Apakah Sandy Cheeks Merupakan Feminis Sejati?

Dosen Jurusan Hubungan Internasional Universitas Riau
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Arif Wicaksa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah kejenakaan komedi dunia SpongeBob SquarePants, Sandy Cheeks tampak seperti karakter yang tidak membutuhkan pembuktian untuk menunjukkan kemampuannya. Seekor tupai dari Texas yang tinggal di dasar laut ini adalah ilmuwan, penemu, sekaligus ahli karate. Ia memiliki laboratorium sendiri, menguasai teknologi, dan mampu menghadapi berbagai tantangan tanpa selalu bergantung pada karakter lain. Sekilas, Sandy merupakan gambaran ideal perempuan modern: cerdas, mandiri, tangguh, dan kompeten. Namun, di balik karakter yang unik dan menghibur tersebut, terdapat pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu siapa yang menentukan seperti apa perempuan yang merdeka itu seharusnya? Apakah kemandirian, rasionalitas, penguasaan teknologi, dan keberhasilan individual merupakan ukuran universal emansipasi perempuan? Ataukah gambaran tersebut mencerminkan standar modernitas tertentu yang, dalam kondisi tertentu, dapat menempatkan pengalaman perempuan lain pada posisi yang lebih rendah?

Pertanyaan diatas membawa kita melampaui feminisme sebagai perspektif dan ideologi mengenai kesetaraan. Melalui feminisme pascakolonial dan kritik terhadap ekonomi politik, karakter Sandy Cheeks dapat menjadi pintu masuk untuk mempertanyakan bagaimana gambaran perempuan ideal dibentuk, siapa yang memperoleh otoritas untuk mendefinisikannya, dan apakah hanya ada satu jalan menuju kebebasan.
Sandy Cheeks dan Imajinasi Perempuan Modern
Sandy mudah dibaca melalui perspektif feminisme liberal. Tradisi feminisme ini menekankan kebebasan individu, kesetaraan hak, dan kesempatan bagi perempuan untuk mengembangkan kemampuannya tanpa diskriminasi berbasis gender. Pemikiran Mary Wollstonecraft, misalnya, menentang pendidikan yang membatasi perempuan pada peran sosial tertentu dan menghambat perkembangan rasionalitas mereka. Dalam kerangka pemikiran tersebut, Sandy merepresentasikan perempuan yang tidak dibatasi oleh anggapan bahwa sains, teknologi, dan kekuatan fisik merupakan wilayah laki-laki. Ia tidak sekadar menjadi pendamping karakter laki-laki, tetapi mempunyai keahlian, tujuan, dan ruang aktivitasnya sendiri. Kehadirannya menantang stereotip bahwa feminitas harus identik dengan kelemahan atau ketergantungan.
Representasi semacam ini menarik. Dalam masyarakat yang masih menghadapi ketimpangan gender, gambaran perempuan sebagai ilmuwan dan penemu dapat memperluas imajinasi mengenai kemampuan perempuan. Emansipasi tidak harus berarti meninggalkan identitas sebagai perempuan, melainkan memperoleh kebebasan untuk menentukan pilihan tanpa dibatasi oleh stereotip. Akan tetapi, persoalan muncul ketika gambaran perempuan yang mandiri dan kompeten tidak lagi sekadar menjadi salah satu kemungkinan emansipasi dari banyak kemungkinan lainnya, tetapi berubah menjadi standar universal untuk menilai seluruh perempuan. Apakah perempuan baru dianggap berdaya ketika mampu menunjukkan rasionalitas, produktivitas, dan kemandirian individual? Jika demikian, apakah model kehidupan lain berisiko dipandang kurang modern dan kurang merdeka?
Di sinilah pembacaan terhadap Sandy Cheeks perlu bergerak melampaui pemikiran feminisme liberal.
Di Balik Universalitas Emansipasi: Kritik Feminisme Pascakolonial
Dalam karyanya yang berpengaruh dalam perdebatan feminisme berjudul, Under Western Eyes: Feminist Scholarship and Colonial Discourses, Chandra Talpade Mohanty mengkritik cara sebagian wacana feminis Barat menggambarkan perempuan di negara-negara Dunia Ketiga sebagai kelompok homogen yang tertindas, terbelakang dan membutuhkan pembebasan. Kritiknya bukan ditujukan kepada seluruh feminisme Barat, melainkan kepada cara produksi pengetahuan yang mengabaikan perbedaan sejarah, kelas, budaya, dan kondisi sosial perempuan.
