Konten dari Pengguna

Ekonomi Bali Masih Tergantung Wisata? Fakta Mengejutkan BPS

ARIF HUSNI MUBAROK

ARIF HUSNI MUBAROK

Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN Program Studi D-IV Manajemen Keuangan Negara

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ARIF HUSNI MUBAROK tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ekonomi Bali antara pariwisata dan sektor penopang lain. Sumber: Artificial Intelligence
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ekonomi Bali antara pariwisata dan sektor penopang lain. Sumber: Artificial Intelligence

Bali adalah Pusat Wisata? Stigma yang Mulai Retak

Setiap kali nama Bali disebut, pikiran orang hampir otomatis melayang pada Pantai Kuta, Uluwatu yang eksotis, atau sawah terasering Ubud yang dikelilingi kafe penuh turis. Imajinasi publik, baik di dalam negeri maupun internasional, selalu melekatkan Bali dengan industri wisata. Tidak heran jika muncul stigma bahwa perekonomian Bali sepenuhnya bertumpu pada pariwisata. Pertanyaannya, benarkah Bali hanya hidup dari dompet turis asing? Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Bali justru membuka perspektif berbeda: Bali memang kuat di wisata, tetapi ada denyut ekonomi lain yang perlahan tumbuh dan menantang stigma lama itu.

Pariwisata Masih Raja, tetapi Bukan Satu-Satunya

BPS Provinsi Bali merilis bahwa pada triwulan I 2025, ekonomi Bali tumbuh 5,52 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali atas dasar harga berlaku menembus Rp75,47 triliun. Dari angka tersebut, sektor akomodasi dan makan minum yang erat kaitannya dengan pariwisata menyumbang sekitar 21 persen, menjadikannya sektor terbesar dalam struktur ekonomi Bali (DetikBali, 2025). Artinya, setiap lima rupiah yang berputar di Bali, satu rupiah lebih berasal dari turis yang makan, tidur, dan menginap di pulau ini.

Namun, data yang sama juga menunjukkan sektor lain tidak bisa dipandang remeh. Pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 13,6 persen. Transportasi dan pergudangan mengambil porsi 10 persen. Perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil, dan sepeda motor bahkan lebih besar lagi, yaitu 15 persen. Jika seluruh kontribusi sektor nonpariwisata digabung, porsinya sebenarnya melampaui 60 persen. Fakta ini cukup mengejutkan karena bertentangan dengan stigma populer bahwa Bali seratus persen pariwisata.

Untuk memperjelas tren, kita bisa lihat data kunjungan wisatawan mancanegara. Pada Februari 2024, BPS Bali mencatat ada 454.004 wisatawan asing yang datang, meningkat 8,33 persen dibanding Januari 2024 (BPS Bali, 2024). Tingkat hunian kamar hotel berbintang naik menjadi 52,29 persen. Angka ini menunjukkan kebangkitan wisata pascapandemi, tetapi sekaligus menegaskan risiko: begitu turis absen, sektor terbesar Bali pun langsung lumpuh. Oleh karena itu, sektor lain yang kini mulai tumbuh harus mendapat perhatian serius agar bisa menjadi “bantal penyelamat” ketika turisme terguncang.

Pahlawan Senyap saat Pariwisata Goyah

Di balik dominasi hotel dan restoran, ada kekuatan lain yang sering tak terlihat: UMKM. Data Satu Data Indonesia Provinsi Bali (2023) menunjukkan jumlah UMKM di Denpasar mencapai 69.283 unit, Tabanan 40.172 unit, dan Klungkung 16.900 unit. Jika ditotal di seluruh Bali, jumlah UMKM mencapai ratusan ribu. Angka ini mencerminkan sebuah kenyataan bahwa mayoritas masyarakat Bali sesungguhnya bergerak di sektor mikro dan kecil, bukan di hotel berbintang.

Kontribusi UMKM tidak hanya besar dari sisi jumlah, tetapi juga tenaga kerja. BPS mencatat lebih dari 97 persen tenaga kerja di Bali terserap oleh usaha mikro, kecil, dan menengah. Artinya, hampir setiap rumah tangga di Bali punya keterkaitan langsung dengan UMKM, baik sebagai pemilik maupun pekerja. Kontribusinya terhadap PDRB juga signifikan, yakni lebih dari 55 persen di beberapa kabupaten/kota (Satu Data Indonesia Provinsi Bali, 2023). Angka ini menegaskan bahwa UMKM bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi ekonomi Bali yang sesungguhnya.

Saat pandemi COVID-19 melanda, industri pariwisata ambruk. Hotel kosong, penerbangan ditutup, dan restoran sepi. Namun, UMKM tetap bergerak, menyediakan kebutuhan dasar masyarakat. Penelitian Amrita et al. (2021) mencatat konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung ekonomi Bali saat pandemi, menyumbang lebih dari 50 persen terhadap pertumbuhan. Dengan kata lain, UMKM-lah yang menjaga denyut ekonomi Bali tetap hidup saat pariwisata koma.

Lebih jauh, UMKM juga punya peran sosial. Sebagian besar UMKM di Bali berbasis keluarga, komunitas, atau desa adat. Mereka bukan sekadar unit bisnis, tetapi juga mekanisme sosial yang menyerap tenaga kerja dan menjaga kohesi masyarakat. Ketika pekerja hotel kehilangan pekerjaan, banyak yang kembali ke desa dan menghidupkan usaha kecil seperti pertanian organik, kerajinan, atau kuliner lokal. Inilah mengapa UMKM layak disebut “pahlawan senyap” perekonomian Bali.

