Partner or Perish? Bermitra atau Binasa?

Pemerhati Lingkungan, Pendidikan, Literasi dan Lintas Agama. Doktor Biogeografi dari Universitaet des Saarlandes, Saarbruecken, Jerman. Dosen Proteksi Tanaman, Universitas Sriwijaya. Dosen Tamu Truong Dai hoc Nong Lam, Thai Nguyen, Vietnam
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Arinafril tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada sebuah ironi yang jarang dibicarakan secara terbuka di ruang-ruang akademik Indonesia. Kita membangun sistem yang merayakan individu cemerlang, lalu bertanya-tanya mengapa ilmu pengetahuan kita gagal menyentuh kehidupan nyata.
Selama puluhan tahun, dosen dan peneliti Indonesia hidup di bawah bayang-bayang satu mantra: publish or perish. Publikasikan atau binasa. Karier diukur dari daftar publikasi, jabatan fungsional ditentukan oleh angka kredit yang salah satunya dari publikasi, dan prestise akademik dihitung dari frekuensi nama seseorang dikutip dalam jurnal terindeks Scopus.

Sistem ini bukan tanpa jasa tetapi juga mendorong produktivitas ilmiah dan memaksa standar yang lebih ketat. Akan tetapi ia juga melahirkan patologi: Dosen yang mengejar angka demi angka, sebagian bahkan tergoda menggunakan jasa broker publikasi yang menjanjikan "tembus Scopus" dalam hitungan minggu (Universitas Andalas, 2026).
Ilmu yang seharusnya hidup di masyarakat terkurung di balik paywall jurnal yang tidak pernah dibaca siapa pun kecuali sesama akademisi.
Kini ada imperatif baru yang datang dari dua arah sekaligus, dan keduanya mengarah pada kesimpulan yang sama. Partner or Perish. Bermitra atau Binasa.
Aliansi Strategis
Dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar di Eindhoven University of Technology, G.M. Duysters (2001) mengamati pergeseran mendasar dalam cara perusahaan-perusahaan teknologi tinggi bertahan hidup. Biaya riset melonjak, siklus produk memendek, dan kompleksitas teknologi telah melampaui batas kemampuan mana pun yang berdiri sendiri.
Kesimpulannya sangat menohok, dalam ekonomi jaringan, aliansi strategis bukan lagi pilihan kedua tetapi syarat keberlangsungan. Perusahaan yang membangun portofolio kemitraan dengan mitra yang komplementer, bukan sekadar serupa, menunjukkan kinerja yang jauh lebih unggul. Komplementaritas, tegasnya, adalah pendorong utama aliansi yang efektif.
Dari arah berbeda, Van de Water sampai pada titik yang sama dalam konteks pendidikan tinggi internasional. Tidak ada satu universitas pun yang mampu memelihara program berkelas dunia seorang diri.
Sementara itu, Boyer, Orpin dan Walker (2010) yang meneliti kolaborasi reformasi layanan kesehatan di Australia menegaskan bahwa kemitraan antara peneliti, pembuat kebijakan, penyedia layanan, dan anggota komunitas adalah elemen yang tidak bisa digantikan dalam perjalanan reformasi. Mereka menemukan bahwa para mitra datang dengan beragam agenda, sistem nilai, dan cara pandang yang berbeda-beda tentang apa yang mendorong perubahan.
Justru di situlah kekuatannya: perbenturan itulah yang menghasilkan solusi yang tidak bisa lahir dari satu perspektif saja. Penelitian itu juga menegaskan bahwa dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh dan inovatif, baik untuk mengelola kemitraan itu sendiri maupun untuk menghasilkan riset yang berkualitas.
Partner or Perish. Bermitra atau Binasa.
Pertanyaannya untuk Indonesia bukan lagi soal apakah kita setuju dengan imperatif ini. Pertanyaannya adalah: Apakah kita sungguh-sungguh mau membayar harganya? Karena bermitra dengan serius itu mahal, bukan hanya dalam arti uang, melainkan dalam arti waktu, ego, dan kesabaran.
