Tabu, Stigma, dan Ancaman Kesehatan Reproduksi Remaja

Dosen Akademi Kesehatan dr. Soedjono & Mahasiswa Program Doktor Fakultas Biologi UGM
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ari Susilowati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia tengah menghadapi tantangan serius dalam bidang kesehatan reproduksi remaja. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan kasus HIV/AIDS, sifilis, dan gonore di kelompok usia 15–24 tahun. Angka ini menegaskan bahwa remaja bukanlah kelompok yang kebal terhadap risiko penyakit menular seksual.
Kesadaran ini semakin nyata ketika Akademi Kesehatan dr. Soedjono menyelenggarakan Lomba Penulisan Artikel Ilmiah Opini Dies Natalis 2026. Dari puluhan peserta SMA/SMK/MA berbagai provinsi, lahir gagasan-gagasan kritis yang menyoroti kesehatan reproduksi sebagai isu mendesak. Suara mereka bukan sekadar opini, melainkan refleksi dari realitas sosial yang mereka hadapi setiap hari.
Suara dari Bandungan: Remaja di Tengah Gemerlap Hiburan Malam
Fahrul Dimas Ardiyan, siswa SMK Theresiana Bandungan, menulis artikel berjudul “Di Tengah Gemerlap Hiburan Malam Bandungan, Remaja Harus Tetap Punya Arah”. Ia menggambarkan bagaimana lingkungan dengan banyak tempat hiburan malam dapat menjadi tantangan bagi remaja.
“Lingkungan tempat kita hidup sangat mempengaruhi pola pikir, gaya hidup, dan cara mengambil keputusan. Jika tidak dibekali pemahaman dan karakter yang kokoh, remaja sangat mudah terpengaruh,” tulisnya.
Fahrul menekankan perlunya sekolah menjadi benteng utama melalui edukasi kesehatan reproduksi, pembentukan duta kesehatan remaja, kegiatan positif, dan layanan konseling ramah remaja. Baginya, pencegahan penyakit menular seksual bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga tanggung jawab generasi muda.
Strategi Terintegrasi: Pencegahan Sifilis dan Gonore
Ailsa Ahnaf dari SMA Negeri 8 Semarang menulis artikel “Strategi Terintegrasi Pencegahan Sifilis dan Gonore pada Remaja Indonesia dalam Menjaga Generasi Emas 2045”. Ia menyoroti data Kemenkes RI yang mencatat lebih dari 23 ribu kasus sifilis dan 10 ribu kasus gonore dalam satu tahun terakhir, dengan banyak kasus terjadi pada remaja.
Menurut Ailsa, masalah ini bukan sekadar kurangnya informasi, tetapi juga stigma sosial, diskriminasi, dan layanan kesehatan yang belum ramah remaja. Ia menawarkan solusi berupa deteksi dini dengan rapid point-of-care testing (POCT), integrasi edukasi ke dalam kurikulum sekolah, serta penguatan peran keluarga dalam komunikasi terbuka.
“Jika kasus ini terus meningkat pada usia produktif, negara tidak hanya menanggung biaya medis, tetapi juga kehilangan potensi produktivitas generasi muda,” tulisnya.
Memutus Lingkaran Sunyi
Raditya Rabbani Dzulfiqar Malacca dari SMA Negeri 8 Semarang, juara pertama lomba, menulis artikel “Memutus Lingkaran Sunyi: Tabu, Stigma, dan Kegagalan Sistem dalam Melindungi Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia”.
Ia menyoroti bagaimana tabu dan stigma membuat remaja enggan bertanya tentang tubuh mereka sendiri. “Kami hidup di era digital dengan akses informasi tanpa batas, tetapi tetap terperangkap dalam ‘lingkaran sunyi’ tentang kesehatan reproduksi,” tulisnya.
Raditya mengkritik pola asuh yang gagal membangun ruang aman, serta kebijakan negara yang berhenti pada sosialisasi seremonial. Ia menawarkan solusi berupa integrasi pendidikan kesehatan reproduksi ke dalam kurikulum, pelatihan orang tua, layanan ramah remaja, dan kampanye anti-stigma berbasis narasi positif.
Analisis: Mengapa Suara Remaja Penting?
Ketiga artikel ini menunjukkan bahwa remaja Indonesia memiliki kapasitas intelektual yang luar biasa untuk membaca realitas sosial dan menawarkan solusi. Mereka tidak hanya mendeskripsikan masalah, tetapi juga mengusulkan langkah-langkah konkret:
Edukasi terstruktur di sekolah.
Deteksi dini dengan teknologi laboratorium medis.
Komunikasi terbuka di keluarga.
Layanan kesehatan ramah remaja.
Kampanye anti-stigma berbasis narasi positif.
Dewan juri lomba menekankan bahwa aspek gagasan menjadi bobot terbesar dalam penilaian (40%). “Opini ilmiah harus menghadirkan ide segar yang relevan dengan kondisi masyarakat, bukan sekadar mengulang teori,” ujar Ari Susilowati, Kepala P3M.
Perspektif WHO: Alarm Global
WHO menegaskan bahwa remaja usia 15–24 tahun adalah kelompok paling rentan terhadap infeksi menular seksual (IMS). Secara global, lebih dari 1 juta kasus IMS baru terjadi setiap hari, dengan proporsi signifikan dialami oleh remaja dan dewasa muda.
WHO juga mencatat bahwa 23% kehamilan di negara berkembang terjadi pada remaja, dengan konsekuensi kesehatan dan sosial yang serius. Kekerasan seksual terhadap remaja masih tinggi, dan stigma membuat mereka enggan mencari bantuan.
Dalam laporan WHO 2025, disebutkan bahwa kurangnya pendidikan seks komprehensif dan layanan kesehatan ramah remaja adalah faktor utama yang memperburuk situasi. WHO menekankan bahwa pendidikan seks komprehensif dalam kurikulum terbukti menurunkan perilaku berisiko tanpa meningkatkan aktivitas seksual.
Saatnya Remaja Bersuara
Opini Fahrul Dimas Ardiyan menegaskan pentingnya sekolah sebagai benteng pertahanan di tengah gemerlap hiburan malam. Ailsa Ahnaf menyoroti strategi terintegrasi dengan teknologi laboratorium medis untuk deteksi dini sifilis dan gonore. Raditya Rabbani Dzulfiqar Malacca mengingatkan bahwa tabu dan stigma adalah lingkaran sunyi yang harus diputus agar remaja tidak lagi belajar dari bisikan gelap internet, melainkan dari cahaya pengetahuan yang sahih.
Ketiga suara ini, bersama puluhan peserta lain dari berbagai provinsi, menunjukkan bahwa remaja Indonesia tidak pasif. Mereka kritis, reflektif, dan solutif. Mereka menuntut sistem pendidikan yang jujur, layanan kesehatan yang ramah, keluarga yang komunikatif, dan negara yang berani mengintegrasikan kesehatan reproduksi ke dalam kurikulum.
Jika alarm ini diabaikan, Indonesia berisiko kehilangan kualitas generasi emas 2045. Bonus demografi bisa berubah menjadi beban demografi. Produktivitas bisa terganggu oleh penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Namun jika suara remaja ini dijawab dengan kebijakan yang sistemik, maka kesehatan reproduksi akan menjadi fondasi strategis pembangunan manusia.