Ekonomi Bali yang Bergeser

Perbandingan data BPS pra dan pascapandemi menunjukkan pergeseran penting. Pada 2019, kontribusi akomodasi dan makan minum mencapai 23,8 persen dari PDRB Bali, sementara pertanian hanya 11,9 persen (BPS Bali, 2020). Namun, pada 2021 kontribusi pariwisata merosot tajam hingga di bawah 10 persen, sementara pertanian melonjak di atas 16 persen. Artinya, dalam krisis, sektor pangan menjadi penyelamat utama.

Pasca 2022, pariwisata mulai bangkit dan kembali menjadi penggerak utama, tetapi proporsi sektor nonpariwisata masih lebih tinggi dibanding sebelum pandemi. Pertanian, perdagangan, dan transportasi menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil. Data ini memperlihatkan bahwa pandemi memberi pelajaran berharga: Bali tidak bisa menaruh semua telurnya di keranjang pariwisata. Diversifikasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak agar ekonomi lebih tahan banting.

Masih Terlalu Tergantung Turis

Meski data BPS menunjukkan adanya diversifikasi, ketergantungan Bali pada wisata masih sangat tinggi. Dengan kontribusi lebih dari seperlima PDRB, pariwisata masih menjadi sektor yang paling menentukan naik turunnya ekonomi Bali. Masalahnya, pariwisata adalah sektor yang sangat rentan terhadap faktor eksternal. Pandemi hanya salah satu contohnya. Resesi global, bencana alam, hingga ketegangan geopolitik bisa langsung memukul jumlah kunjungan turis.

Tantangan lain adalah sifat musiman pariwisata. Pada bulan Desember hingga Januari, Bali penuh turis, sementara pada bulan-bulan awal tahun biasanya lebih sepi. Fluktuasi ini menyebabkan instabilitas ekonomi lokal, terutama bagi pekerja sektor informal seperti pedagang kecil dan transportasi. Sementara itu, sektor UMKM yang mestinya menjadi penyeimbang justru masih menghadapi hambatan klasik. Penelitian Yuwono et al. (2024) menyebutkan kendala utama UMKM Bali antara lain keterbatasan akses modal, rendahnya literasi digital, serta kesulitan menembus pasar ekspor. Tanpa solusi konkret, UMKM akan sulit menjadi penopang serius untuk menggantikan dominasi pariwisata.

Dari Sawah, Laut, hingga Dunia Digital

Meski tantangannya besar, peluang Bali untuk mendiversifikasi ekonominya juga tidak kalah besar. Pertanian, misalnya, punya potensi luar biasa. Kontribusi sektor ini sudah mencapai 13,6 persen, dengan subsektor hortikultura dan pangan organik yang semakin diminati pasar global. Agrowisata bahkan bisa menjadi kombinasi cerdas: wisatawan diajak tidak hanya menikmati sawah, tetapi juga ikut dalam proses bertani, menciptakan pengalaman unik sekaligus memperkuat basis pangan Bali.

Perikanan juga menjanjikan. Dengan garis pantai yang panjang, Bali punya potensi besar di bidang perikanan tangkap maupun budidaya. Produk laut seperti tuna dan udang bisa menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi jika dikelola dengan prinsip berkelanjutan. Hal ini penting mengingat dunia semakin menuntut produk ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Industri kreatif dan digital Bali juga mulai menunjukkan taring. Banyak UMKM yang beralih ke platform daring, memasarkan produk ke seluruh Indonesia bahkan dunia. Contohnya, produk kerajinan perak Celuk kini banyak dipasarkan lewat e-commerce global. Kopi Kintamani menembus pasar Eropa melalui jejaring digital komunitas ekspor. Seniman dan desainer lokal memanfaatkan media sosial untuk menjual karya seni dan fesyen ke luar negeri. Potensi ini bisa menjadi “pariwisata tanpa turis,” di mana produk Bali tetap mengalir ke pasar global meski orang tidak datang langsung ke pulau ini.

Sektor transportasi dan logistik yang kini menyumbang 10 persen juga berpeluang menjadi tulang punggung. Pertumbuhan e-commerce meningkatkan permintaan akan rantai pasok yang efisien. Jika Bali bisa memperkuat infrastruktur logistiknya, bukan tidak mungkin sektor ini akan menjadi penopang baru yang membuat ekonomi lebih stabil.

Saatnya Bali Berdiri Lebih Kokoh

Lalu, apakah benar ekonomi Bali hanya bergantung pada pariwisata? Data BPS menunjukkan jawabannya lebih kompleks: ya, pariwisata masih menjadi motor utama, tetapi bukan satu-satunya bahan bakar. Sektor pertanian, perdagangan, UMKM, logistik, dan digital sudah mulai tumbuh dan memberi kontribusi signifikan. Yang perlu dilakukan sekarang adalah memperkuat fondasi agar Bali tidak selalu goyah setiap kali turis berkurang.

Masa depan Bali harus ditopang oleh strategi ekonomi yang lebih diversifikasi, berbasis data, dan berorientasi pada keberlanjutan. Untuk itu, data ekonomi yang lengkap dan akurat sangat penting. Di sinilah Sensus Ekonomi 2026 akan memainkan peran besar. Partisipasi aktif masyarakat dan pelaku usaha dalam sensus ini akan memperkaya basis data nasional sehingga pemerintah mampu menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran. Dengan keterlibatan semua pihak, Bali bisa menatap masa depan yang lebih kokoh, tidak lagi rapuh setiap kali dunia wisata terguncang. Pulau Dewata bukan hanya milik turis, tetapi juga rumah ekonomi yang kokoh bagi rakyatnya sendiri.