Owl House Coffee, Secuil Mimpi “Keadilan Sosial” dalam Kedai Kopi

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Owl House, Koperasi Purusha (Foto: Instagram/@owlhousecoffee)
zoom-in-whitePerbesar
Owl House, Koperasi Purusha (Foto: Instagram/@owlhousecoffee)

Bernama Owl House Coffee, kedai kopi di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat itu, memang buka pada waktu malam, serupa siklus hidup burung hantu (owl) sang hewan malam (nokturnal).

Sepintas, tak ada beda antara Owl House dengan kedai kopi atau coffee shop lain. Senja itu, sekitar pukul 19.00, Owl House ramai pengunjung. Kelompok anak muda, pasangan muda mudi, remaja tanggung, hingga para aktivis mengobrol santai sambil menyesap kopi. Khas suasana rumah kopi.

Dekorasi pada ruangan Owl House didominasi warna kuning dan cokelat, sehangat kopi. Sementara menu yang ditawarkan, sama dengan warung kopi masa kini lainnya.

Pada bagian depan Owl House, terpampang toples berisi kopi bertuliskan daerah asal kopi tersebut. Sementara di sudut lain, pada dinding terpasang rak memanjang berisi buku-buku kelas “berat”, kebanyakan tentang ilmu sosial.

instagram embed

Saat kumparan bertandang, Senin (10/7), Prasojo, pengelola harian Owl House, menyambut hangat. Kopi Toraja Kale menjadi pilihan kami untuk diseduh kali itu.

Prasojo menggiling kopi dan meracik serbuknya dengan cakap, sebelum kemudian menyodorkannya pada kami.

Sembari membuka lembaran buku yang kami ambil dari rak, di sela obrolan hangat antarkawan, pahit kopi terasa nikmat di lidah.

Beginilah hidup seharusnya, bukan? Dan beginilah kedai kopi seharusnya. Menawarkan ketenteraman dan pengetahuan --lewat deretan buku di rak mereka-- kepada para pengunjungnya.

Tapi, Owl House Coffee yang dicetuskan 28 November 2015 bahkan menawarkan lebih dari itu. Kedai kopi ini, yang seluruh fitur dan fasilitasnya sungguh-sungguh menandakan sebuah rumah kopi, merupakan unit produksi pertama dari Koperasi Purusha.

Tunggu, apa? Koperasi?

Ya, anda tak salah dengar: koperasi --yang secara hafiah memiliki arti “perserikatan yang bertujuan memenuhi keperluan para anggotanya dengan cara menjual barang keperluan sehari-hari dengan harga murah (tidak bermaksud mencari untung).”

Di tengah hiruk pikuk semangat ekonomi berbasis korporasi, sekelompok anak muda memilih mendedikasikan diri untuk kembali berkolektif dan bergotong royong. Mereka mendirikan unit usaha bernama Koperasi Riset Purusha.

Owl House, Koperasi Purusha (Foto: Instagram/@owlhousecoffee)
zoom-in-whitePerbesar
Owl House, Koperasi Purusha (Foto: Instagram/@owlhousecoffee)

Didirikan oleh beberapa orang yang berkutat di bidang penelitian ilmu sosial, Koperasi Riset Purusha hadir untuk mengkoperasikan berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat, mulai produksi ilmu pengetahuan hingga produksi kebutuhan barang dan jasa.

Lalu jenis koperasi macam apa sesungguhnya yang dijalankan oleh kawan-kawan Purusha?

Hizkia Yosie Polimpung, salah satu pendiri Purusha, mengatakan koperasinya bereksperimen untuk mewujudkan model usaha yang benar-benar kolektif. Oleh sebab itu, prasyarat paling utama adalah menitikberatkan pada peran pekerja melalui sistem ekonomi demokratis.

“Manajemen model koperasi nggak berbasis modal, tapi nilai kerja. Di koperasi, modal nggak punya ‘suara’, yang punya suara itu pekerja,” kata Yosie saat berbincang dengan kumparan di Kalibata City, Jakarta Selatan.

Purusha berjalan menggunakan prinsip koperasi, dan menerjemahkannya sampai level konkret.

Jika biasanya kebijakan dan arah perusahaan ditentukan oleh pemodal, maka koperasi merujuk arah sebaliknya. Di sinilah Purusha ingin membuktikan apakah koperasi bisa membuktikan mampu mengelola porsi modal, manajemen produk, hingga harga secara demokratis.

