Konten dari Pengguna

Ankat Prut, Rahasia Perempuan Jawa Mengendalikan Kesuburan di Abad ke-19

Ardiansyah (ardiholmes)

Ardiansyah (ardiholmes)

Guru Sejarah dan Penulis Sejarah

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ardiansyah (ardiholmes) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Antara 1887 dan 1893, ginekolog Belanda C.H. Stratz bertugas di Surabaya dan Batavia, dan terus mendengar cerita bahwa para dukun Jawa sanggup membuat seorang perempuan berhenti subur. Rahasianya ternyata tersimpan di balik satu istilah bermakna ganda, ankat prut, yang bisa berarti pijatan biasa seusai melahirkan atau manipulasi rahim untuk mencegah kehamilan. Lewat kasus-kasus pasiennya, Stratz menyimpulkan tekniknya berupa retrofleksi rahim yang sengaja ditimbulkan lewat gerakan tangan dari luar. Inilah kisah pengetahuan reproduksi milik perempuan Jawa yang nyata meski berisiko, dan yang kemudian terhapus dari ingatan ketika makna kata dukun menyempit menjadi sekadar urusan magis.

Halaman judul Die Frauen auf Java: Eine gynäkologische Studie karya Dr. C.H. Stratz, terbit di Stuttgart oleh Ferdinand Enke pada 1897. Dari buku inilah seluruh catatan tentang ankat prut berasal. Dok. Istimewa.
zoom-in-whitePerbesar
Halaman judul Die Frauen auf Java: Eine gynäkologische Studie karya Dr. C.H. Stratz, terbit di Stuttgart oleh Ferdinand Enke pada 1897. Dari buku inilah seluruh catatan tentang ankat prut berasal. Dok. Istimewa.

Antara 1887 dan 1893, seorang ginekolog Belanda bernama C.H. Stratz bertugas di Surabaya dan Batavia. Ia pulang membawa sebuah buku berjudul Die Frauen auf Java, terbit di Stuttgart pada 1897.

Di dalamnya ada satu hal yang selama bertahun-tahun mengganggu pikirannya. Ia terus mendengar bahwa para dukun di Jawa sanggup menyalakan dan mematikan kesuburan perempuan sesuka hati.

Ia tidak langsung percaya, tetapi juga tidak bisa mengabaikannya, karena pasien-pasiennya sendiri terus membawa bukti ke ruang periksanya.

Dunia persalinan yang bukan milik dokter

Untuk memahami mengapa cerita itu penting, perlu dilihat dulu siapa yang menguasai urusan kelahiran di Jawa saat itu.

Menurut sejarawan Liesbeth Hesselink dalam bukunya Healers on the Colonial Market, sekolah bidan yang dibuka pemerintah kolonial di Batavia pada 1851 ditutup lagi pada 1875, setelah hanya meluluskan sekitar seratus bidan.

Stratz mencatat bahwa pada masanya sekolah bidan praktis tidak ada di Jawa. Ia bahkan sampai melatih sendiri empat calon bidan di rumah sakit militer.

Di tengah kekosongan itu, dukunlah yang menangani kelahiran perempuan Jawa, perempuan campuran, bahkan tidak sedikit nyonya Eropa.

Sikap Stratz terhadap mereka tidak lazim untuk ukuran dokter kolonial. Ia justru menulis bahwa sebagian besar dukun berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada rata-rata bidan Eropa.

Pengakuan itu ada dasarnya. Tanpa pemeriksaan dalam, para dukun bisa menentukan posisi janin hanya lewat rabaan dari luar perut.

Satu Istilah untuk Dua Hal yang Sangat Berbeda

Anggota Komunitas Wiji Kendeng dari masyarakat Sedulur Sikep memukul lesung dengan alu saat tradisi Jamasan Kendeng di Desa Gadudero, Sukolilo, Pati, Jateng, Senin (22/6/2026). Foto: Aji Styawan/ANTARA FOTO

Yang membuat praktik ini sulit ditembus orang luar bukan kerahasiaan yang ketat, melainkan sebuah trik bahasa.

Istilah yang dipakai para dukun adalah ankat prut, yang secara harfiah berarti mengangkat perut. Dalam arti pertama, itu berarti pijatan ringan di perut ibu seusai melahirkan, sekadar merapikan tubuh supaya tidak gelambir.

Dalam arti kedua, ankat prut adalah manipulasi rahim tingkat lanjut yang tujuannya membuat seorang perempuan berhenti subur.

Stratz menulis soal kebingungan yang ditimbulkan istilah itu:

"Sebuah sebutan yang juga dipakai untuk usapan yang sepenuhnya tidak berbahaya di daerah pinggang saat masa nifas. Dengan cara demikian, tidak pernah bisa dipastikan apa yang sebenarnya dimaksud sang dukun dengan Ankat prut dalam suatu kasus."

