Men in MakeUp: Wajah Baru Kecantikan yang Menggoyang Maskulinitas Kaku

Mahasiswa Ilmu Komunikasi yang aktif sebagai Public Relations di Kejar Mimpi Tangerang Selatan dan Program Development di komunitas BySEHATI. Tertarik pada isu seputar komunikasi, pengembangan diri, dan peran anak muda dalam komunitas.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Arif Maulana Alwidan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika maskulinitas mulai bercermin, bukan untuk memastikan ketampanan—tapi untuk menemukan keberanian baru bernama “cantik”.
Di layar ponsel kita, wajah-wajah cantik kini tak selalu datang dari perempuan. Kadang, yang muncul justru pria dengan contour setajam pisau dapur dan bibir merah merona yang bikin brand kecantikan berebut endorse. Mereka bukan sedang “bermain jadi perempuan”, mereka sedang bermain dengan batas-batas gender yang dulu dianggap kaku.
Dulu, industri kecantikan adalah dunia yang sangat feminim, penuh tagline tentang “wanita sejati” dan “kecantikan alami”. Tapi sekarang, dunia itu berubah cepat. Di berbagai sosial media seperti Tiktok dan Instagram, ada laki-laki yang dengan santai mengajarkan cara pakai foundation, membahas undertone kulit, atau me-review cushion dengan bahasa yang lebih jujur daripada iklan di TV. Dan yang menarik, jutaan orang baik laki-laki maupun perempuan menyimak mereka dengan antusias.
Di sinilah wajah baru industri kecantikan lahir: lebih cair, lebih kreatif, dan lebih jujur terhadap kenyataan bahwa “cantik” tidak pernah punya jenis kelamin.
Makeup Bukan Lagi Urusan Perempuan
Fenomena ini bukan sekadar tren lucu-lucuan. Ia adalah tanda perubahan budaya besar. Media sosial memberi ruang bagi banyak identitas untuk tampil dan berdaya. Para beauty influencer queer baik gay, androgini, maupun non-biner, hadir dengan perspektif baru: bahwa makeup bukan soal meniru perempuan, tapi tentang mengungkapkan diri.
Lewat kamera depan, mereka memperlihatkan sesuatu yang selama ini tersembunyi di bawah norma maskulinitas: bahwa laki-laki juga bisa rapuh, lembut, dan ingin merasa indah. Bahwa merawat diri bukan dosa, dan tampil cantik bukan bentuk pengkhianatan terhadap kelaki-lakian.
Tentu, tak sedikit yang masih mengernyit. Ada yang berkomentar sinis: “Laki-laki kok pakai lipstik?” Tapi justru di situlah letak keberaniannya. Karena mereka mengubah pandangan publik lewat sesuatu yang dianggap sepele, video makeup berdurasi satu menit. Mereka menjungkirbalikkan bayangan lama tentang maskulinitas, yang selama ini kaku, berotot, dan anti-cermin.
Dari Riasan ke Perlawanan
Bagi banyak pria gay dan figur queer, makeup bukan sekadar alat kosmetik, tapi alat bertahan hidup. Di dunia yang sering menolak keberadaan mereka, riasan menjadi bentuk pengakuan diri. Semacam pernyataan: “Aku ada, dan aku berhak tampil seindah ini.”
Menariknya, kehadiran mereka justru membuat industri kecantikan digital semakin inklusif. Brand-brand besar mulai sadar bahwa pasar tak lagi bisa didefinisikan hanya lewat gender. Kampanye global kini memajang wajah laki-laki berdandan glam, dan itu laku keras. Bukan karena gimmick, tapi karena orang mulai merasa representasi itu nyata.
Namun di balik cahaya ring light dan komentar manis, tetap ada paradoks yang mengintai. Dunia digital yang memberi kebebasan berekspresi juga bisa menjadi arena eksploitasi baru. Algoritma memaksa mereka untuk terus tampil sempurna, terus “otentik”, terus menjual keunikan. Akibatnya, kejujuran diri yang dulu menjadi kekuatan bisa berubah jadi tekanan: apakah aku masih cukup otentik untuk ditonton?
Mereka masih harus berhadapan dengan dunia yang tidak selalu ramah: tatapan sinis di ruang publik, candaan maskulin di kampus, hingga aturan kantor yang menuntut tampil “lebih laki-laki"
Fenomena ini memperlihatkan wajah ganda kapitalisme digital yang di satu sisi membuka ruang bagi ekspresi queer, tapi di sisi lain menjadikannya komoditas yang bisa dijual. Tapi mungkin begitulah revolusi: tak pernah datang dalam bentuk yang bersih.
Cantik Adalah Siapa pun yang Berani
Ketika kita bicara tentang kecantikan hari ini, kita tak lagi bicara soal feminin atau maskulin. Kita bicara tentang keberanian untuk menampilkan diri seutuhnya dengan shimmer di pipi dan luka yang tak terlihat di dalam diri. Para beauty influencer queer telah mengajari publik satu hal penting: bahwa kecantikan tidak perlu disetujui siapa pun untuk menjadi sah.
Dan jika hari ini laki-laki bisa memakai lipstik di depan kamera tanpa takut dihakimi, mungkin itu pertanda baik. Bahwa perlahan, dunia belajar untuk berhenti menertawakan hal-hal yang dulu dianggap “bukan tempatnya”.
Karena pada akhirnya, cantik bukan milik perempuan saja. Cantik adalah milik siapa pun yang berani menampilkannya, termasuk pria yang sedang memakai lipstikmu di depan kamera, sambil berkata dengan percaya diri: “This is me.”