Untuk itu, konsep koperasi dalam pikiran Yosie dan kawan-kawan tersebut diuji coba lewat kedai kopi mereka, yang salah satu unit produksinya adalah kafe bernama Owl House Coffee.

Meracik kopi di Owl House, Koperasi Purusha. (Foto: Ardhana Pragota/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Meracik kopi di Owl House, Koperasi Purusha. (Foto: Ardhana Pragota/kumparan)

Yang membedakan Owl House dengan kedai kopi lain adalah manajemen bisnisnya. Ini tentu saja, karena Owl House mengusung konsep koperasi.

“Bagaimana pembagian nilai kerja buat pengelola bisa proporsional. Mulai waktu yang diluangkan, tenaga yang diberikan, dan ide yang dicurahkan. Nggak ada fix cost gaji karyawan. Semakin ramai, apa yang didapat semakin besar,” ucap Prasojo di Owl House Coffee.

Niat awal membangun Owl House dengan model koperasi nyatanya memiliki banyak kendala. Apalagi, ujar lelaki yang akrab disapa Pras itu, proses rintisan tak lepas dari panah keberuntungan.

“Ada yang menyewakan tempat ini (lokasi Owl House) kepada kami, tapi tidak perlu bayar normal. Pemilik mau diajak sharing profit 30 persen,” kata Pras.

Perbedaan lainnya adalah modal awal. Alih-alih memilih jalan yang biasa ditempuh pemilik kedai kopi lain dengan menggelontorkan dana besar dari kantong individu pemilik modal, Owl House memperoleh modalnya dari patungan.

“Patungan anggota dipukul rata, namun ada yang patungan lebih secara sukarela,” ujar Pras.

Dalam proses operasional, Owl House meminimalisasi penggunaan tenaga kerja berbasis gaji. Pekerjanya tak lain adalah para anggota koperasi --yang itu kebanyakan berprofesi sebagai peneliti dan dosen.

Jangan kaget, Pras sendiri merupakan dosen di Universitas Bhayangakara, Jakarta. Namun jika sudah memegang kopi di Owl House, ia sungguh tak terlihat seperti seorang dosen.

Pras jago dengan kopi-kopian. Ia bisa meracik kopi dengan andal. Ketika pengunjung telah rampung menikmati kopi mereka, Pras bahkan tak sungkan membawa lap untuk membersihkan meja, juga mencuci piring dan gelas kotor.

Kerja Pras di Owl House dihitung secara proporsional. “Kalau ramai setiap malam ya kami dapat lebih banyak.”

Owl House, Koperasi Purusha (Foto: Instagram/@owlhousecoffe)
zoom-in-whitePerbesar
Owl House, Koperasi Purusha (Foto: Instagram/@owlhousecoffe)

Pilihan berkoperasi yang terwujud melalui Owl House dilandasi oleh perjalanan panjang para anggotanya dalam melihat realitas ekonomi saat ini. Sebagai contoh, Yosie. Pria yang bekerja di perusahaan konsultasi bisnis itu akrab dengan dunia pergerakan dan keilmuan teori kritis.

Ia beberapa tahun menjadi pengajar, dan kiprahnya sebagai peneliti dikenal luas. Sepak terjangnya sebagai kolumnis juga dikenal hebat. Mulai artikel opini hingga menelanjangi buku filsafat, pernah dilakukan Yosie.

Koperasi adalah salah satu jalan keyakinan Yosie untuk mewujudkan kritik kepada sistem ekonomi yang timpang dan tak adil. Dan kopi menjadi titik awal dari bentuk ikhtiar gagasannya. Suatu gagasan “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Yosie kemudian bercerita tentang pengalamannya mendampingi pemberdayaan masyarakat di Bengkulu. Ia mendapati para petani bekerja susah payah menumbuhkan tanaman kopi selama 2 tahun, dan merawat biji kopi selama 3-4 bulan.

Namun, Yosie menganggap jerih payah petani-petani itu tak terbayar dengan sepadan. Ia kemudian menyodorkan hitung-hitungannya, menyimulasikan apa yang terjadi dalam rantai pasokan kopi.

Pada sebuah pusat pembibitan kopi di Bengkulu, kelompok petani yang terlibat harus bersusah payah menanam dan merawat biji kopi selama 3-4 bulan. Setelah panen, biji-biji kopi kemudian disangrai di roastery.

