Konten dari Pengguna

Feminisme: Trend Media Sosial Belaka?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Arfanata Kusuma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini tengah ramai polemik di sosial media X/Twitter yang berpusat kepada satu kalimat: "women became feminists because of social media." Kalimat sederhana ini lantas memicu respons beragam dari berbagai pengguna, dengan mayoritas merupakan perempuan yang "curhat" mengenai pengalaman mereka bertahan hidup di dalam budaya patriarkis yang kental. Namun, di balik hal itu, masih ada sebuah pertanyaan mendasar yang belum terjawab: apakah sosial media adalah pencetak feminis baru, ataukah ia bagaikan cermin yang memantulkan luka dan realitas perempuan yang selama ini terbungkam?

Ilustrasi oleh Fabian Künzel-Zeller di Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi oleh Fabian Künzel-Zeller di Unsplash

Media Sosial: Katalis, Bukan Pencipta Utama

Walaupun gerakan feminisme di media sosial sekarang ini sangatlah masif, media sosial bukanlah penyebab utama feminisme ada. Feminisme sendiri sudah ada sejak abad ke-18 dengan karya tulis feminis awal Mary Wollstonecraft bertajuk A Vindication of The Rights of Woman (Sebuah Pembelaan atas Hak-hak Perempuan) yang berisi kritik terhadap pandangan bahwa perempuan tidak perlu menerima pendidikan. Selebihnya, tokoh perempuan Indonesia seperti Raden Ajeng Kartini turut menyuarakan masalah yang sama mengenai kaum perempuan di Jawa yang tidak memiliki akses pendidikan yang sama dengan laki-laki.

Meski bukan sebagai pencipta utama, media sosial berfungsi sebagai katalis yang memantik kesadaran gender perempuan untuk memperjuangkan hak kaumnya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pengguna perempuan yang menyuarakan pengalaman hidupnya yang membuatnya menjadi seorang feminis. Contoh yang dialami banyak pengguna adalah dalam konteks hari lebaran dimana para perempuan biasanya sibuk berurusan di dapur, sedangkan para lelaki dengan santainya meminum kopi di teras depan rumah, yang ironisnya bukan mereka seduh sendiri. Pengalaman-pengalaman inilah yang kemudian memunculkan suatu pemikiran kolektif bahwa nasib mereka "sama" dan patut diperjuangkan.

Membedakan Performative Feminism dari Kesadaran Nyata

Di sisi lain, tidak bisa dimungkiri bahwa kritik terhadap fenomena feminisme digital memang memiliki pijakan dasar. Media sosial kerap diwarnai oleh fenomena performative feminisim, yakni sebuah pergeseran di mana gagasan kesetaraan terkadang direduksi menjadi sekadar tren estetika, slogan pakaian, atau komoditas konten demi menaikkan engagement. Pada tingkat permukaan ini, tuduhan bahwa sebagian orang menjadi feminis hanya karena "ikut-ikutan tren" mungkin terasa masuk akal.

Namun, menyamaratakan seluruh gerakan kesadaran gender di ruang digital sebagai bentuk slacktivism atau aktivisme dangkal adalah sebuah pemikiran yang keliru. Tren media sosial mungkin menjadi pintu masuk pertama yang mengenalkan seseorang pada isu gender. Namun, kenyataan pahit di dunia fisik dialami secara nyata, bukan sekadar gaya hidup digital. Ada perbedaan besar antara mereka yang sekadar mengunggah tagar dengan mereka yang menggunakan platform tersebut untuk mencari jawaban atas ketimpangan yang mereka alami setiap hari.

Pembingkaian Psikologis: Dari Gaslighting Menuju Validasi Kolektif

Penjelasan mengapa narasi feminisme begitu cepat menyebar dan diserap di media sosial tidak terlepas dari mekanisme psikologis para penggunanya. Selama ini, banyak perempuan hidup dalam lingkungan yang secara halus melakukan gaslighting, yakni membuat mereka mempertanyakan validasi emosi mereka sendiri ketika merasa diperlakukan tidak adil. Kalimat seperti "cewek harus melayani cowok" atau "perempuan hanya bekerja di dapur" didoktrin sedemikian rupa sehingga realita yang tidak adil tersebut dapat di-cap sebagai hal yang lumrah atau sesuai dengan norma masyarakat. Media sosial kemudian hadir menyediakan ruang bagi perempuan untuk melakukan pembingkaian ulang kognitif (cognitive reframing).

Ketika pengguna membaca unggahan orang lain mengenai beban rumah tangga yang timpang atau pelecehan di ruang publik, seorang perempuan tidak lagi melihat pengalamannya sebagai kemalangan pribadi semata. Ia menemukan kosakata baru untuk merumuskan keresahannya, sekaligus mendapatkan validasi kolektif bahwa ketidaknyamanan yang ia rasakan selama ini nyata dan berakar dari sistem sosial yang sudah kadaluwarsa.

Realitas Patriarki sebagai Bahan Bakar Utama

Pada akhirnya, algoritma media sosial tidak memiliki kekuatan gaib untuk menciptakan kesadaran gender dari ketidakadaan. Melainkan, bahan bakar utama yang melahirkan seorang feminis tetaplah realitas patriarki yang mereka jalani setiap hari di dunia nyata. Seorang perempuan tidak mendadak menuntut kesetaraan hanya karena membaca satu tweet viral di FYP. Ia menjadi feminis karena unggahan tersebut merefleksikan beban yang ia lihat pada dirinya, ibunya, atau perempuan-perempuan terdekat lainnya. Media sosial hanyalah pengeras suara yang memantulkan kepahitan tersebut ke permukaan, sedangkan akar masalahnya tetap tertancap kuat dalam struktur sosial kita.

Bukan Sekedar Trend

Pada akhirnya, keraguan bahwa perempuan menjadi feminis "hanya karena media sosial" runtuh ketika kita melihat apa yang terjadi di luar layar ponsel. Media sosial tidak pernah melahirkan feminisme. Ia hanya menyediakan pengeras suara yang lebih nyaring bagi suara-suara yang selama ini dibungkam oleh struktur patriarki. Kesadaran gender yang teruji dan tervalidasi di era digital ini harus mampu diterjemahkan menjadi langkah konkrit di dunia nyata. Mulai dari dorongan kebijakan publik yang adil, pembagian peran domestik yang setara, hingga ruang aman di tempat kerja. Selama ketidakadilan gender masih dihidupi di dunia fisik, feminisme akan terus ada, dengan atau tanpa keberadaan media sosial.