Konten dari Pengguna

Fenomena 'Black Swan' dalam Politik Indonesia

Arie Purnama

Arie Purnama

Dosen ilmu komunikasi Universitas Bandar Lampung.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arie Purnama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Fenomena Black swan dalam politik indonesia. Sumber(Pixabay).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Fenomena Black swan dalam politik indonesia. Sumber(Pixabay).

The Black Swan (angsa hitam) adalah peristiwa yang sangat tidak terduga dan memiliki dampak besar terhadap masyarakat manusia. Nama Black Swan diambil dari kesalahan induksi klasik di mana seorang pengamat berasumsi bahwa karena semua angsa yang dilihatnya berwarna putih, maka semua angsa pasti berwarna putih. Black Swan memiliki tiga fitur yang menonjol:

  • Jarang terjadi (outlier statistik)

  • Dampaknya sangat besar

  • Mereka memaksa manusia untuk menjelaskan mengapa hal tersebut terjadi—untuk menunjukkan, setelah kejadian tersebut, bahwa hal tersebut memang dapat diprediksi.

Pencetus teori ini berkeinginan untuk menunjukkan kekurangan manusia dan bagaimana dunia kita ini nyatanya dipenuhi oleh sesuatu yang ekstrem, tidak diketahui, dan ketidakmungkinan. Terlepas dari kemajuan kita dalam pertumbuhan dan pengetahuan, masa depan hanya akan semakin tidak dapat diprediksi. Sebagai contoh, seekor kambing yang diberi makan setiap hari.

Setiap pemberian makan yang berlanjut menegaskan keyakinan kambing bahwa ras manusia itu baik. Kambing percaya bahwa manusia yang memberinya makan setiap hari adalah mencari kepentingan terbaiknya. Tiba-tiba, satu hari sebelum hari raya, sesuatu yang tidak terduga terjadi pada kambing.

Kambing itu disembelih dan dicabuti sampai bersih. Dipotong dan diiris-iris dengan berbagai bumbu dan rempah-rempah, kemudian dimasak dalam kuali untuk dijadikan gulai yang dinikmati manusia pada Hari Raya.

Setiap kejadian memiliki kemungkinan yang sama untuk terjadi maupun tidak terjadi. Mereka yang hidup sebelum adanya internet dan komputer mungkin berargumen bahwa itu hanyalah penemuan yang tidak bermanfaat dan tidak berguna. Namun, sekarang temuan komputer dan internet telah menjadi salah satu hal yang penting saat ini. Lantas, bagaimana kesamaan dengan fenomena di Indonesia saat ini?

Dalam kontestasi Pesta Demokrasi yang dihelat pada 14 Februari 2024, kita dikagetkan dengan kejadian-kejadian di luar prediksi. Dimulai dari Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 90 MK yang menyatakan bahwa calon presiden dan calon wakil presiden harus 'berusia paling rendah 40 (empat puluh) tahun atau pernah/sedang menduduki jabatan yang dipilih melalui pemilihan umum termasuk pemilihan kepala daerah. Dengan putusan ini, kepala daerah atau yang pernah menjabat kepala daerah yang berusia di bawah 40 tahun diperbolehkan untuk menjadi calon presiden atau calon wakil presiden.

Dilanjutkan dengan deklarasi putra sulung Presiden Jokowi yang disandingkan dengan Capres Prabowo Subianto untuk maju sebagai pasangan Pilpres 2024. Sebelumnya, Muhaimin menjadi salah satu kandidat kuat pasangan Prabowo, sebelumnya mereka bergabung dalam koalisi bersama Gerindra, PKB, PAN, Golkar, dan PBB. Di mana saat itu mereka menamai koalisi yang semula Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) menjadi Koalisi Indonesia Maju.

Kemudian Muhaimin keluar dari koalisi dan menjadi calon wakil presiden dengan Anies Baswedan yang digawangi oleh Nasdem, PKS, dan Partai Ummat. Presiden Jokowi yang tadinya cawe-cawe untuk Ganjar Pranowo dengan PDI-P nya, berubah 180 derajat setelah deklarasi Prabowo-Gibran. Diikuti dengan dukungan dari anggota Kabinet dalam pemerintahan Jokowi. Hal ini membangkitkan kembali sentimen terhadap isu Dinasti politik, dimana hal itu dipertontonkan oleh presiden dengan menggerakan semua elemen negara demi memenangkan kontestasi tersebut. Apakah hal ini pernah terprediksi atau terfikirkan oleh masyarakat?

Jawabannya banyak yang tidak memprediksi ke arah tersebut, kita ketahui bahwa Jokowi adalah bagian dari PDI-P yang selama kontestasi mengusung Jokowi. Dari pemilihan di Solo, Jakarta, Sampai 2 kali Pemilihan Presiden PDI-P konsisten membela Jokowi.

Puncak dari anomali ini pada 14 Februari lalu, di mana saat quick count kita dikejutkan dengan kemenangan Prabowo-Gibran di atas 50 persen. Dengan kata lain, mereka menang dalam satu putaran. Perolehan suara Anies dan Ganjar pun menjadi sebuah tanda tanya besar. Mari kita samakan fenomena ini dengan sudut pandang The Black swan:

  • Jarang terjadi (outlier statistik): Sejak runtuhnya Orde Baru, sistem merit dalam politik Indonesia menjadi lebih baik. Selama 32 tahun kita dikungkung oleh rezim Otoriter. Kemudian hal ini dipatahkan dengan majunya Gibran sebagai calon wakil presiden di mana hal ini membangkitkan lagi memori orde baru tentang Nepotisme dan dinasti.

  • Dampaknya sangat besar: Dampak dari fenomena ini, banyaknya opini di masyarakat bahwa kelahiran neo orde baru melalui dinasti Jokowi tidak terelakkan, Indonesia dianggap sedang dalam krisis etika akut. Krisis ini menjadi pemantik para akademisi untuk menggaungkan itu.

Bagaimana akibatnya dengan fenomena ini di Indonesia? Sebagai manusia yang hidup dalam ketidakpastian, kita sering kali dihadapkan pada berbagai pilihan yang tidak jelas akibatnya (seperti black swan, baik positif maupun negatif). Istilah yang mudah untuk menggambarkannya adalah ketidakpastian.

Tidak ada yang bisa dilakukan untuk menghilangkan ketidakpastian atau menghindari angsa hitam tersebut. Salah satu cara untuk menghadapinya adalah dengan menghadapinya secara langsung. Namun, penting untuk diingat bahwa dalam menghadapi ketidakpastian, diperlukan kewaspadaan dan kesiapan yang matang sehingga dampak buruk atau negatif dari ketidakpastian tersebut dapat diminimalisir.

Konklusinya dalam fenomena black swan adalah sebuah kejadian yang tidak dapat diprediksikan. Black swan tidak selamanya buruk, tetapi bisa juga menjadi hal yang baik. Black Swan yang baik adalah hal yang pastinya dinantikan oleh semua orang. Namun, bersiaplah juga untuk kemungkinan tentang kejadian terburuk dari fenomena ini.