Perspektif Mohanty membantu kita mempertanyakan bagaimana gambaran perempuan ideal memperoleh legitimasi. Dalam konteks tertentu, perempuan Barat ditempatkan sebagai simbol kebebasan dan kemajuan, sedangkan perempuan non-Barat digambarkan sebagai korban tradisi yang perlu dibebaskan. Pembagian semacam ini berisiko menyederhanakan pengalaman perempuan sekaligus menempatkan satu model emansipasi sebagai ukuran universal. Jika dibaca secara kritis, Sandy dapat menjadi titik masuk untuk menguji persoalan tersebut. Karakteristiknya sebagai ilmuwan, penemu, dan individu yang mandiri sesuai dengan gambaran perempuan modern yang sering dihargai dalam wacana kesetaraan individual. Namun, apakah gambaran tersebut menjadi satu-satunya model perempuan yang dianggap berdaya?
Bayangkan perempuan yang mendefinisikan kebebasannya melalui pengelolaan rumah tangga, komunitas, pemeliharaan pengetahuan lokal, atau perjuangan mempertahankan hak atas tanah dan sumber daya alam. Apakah mereka menjadi kurang modern hanya karena bentuk kemandiriannya berbeda dari Sandy? Tentu tidak. Persoalannya bukan terletak pada kemandirian Sandy, melainkan pada kemungkinan bahwa satu bentuk kemandirian diperlakukan sebagai standar yang berlaku bagi semua perempuan. Kritik pascakolonial mengingatkan kita bahwa emansipasi tidak seharusnya menjadi proyek penyeragaman pengalaman perempuan berdasarkan satu model kebebasan.
Meski demikian, kita perlu memahami bahwa karakteristik Sandy saja tidak membuktikan bahwa SpongeBob SquarePants secara langsung mereproduksi hierarki kolonial. Untuk mendukung klaim tersebut, diperlukan analisis lebih lanjut terhadap narasi, dialog, representasi karakter lain, dan konteks budaya yang melingkupinya.
Sains, Modernitas, dan Kekuasaan dalam Mendefinisikan Pengetahuan
Kritik ini dapat diperdalam melalui pemikiran Maria Lugones. Dalam The Coloniality of Gender, Lugones mengembangkan pendekatan dekolonial untuk menjelaskan bagaimana kolonialitas membentuk hubungan antara gender, ras, dan kekuasaan. Warisan kolonial tidak hanya berkaitan dengan penguasaan wilayah, tetapi juga dengan kategori sosial dan sistem pengetahuan yang menentukan siapa yang dianggap modern, rasional, dan beradab. Laboratorium Sandy menawarkan titik masuk untuk membicarakan persoalan tersebut. Ia menguasai teknologi, melakukan eksperimen, dan menggunakan pengetahuan ilmiah untuk mengatasi persoalan. Dalam cerita, kemampuan ini menjadi bagian dari identitasnya sebagai karakter yang cerdas dan kompeten. Namun, dari perspektif dekolonial, kita dapat mengajukan pertanyaan tentang hubungan antara pengetahuan dan otoritas. Siapa yang diakui sebagai pemilik pengetahuan yang sah? Mengapa bentuk pengetahuan tertentu memperoleh legitimasi lebih besar daripada bentuk lainnya? Bagaimana masyarakat menentukan apa yang disebut sebagai kemajuan?
Pertanyaan diatas tidak berarti bahwa sains merupakan milik eksklusif Barat atau bahwa pengetahuan ilmiah harus ditolak. Sains dikembangkan melalui kontribusi lintas peradaban dan dapat menjadi sarana penting untuk memperluas kebebasan manusia. Yang perlu dikritisi adalah hierarki yang mungkin terbentuk ketika satu sistem pengetahuan diperlakukan sebagai satu-satunya ukuran rasionalitas. Demikian pula, kemampuan Sandy menguasai teknologi tidak perlu dipertentangkan dengan nilai budaya non-Barat. Seorang perempuan dapat menjadi ilmuwan sekaligus mempertahankan identitas budaya dan keterikatan komunalnya. Karena itu, pertanyaan yang relevan bukan apakah Sandy terlalu modern, melainkan apakah modernitas telah dipahami secara terlalu sempit.
