Hanandjoeddin, Sang Pahlawan Perintis dari Belitong!

Guru Inovatif Nasional 2020 (KEMDIKBUD) & 2023 (Penerbit Erlangga) - Agen Pusat Penguatan Karakter (PUSPEKA) KEMDIKBUDRISTEK - Fasilitator Literasi Regional Sumatra BADAN BAHASA - Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sosiologi Kab. Belitung Timur
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ares Faujian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaikan mentari yang tak menyinari sudut-sudut gelap, banyak orang hanya mengenal nama "Hanandjoeddin" sebagai nama bandara di Pulau Belitung (Belitong), atau bahkan sekadar tahu sosok-sosok dari Pulau Belitung lainnya, seperti Yusril Ihza Mahendra, Ahok, Andrea Hirata, hingga Shabrina Leanor yang tengah viral di Indonesian Idol 2025. Namun, jauh di balik itu semua, tersembunyi sosok H.AS. Hanandjoeddin yang sebenarnya sangat menginspirasi dan perlu dijadikan teladan melalui jiwa kepahlawanannya.
Lahir dan Menimba Ilmu
Berdasarkan buku Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H.AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI (Andersen, 2015), Haji Ahmad Sanusi Hanandjoeddin atau H.AS. Hanandjoeddin lahir pada 5 Agustus 1910 di Tanjung Tikar, Belitung, sebagai putra sulung Mohammad Djoeddin bin Ali dan Selamah. Sejak kecil, beliau telah diasah nilai kedisiplinan, kejujuran, dan keuletan oleh ibunda dan keluarga angkatnya, Haji Hasyim di Tanjungpandan. Pendidikan formalnya dimulai di Sekolah Agama (1920–1925), dilanjutkan di Sekolah Rakyat (1926–1931), kemudian menekuni jurusan mesin dan listrik di Ambacht School (1931–1934), dan kembali ke Sekolah Agama hingga 1937. Semua pendidikan ini ditempuhnya di Pulau Belitung.
Mengawali Karier dan Merintis Parindra
Setelah menamatkan Ambacht School di Manggar (sekarang bernama SMKS Stania Manggar), Hanandjoeddin bekerja sebagai pegawai bengkel di Gemeenschappelijke Mijnbouwmaatschappij Billiton (GMB) di Belitung tahun 1934. Perubahan status dialami Hananjoeddin, ia dipercaya sebagai koordinator para montir di bengkel GMB, yang selanjutnya beliau diminta GMB untuk bekerja di tambang bauksit Naamloze Venotschap Indische Bauxit Exploitatie Maatschappij (NIBEM) di Tanjung Pinang, Riau (Kepala Staf Angkatan Udara, 2020 dalam Sapto et al., 2022).
Pada 1937, beliau bergabung dengan Partai Indonesia Raya (Parindra), aktif menyebarkan semangat “Indonesia Berparlemen” yang dicetuskan Mohammad Husni Thamrin. Aktivitas ini menyebabkan penahanan sementara oleh Politieke Inlichtingen Dienst (PID), yakni intelijen Belanda, yang pada akhirnya beliau memilih pergi ke Malang, Jawa Timur (Andersen, 2015; Sapto et al., 2022; Swastiwi et al., 2018).
Karier Militer Hanandjoeddin
Di Malang, karier militer Bung Anan (sapaan akrabnya) bermula. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Bung Anan memprakarsai pembentukan Badan Keamanan Rakyat Angkatan Oedara (BKR Oedara) di Malang. Berbekal pengalamannya sebagai mekanik pesawat untuk satuan Ozawa Butai Jepang, pada 10 Oktober 1945 beliau memimpin pengresmian BKR Oedara di Hotel Candaria, Malang, mengumpulkan 76 teknisi udara yang siap memperbaiki puluhan pesawat Jepang menjadi alutsista pertama Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara (Andersen, 2015; Sapto et al., 2022).