Rahasianya bersembunyi di depan mata.

Sembilan bidan Jawa di Semarang. Foto ini memperlihatkan sisi lain dari dunia persalinan di masa kolonial, yaitu perempuan pribumi yang bekerja di jalur resmi, berdampingan dengan para dukun yang saat itu menguasai sebagian besar kelahiran di Jawa. (Sumber: Collectie Wereldmuseum, dahulu Tropenmuseum, via Wikimedia Commons)

Kasus 1888

Stratz membongkarnya bukan lewat wawancara, melainkan lewat pasien yang datang dalam keadaan buruk. Pada 1888, seorang perempuan mendatanginya dengan gejala berat setelah menjalani ankat prut untuk mencegah kehamilan.

Stratz menemukan rahim perempuan itu terjepit dalam posisi terbalik, sampai air seninya tertahan.

Dari kasus itu dan sejumlah kasus lain, ia sampai pada satu kesimpulan:

"Rahasia dukun untuk menimbulkan kemandulan terletak pada retrofleksi rahim yang ditimbulkan secara buatan melalui gerakan tangan dari luar."

Retrofleksi adalah kondisi rahim yang menekuk ke belakang. Dengan tekanan dan pijatan dari luar perut, dukun sengaja membuat rahim berada di posisi tersebut, dan posisi itulah yang membuat perempuan sulit hamil.

Waktu paling manjur, menurut pengakuan para perempuan sendiri, adalah hari-hari pertama setelah melahirkan atau keguguran.

Ada satu kasus yang paling banyak bercerita. Seorang ibu dengan rumah penuh anak tiba-tiba berhenti mengandung setelah satu kali kunjungan ke dukun seusai melahirkan.

Sang dukun mengira ia sudah tidak menginginkan anak lagi, lalu melakukan ankat prut dalam arti yang sebenarnya. Perempuan itu baru menyadari dirinya tidak bisa hamil lagi bertahun-tahun kemudian.

Seberapa Manjur Sebenarnya?

Di bagian ini Stratz bersikap jujur sebagai dokter. Metode ini, simpulnya, hanya berhasil pada sekitar separuh kasus. Tidak selalu benar-benar mencegah kehamilan meski dianggap berhasil, dan kerap mengancam nyawa, terutama bila dilakukan tepat setelah persalinan.

Ada satu adegan yang menunjukkan batas kemampuan itu. Seorang dukun ternama yang lama ia dekati akhirnya bersedia memperagakan tekniknya, dan berhasil membalik lalu mengembalikan rahim seorang pasien dengan mudah. Tetapi ketika Stratz sengaja membuat posisinya sedikit lebih sulit, dukun itu tidak lagi mampu mengembalikannya.

Dukun itu lalu mengakui sendiri, dalam catatan Stratz:

"Pengembalian rahim itu sangat sulit dan sering gagal, tetapi kehamilan tetap kerap terjadi bila para perempuan percaya pada keahlian itu."

Sebuah pengakuan yang menyentuh peran sugesti dalam praktik yang selama ini dianggap murni teknis.

Selain manipulasi rahim, para dukun juga punya jalur lain untuk memancing keguguran, mulai dari pijat berkepanjangan, pencahar keras, sampai dosis besar kina.

Ilmu yang Terhapus dari Ingatan

Cerita ini bukan kisah pemberdayaan yang manis. Metodenya berisiko, keberhasilannya jauh dari pasti, dan persetujuan pun tidak selalu utuh seperti pada kasus si ibu beranak banyak.

Namun ada yang layak dicatat. Di zaman tanpa pil dan tanpa klinik, perempuan Jawa punya jalurnya sendiri untuk mengendalikan tubuh dan kesuburannya, lewat pengetahuan yang diwariskan turun-temurun dan dipegang sesama perempuan.

Pengetahuan itu nyata, meski tidak sempurna. Stratz bahkan menulis pengakuan yang jarang keluar dari mulut sejawatnya:

"Dengan senang hati saya akui juga bahwa dalam hal ini saya telah belajar banyak dari para kolega perempuan berkulit kecokelatan itu."

Sebutan itu terdengar janggal di telinga hari ini, tetapi maksudnya jelas. Ia menempatkan para dukun sebagai sesama ahli, bukan sebagai objek yang perlu diperbaiki.

Yang terjadi kemudian justru sebaliknya. Menurut sejarawan Eka Ningtyas, sepanjang abad ke-20 makna kata dukun perlahan menyempit menjadi sekadar urusan magis, dan keahlian tangan yang klinis seperti dicatat Stratz ikut terhapus dari ingatan.

Padahal di sanalah pernah ada sebuah ilmu yang sepenuhnya milik perempuan Jawa.