Setelah disangrai dengan mesin selama 30 menit, kopi memiliki kisaran harga Rp 300 ribu per kilogram yang kemudian dijual ke kedai kopi. Sampai di sini, harga per kilogram kopi kemudian akan melonjak tajam ketika kopi tersebut dijual ke konsumen.

Kopi seduh seharga Rp 20 ribu membutuhkan 18 gram kopi. Setelah diseduh dan dituangkan dalam secangkir kopi, per kilogram kopi yang semula hanya Rp 300 ribu naik drastis menjadi Rp 1 juta.

Jadi, ada selisih sejumlah besar uang dari proses penanaman kopi sampai panennya, ke saat kopi itu sudah di kedai kopi dan diberi harga lalu diseduh untuk konsumen.

Itu sebabnya visi Yosie di dunia kopi adalah mengkoperasikan seluruh rantai pasokan kopi, agar keuntungan bisa terbagi adil dari penanam, petani, barista, bahkan kalau bisa sampai tukang sapu kedai.

“Nilai (keuntungan) mestinya bisa terbagi dari hulu sampai hilir,” ujar Yosie.

Intinya: keadilan sosial bagi semua pihak yang terlibat proses produksi.

Owl House, Koperasi Purusha (Foto: Instagram/@owlhousecoffee)
zoom-in-whitePerbesar
Owl House, Koperasi Purusha (Foto: Instagram/@owlhousecoffee)

Yosie sadar cita-citanya untuk mengarusutamakan koperasi ke tengah masyarakat, masih harus menempuh perjalanan panjang. Saat ini saja, baru dua orang yang hidup dari koperasi.

Tapi Yosie pantang surut untuk mewujudkan bagaimana koperasi dapat memenuhi kebutuhan hidup anggotanya. Sembari mengelola Owl House Coffee, ia dan kawan-kawannya membentuk unit riset kolektif guna mereplikasi koperasi.

“Kalau kami harus memilih anggota bertambah atau koperasi bertambah, kami pilih yang kedua,” ujar Yosie.

Oleh karena itu, selain menjual kopi, Owl House juga menjadi tempat diskusi asyik bagi berbagai kalangan, dengan ragam kajian. Dalam kajian-kajian itu, koperasi tentu saja mendapat tempat khusus.

Semisal, tiap malam Minggu, Purusha via Owl House menggelar konsultasi bertajuk Koperasi Urban bagi siapapun yang ingin mendirikan koperasi.

Paling tidak, lewat diskusi dan perbincangan hangat, upaya untuk mempopulerkan koperasi sebagai model produksi ideal yang dapat dijalankan masyarakat, disemai kecil-kecilan.

instagram embed

Ikhtiar Koperasi Purusha, salah satunya lewat kedai kopi mereka, menjadi angin segar bagi segala rupa inisiatif untuk mewujudkan kemandirian ekonomi.

Menyemarakkan kembali koperasi ke tengah bangsa yang mengklaim masyarakatnya gemar bergotong royong adalah sebuah ikhtiar yang patut disambut. Terlebih, koperasi kini makin ditinggalkan, terutama di perkotaan yang akrab dengan hedonisme.

Ironisnya lagi, dari data Kementerian Koperasi dan UKM yang menunjukkan Indonesia memiliki 209 ribu koperasi, jumlah sebanyak itu hanya mampu berkontribusi 1,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negeri ini.

Koperasi lantas cuma jadi pajangan, simbol, atau seremoni keanggotaan seperti koperasi pegawai atau koperasi unit desa, tanpa benar-benar digunakan sebagai penggerak produktif masyarakat.

Suasana diskusi di Owl House Coffee. (Foto: Instagram/@owlhousecoffee)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana diskusi di Owl House Coffee. (Foto: Instagram/@owlhousecoffee)

Malam kian kelam, namun Owl House masih berdenyut. Kedai kopi yang buka mulai pukul 19.00 malam itu, baru akan menutup pintunya setelah hari berganti, ketika jarum jam berada di angka 01.00 dini hari.

Sudah saatnya Hari Koperasi Nasional, yang jatuh pada 12 Juli tiap tahunnya --ya, hari ini-- tak lagi sekadar seremoni semata.

Selamat Hari Koperasi.