Dicatat sebagai pelopor Divisi VIII Jawa Timur, Bung Anan dalam literatur Biografi H.AS Hanandjoeddin (Sapto et al., 2022) diangkat menjadi Letnan Satu Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 1 Januari 1946, kemudian meniti jenjang pangkat hingga Mayor Udara pada Januari 1964. Sepanjang karier militernya (1937–1965), ia mengikuti kursus LDK VII dan SIS VII (1955), bertugas di Pangkalan Udara Malang, Surabaya, Kalidjati, Halim, hingga Mabesau, dan mengakhiri dinas aktif pada 31 Januari 1966. Dalam pengabdian 26 tahun, ia meraih tanda jasa bergengsi, antara lain: Bintang Gerilya Pahlawan, Bintang Garuda Tertinggi di AURI (No. 00045), Swa Buana Paksa Kelas III, Bintang Sewindu APRI, dan deretan Satya Lencana militer lainnya. Atas jasa-jasa dan akhir kariernya, pada 1968 Panglima TNI AU Laksamana Udara Roesmin Noerjadin menganugerahkan kenaikan pangkat kehormatan menjadi Letnan Kolonel Udara (Purnawirawan). Sebagai bentuk dedikasi berkelanjutan, Hanandjoeddin membangun Markas Komando Pangkalan Udara (Lanud) di Tanjungpandan, yang diresmikan pada 14 April 1971. Setelah pensiun dari TNI AU, H. AS. Hanandjoeddin menjabat sebagai Bupati Belitung dari tahun 1967 hingga 1972. Jabatan militer terakhir adalah Komandan Kompi Pasgat di Lanud Palembang (Swastiwi et al., 2018).
Gelar dari Presiden Soekarno
Pada 17 Maret 1947, Hanandjoeddin berangkat dari Malang menuju Yogyakarta bersama Dr. Abdurrachman Saleh untuk mengawal pesawat Hayabusa dalam misi penting mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Sesampainya di Yogyakarta, Hanandjoeddin dipersilakan bertemu dengan Kepala Staf Angkatan Udara, Marsda TNI Soerjadi Soerjadarma, yang kemudian memperkenalkannya kepada Presiden Soekarno. Menyadari peran krusial para mekanik pesawat dalam perjuangan udara, Presiden Soekarno dengan “mata batin” kepemimpinannya secara pribadi menganugerahkan gelar “Akademi Senter” (disingkat AS) kepada Hanandjoeddin sebagai penghormatan atas jasa dan dedikasinya bagi AURI dan bangsa Indonesia (Andersen, 2015; Sapto et al., 2022).
Kisah “Pak Long” Bupati Belitung dan Ikrar Tanjungkelayang
Memasuki era Orde Baru, Hanandjoeddin dilantik sebagai Bupati Belitung ke-8 pada 22 Mei 1967, dan menjalankan tugas hingga 7 Desember 1972. Dikenal akrab sebagai “Pak Long”, sapaan hormat masyarakat Belitung, ia mencetuskan pendirian Perusahaan Daerah (cikal bakal Badan Usaha Milik Daerah) yang diwujudkan dengan nama PD Ampera Bhakti. Sebagai Bupati Belitung, ia juga mendorong program Kursus Kilat Pendidikan Guru (KKPG) untuk mengatasi kelangkaan guru, mendirikan asrama pelajar di Bandung dan di Jakarta. Selain itu, terobosan luar biasa yang beliau lakukan yaitu mendirikan Sekolah Tinggi Hukum Belitung (STHB) sebagai cabang Universitas Sriwijaya, yang juga menjadi bukti komitmennya pada kualitas sumber daya manusia di Belitung (Andersen & Sutrisno, 2021; Sapto et al., 2022).
Melalui gaya “blusukan”, beliau membenahi infrastruktur jalan, jembatan, sekolah, hingga merintis pariwisata lokal di Tanjung Kelayang yang menimbulkan kesejahteraan baru bagi masyarakat. Blusukan keliling sholat Jum’at untuk mendengar langsung keluhan warga ini dilakukan untuk mengalokasikan anggaran perbaikan akses desa, pendidikan dan pasokan pangan. Kampung-kampung terpencil seperti Simpang Tiga dan Tungkup yang sulit dijangkau jalan pun diaspal, sehingga anak-anak tak perlu berjalan kaki berjam-jam ke sekolah (Andersen & Sutrisno, 2021; Sapto et al., 2022).
Menjawab semangat membangun daerah, Hanandjoeddin yang saat itu telah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Bupati Belitung turut memprakarsai langkah awal penting pada 19 September 1968. Di Hotel Nyiur Melambai Tanjungpandan, ia dan pimpinan daerah dari tiga wilayah Bangka Belitung berkumpul untuk merumuskan “Ikrar Tanjungkelayang” (Andersen & Sutrisno, 2021; Sapto et al., 2022). Dalam ikrar ini, mereka menegaskan tekad untuk menjadikan wilayah Bangka Belitung sebagai provinsi yang mandiri, lepas dari Provinsi Sumatera Selatan, serta berperan aktif dalam pembangunan ekonomi, sosial, dan budaya di tingkat nasional (Sya et al., 2019).