Ketika Emansipasi Diukur melalui Keberhasilan Individual
Selain feminisme pascakolonial, feminisme Marxis dan sosialis menawarkan kritik terhadap kecenderungan menilai kebebasan perempuan melalui keberhasilan individual. Silvia Federici, misalnya, mengkaji hubungan antara kapitalisme, kerja reproduktif, dan subordinasi perempuan. Sementara itu, Nancy Fraser menelaah hubungan antara feminisme, kapitalisme, dan keadilan sosial. Keduanya memiliki pendekatan berbeda, tetapi pemikiran mereka membantu memperlihatkan bahwa ketimpangan gender tidak dapat dilepaskan dari kondisi material dan organisasi sosial. Dalam konteks Sandy, keberhasilannya sebagai ilmuwan dan penemu dapat dibaca sebagai gambaran perempuan yang mampu mengembangkan kompetensi dan mengendalikan kehidupannya. Namun, gambaran tersebut tidak menjawab seluruh persoalan kesetaraan. Tidak semua perempuan mempunyai akses yang sama terhadap pendidikan, teknologi, waktu, dan sumber daya ekonomi.
Selain itu, masyarakat bergantung pada kerja perawatan dan pekerjaan domestik yang sering kali tidak dibayar atau kurang dihargai. Jika emansipasi hanya diukur melalui keberhasilan profesional, pengalaman perempuan yang menjalankan pekerjaan domestik dsb tersebut dapat terpinggirkan dari gambaran tentang perempuan yang dianggap sukses. Kritik ini bukan berarti perempuan harus menolak karier, sains, atau kemandirian. Sebaliknya, kritik tersebut mempertanyakan mengapa keberhasilan individual terkadang lebih mudah dirayakan daripada perubahan kondisi sosial yang memungkinkan semua perempuan berkembang.
Dengan demikian, Sandy dapat membantu kita membayangkan kemungkinan perempuan yang mandiri, tetapi tidak otomatis menjelaskan hambatan struktural yang dihadapi perempuan lainnya. Kebebasan individual dan perubahan struktural bukan dua pilihan yang harus saling meniadakan. Keduanya merupakan persoalan yang perlu dipikirkan bersama.
Kesimpulan
Pada akhirnya, Sandy Cheeks dapat dibaca melalui beberapa perspektif feminisme sekaligus. Feminisme liberal membantu kita memahami pentingnya otonomi dan kesetaraan kesempatan. Feminisme pascakolonial mempertanyakan universalisasi model emansipasi, sedangkan feminisme Marxis dan sosialis mengingatkan bahwa kebebasan individual berkaitan dengan kondisi material dan struktur sosial. Ketiganya tidak harus menghasilkan penolakan terhadap karakter Sandy. Justru, karakter tersebut memungkinkan kita menguji asumsi yang sering tersembunyi di balik gambaran perempuan ideal. Persoalannya bukan apakah perempuan seharusnya menjadi seperti laki-laki, atau apakah nilai Barat lebih superior dibanding nilai Timur dst. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah setiap perempuan mempunyai kesempatan untuk menentukan kehidupannya tanpa harus diukur menggunakan satu model identitas, keberhasilan, atau kebebasan.
Sandy mungkin merupakan gambaran perempuan yang mandiri dan kompeten. Namun, emansipasi tidak seharusnya berhenti pada kemampuan perempuan untuk memenuhi satu standar yang sudah tersedia. Emansipasi juga menyangkut kebebasan untuk mempertanyakan standar tersebut, termasuk ketika standar itu menentukan siapa yang dianggap modern dan siapa yang dianggap tertinggal. Masyarakat yang setara bukanlah masyarakat yang mengharuskan semua perempuan menjadi seperti Sandy, melainkan masyarakat yang memungkinkan perempuan dengan pengalaman, identitas, dan pilihan hidup berbeda untuk menentukan masa depannya sendiri.
