Cerita SBY saat RI Dihantam Krisis Global 2008: Pasar Tak Cuma Dengar Angka
·waktu baca 1 menit

Presiden ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengenang masa pemerintahannya yang diwarnai beberapa tantangan. Salah satunya adalah krisis keuangan global pada 2008.
SBY bercerita ketika itu Indonesia memiliki berbagai strategi untuk bertahan, di antaranya dengan menjaga kehati-hatian fiskal.
“Ketika krisis keuangan global melanda pada 2008, Indonesia tidak kebal terhadap dampaknya. Namun kita mampu bertahan karena menjaga kepercayaan, kehati-hatian fiskal, permintaan domestik, dan koordinasi kebijakan yang baik,” kata SBY dalam acara Proficient di Perbanas Institute, Jakarta, Selasa (2/6).
Di masa kritis, kata SBY, pasar biasanya tak hanya memperhatikan angka-angka perekonomian. Sehingga ia juga menekankan pentingnya kredibilitas pemerintahan dan tata kelola ekonomi yang baik.
“Kita belajar bahwa kredibilitas sangat penting. Di masa ketidakpastian, pasar tidak hanya mendengarkan angka-angka, tetapi juga kualitas tata kelola,” ujarnya.
SBY pun menyinggung pengalaman krisis lainnya seperti tsunami Aceh pada 2004. Menurut SBY, saat itu upaya rekonstruksi pasca-bencana Aceh bukan hanya dengan membangun infrastruktur, melainkan juga membangun kepercayaan masyarakat di Aceh.
“Rekonstruksi juga tentang memulihkan martabat, membangun kembali kepercayaan, dan menciptakan perdamaian. Pembangunan menjadi berkelanjutan ketika masyarakat merasa menjadi bagian dari proses tersebut,” kenang SBY.