“Ikrar Tanjungkelayang” menjadi tonggak sejarah perintisan Bangka Belitung menjadi provinsi baru. Melalui pertemuan itu, gagasan pendirian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mulai mendapat perhatian di Jakarta, sebagai bagian dari upaya mendesentralisasi pembangunan dan mempercepat kemajuan daerah tertinggal. Meskipun proses legislasi dan administrasi ke pusat pemerintah memakan waktu panjang, semangat deklarasi pada September 1968 ini senantiasa dikenang sebagai pijakan awal dalam memperjuangkan otonomi penuh bagi Bangka dan Belitung. Kisah perintisan ini menunjukkan bagaimana keberanian dan visi kepemimpinan lokal dengan Hanandjoeddin sebagai salah satu pelopornya, mampu memantik perubahan besar. Upaya itu membuka jalan bagi pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung secara resmi pada 4 Desember 2000, menjadikan pulau-pulau pemilik kekayaan alam melimpah tersebut berdiri sejajar dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia.
Warisan Kepahlawanan
Atas jasa-jasanya, nama H. AS Hanandjoeddin diabadikan pada berbagai nama fasilitas di Indonesia, antara lain (Sapto et al., 2022):
Pangkalan TNI AU Tanjungpandan, resmi berganti nama menjadi Landasan Udara (Lanud) H. AS Hanandjoeddin.
Nama bandara di Tanjungpandan menjadi Bandara Internasional H. AS Hanandjoeddin.
Nama jalan raya yang dulu familier disebut jalan tengah, penghubung dua kabupaten di Pulau Belitung, kini bernama Jalan H.AS. Hanandjoeddin.
Jalan H.AS. Hanandjoeddin yang merupakan salah satu nama jalan di Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo, Malang, Jawa Timur.
H.AS. Hanandjoeddin menjadi nama Gedung Balai Prajurit di Kompleks Markas Komando Batalyon 466 Grup Pasukan Khas (Kopasgat) di Makassar, Sulawesi Selatan.
Selepas purna tugas, Hanandjoeddin aktif sebagai tokoh masyarakat, pengurus Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Maskas Cabang Belitung (Imron, 2018 dalam Sapto et al., 2022). Sebagai bunga yang mekar di tengah padang yang gersang, kisah kepahlawanan H. AS. Hanandjoeddin membuktikan bahwa kepemimpinan dan pengabdian lahir dari kepedulian, nasionalisme, patriotisme dan cara berpikir yang visioner. Semoga semangat perintisnya menyentuh sanubari kita, menginspirasi perubahan mindset untuk meneladani kepahlawanannya, dan meneguhkan tekad bahwa setiap dari kita dapat menjadi lentera prakarsa di masa depan, namun dengan cara-cara yang mungkin tidak sama.
Oleh: Ares Faujian
Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah Kab. Belitung Timur (TP2GD Beltim) Pengusulan H.AS. Hanandjoeddin sebagai Pahlawan Nasional
Referensi
Andersen, H. M. (2015). Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H. AS Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI. Tanjungpandan: Yayasan Melati Tanjungpandan.
Andersen, H. M., & Sutrisno, B. (2021). Kiprah dan Kenangan Sosok Bupati H.AS. Hanandjoeddin: Memenuhi Panggilan Rakyat. Tanjungpandan: Yayasan Melati Tanjungpandan.
Sapto, A., Purwanto, B., Supriatna, N., Ridhoi, R., & Sutrisno, B. (2022). Biografi H.AS. Hanandjoeddin: Peran H.AS. Hanandjoeddin Menyumbang Awal Alutsista TNI Angkatan Udara serta Perjuangannya dalam Merebut, Mempertahankan dan Mengisi Kemerdekaan RI (pp. 1–57) [Makalah]. Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah Kab. Belitung Timur (TP2GD Beltim).
Swastiwi, A. W., Rohana, S., & Arman, D. (2018). INVENTARISASI TOKOH SEJARAH DAN BUDAYA WILAYAH KERJA BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA KEPULAUAN RIAU. Kepulauan Riau: Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau.
Sya, M., Marta, R. F., & Sadono, T. P. (2019). Tinjauan Historitas Simbol Harmonisasi Antaretnis Tionghoa dan Melayu di Bangka Belitung. Jurnal Sejarah Citra Lekha, 4(2), 153–168. https://doi.org/10.14710/jscl.v4i2.23517
