Menatap Jurang Teknologi Negeri vs China
Tulisan dari Ardi lukmanul hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tantangan Integrasi Teknologi dan Tata Kelola Data
Oleh: Ardi Lukmanul Hakim
(Mahasiswa Program Studi S1 Sistem Informasi, Universitas Pamulang)

Perkembangan teknologi dan era digitalisasi global menunjukkan ketimpangan yang kian melebar, terutama jika melihat lompatan pesat China dalam menguasai Artificial Intelligence dan robotik. Tiongkok kini berdiri sebagai salah satu raksasa teknologi dunia melalui penerapan Smart City yang presisi, ekosistem pembayaran cashless terintegrasi, hingga dominasi jaringan 5G/6G. Sementara itu, pembangunan teknologi di dalam negeri masih terus berjuang merapikan fondasi digital dasarnya. Pertanyaannya, dari sudut pandang Sistem Informasi, apa sebenarnya yang membuat jurang (gap) kemajuan teknologi ini begitu jauh dibanding Tiongkok?
Banyak orang beranggapan bahwa masalah utamanya adalah anggaran atau kecepatan internet. Namun, jika dibedah lebih dalam dari kacamata arsitektur Sistem Informasi, perbedaan mendasar terletak pada integrasi dan tata kelola data publik.
Di Tiongkok, pembangunan teknologi dilakukan dengan pendekatan National Integrated System. Pemerintah Tiongkok membangun satu standar arsitektur data nasional yang saling terhubung (interoperabel). Hasilnya, sistem transportasi, perbankan, layanan kesehatan, hingga identitas digital warga terhubung secara real-time. Data yang terintegrasi ini menjadi bahan bakar utama bagi perkembangan algoritma AI mereka.
Sebaliknya, masalah klasik yang sering kita jumpai di negeri sendiri adalah fenomena ego sektoral aplikasi. Setiap instansi atau lembaga cenderung membangun aplikasi dan sistem informasinya masing-masing secara terpisah. Akibatnya, terjadi duplikasi data, aplikasi yang sering mangkrak, dan masyarakat yang dipusingkan karena harus mengunduh puluhan aplikasi berbeda hanya untuk mengurus dokumen publik.
Selain masalah integrasi, aspek kemandirian infrastruktur juga menjadi pembeda krusial. Tiongkok sangat fokus membangun Data Center dan server lokal mereka sendiri untuk menjaga kedaulatan data nasional. Sebaliknya, ekosistem digital domestik saat ini masih sangat bertumpu pada infrastruktur komputasi awan (cloud) dan platform milik asing, yang membuat sistem informasi rentan terhadap isu keamanan dan kebocoran data pribadi.
Namun, jurang teknologi ini bukanlah hal yang mustahil untuk dipangkas. Modal dasarnya adalah jumlah populasi digital yang sangat masif dan adaptif. Langkah awal yang harus dibenahi bukanlah membuat ribuan aplikasi baru, melainkan melakukan penyederhanaan dan integrasi sistem informasi secara terpusat.
Pembangunan teknologi tidak boleh lagi hanya berfokus pada kuantitas aplikasi atau kemewahan tampilan antarmuka (UI/UX). Fokus utama harus beralih pada penguatan fondasi: standar tata kelola data yang terintegrasi, keamanan siber yang tangguh, serta kemandirian infrastruktur digital. Tanpa fondasi Sistem Informasi yang solid, kita akan selalu menjadi sekadar konsumen dalam peta persaingan teknologi dunia.

