpanjang masalah yang sebenarnya bisa dikendalikan. Tanpa perubahan sikap, stigma akan terus menjadi penghalang.
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang tersebut. HIV bukan persoalan moral atau label terhadap seseorang, melainkan isu kesehatan yang perlu ditangani dengan bijak. Setiap orang berhak mendapatkan dukungan, bukan pengucilan. Di sinilah empati dan pemahaman menjadi kunci.
Perubahan bisa dimulai dari hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Berhenti menyebarkan mitos, berani meluruskan informasi yang salah, dan memperlakukan ODHIV secara wajar adalah langkah awal yang penting. Tidak perlu tindakan besar untuk membuat perubahan. Cukup mulai dari sikap yang lebih manusiawi.
Pada akhirnya, ODHIV tetaplah manusia dengan kehidupan dan harapan yang sama. Mereka bukan “yang lain” yang harus dijauhi. Justru penerimaan dari lingkungan sekitar sangat berarti bagi mereka. Mungkin yang perlu kita ubah bukan mereka, tetapi cara kita melihat mereka.
Sumber :
Earnshaw, V. A., & Chaudoir, S. R. (2009). From conceptualizing to measuring HIV stigma: a review of HIV stigma mechanism measures. AIDS and Behavior.
Kementerian Kesehatan RI. (2022). Laporan Perkembangan HIV/AIDS di Indonesia.