Membangun kepercayaan dengan komunitas petani di Kalimantan atau dengan dinas kesehatan di Nusa Tenggara membutuhkan bulan-bulan yang tidak menghasilkan satu pun artikel jurnal. Dalam sistem yang mengukur dosen dari output publikasi, waktu terasa seperti kemewahan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Di sinilah letak kontradiksi paling mendasar. Pemerintah berteriak tentang dampak sosial riset di dalam rencana strategis universitas, sementara komite promosi jabatan atau Penilai Angka Kredit masih menghitung angka kredit dari publikasi individual.
Kita meminta dosen untuk menjangkau masyarakat, lalu tidak memberi mereka pengakuan formal ketika mereka melakukannya. Hal ini bukan sekadar inkonsistensi kebijakan, tetapi sinyal yang sangat jelas kepada setiap dosen muda tentang apa yang sesungguhnya dihargai.
Pemerintah mulai bergerak ke arah yang benar. Program Kosabangsa, Kedaireka, dan paradigma "Diktisaintek Berdampak" adalah pengakuan bahwa riset harus hidup di luar kampus (Kemdiktisaintek, 2025). Dana Rp1,47 triliun untuk penelitian dan pengabdian masyarakat tahun 2025 adalah komitmen yang sebenarnya tidak kecil.
Kebijakan tanpa perubahan insentif hanyalah retorika. Selama seorang dosen yang mendampingi koperasi nelayan selama dua tahun diperlakukan sama dengan dosen yang tidak melakukan apa pun, dan keduanya kalah pamor dari dosen yang menerbitkan dua artikel jurnal tanpa pernah meninggalkan mejanya, berarti sistem sedang berbicara lebih keras dari semua dokumen visi misi yang pernah ditulis.
Duysters (2001) juga menemukan satu fakta yang mengejutkan: meski aliansi semakin populer, tingkat kegagalannya tetap sekitar 70 persen. Ini bukan argumen untuk menghindari kemitraan, tetapi menjadikan sebagai argumen untuk merancangnya dengan jauh lebih serius.
Kemitraan gagal bukan karena dua pihak tidak bekerja sama, melainkan karena mereka tidak sungguh-sungguh memahami apa yang masing-masing bawa ke meja diskusi atau perdebatan, tetapi kesimpulan apa yang mereka harapkan dibawa pulang untuk dikerjakan bersama.
Bermitra dalam Perbedaan
Dalam konteks Indonesia, kemitraan paling sering gagal karena satu pihak datang dengan agenda yang sudah baku, dan pihak lain hanya diminta menandatangani. Universitas besar datang kepada komunitas dengan pertanyaan penelitian yang sudah ditetapkan, metodologi yang sudah dipilih, dan jadwal yang sudah dikunci.
Boyer dan kawan-kawan (2010) juga mengingatkan bahwa dalam kemitraan yang nyata justru dibutuhkan keahlian yang berbeda untuk mengelola hubungan kemitraan dan untuk memberikan kepemimpinan akademik, dan keduanya tidak bisa dibebankan hanya kepada satu pihak.
Ketika universitas mengabaikan pembedaan ini, komunitas diminta menjadi objek, bukan rekan atau mitra yang sejajar, dan itu bukan kemitraan, melainkan ekstraksi yang bertopeng kolaborasi.
Kemitraan yang sejati mensyaratkan keberanian untuk datang dengan pikiran terbuka, bukan dengan proposal yang sudah rampung.
Indonesia memiliki modal yang sering dilupakan: Gotong royong. Gotong royong bukan sekadar slogan wisata budaya. Tetapi sebuah epistemologi, cara mengetahui dan cara memecahkan masalah yang berangkat dari keyakinan bahwa tidak ada satu orang atau satu institusi yang cukup untuk menghadapi kompleksitas dunia sendirian. Ilmu pengetahuan modern, pada puncak perkembangannya, sedang menemukan kembali kebenaran yang sudah lama kita tahu.
Pergeseran dari publish or perish ke partner or perish bukan berarti publikasi tidak penting lagi. Riset yang ketat dan penyebaran pengetahuan melalui jurnal bereputasi tetap tidak tergantikan. Yang bergeser adalah pertanyaan yang lebih dalam: untuk siapa semua itu kita lakukan?
Jika jawabannya hanya untuk sesama akademisi di seluruh dunia yang membaca jurnal yang sama berarti kita sedang berbicara kepada cermin. Jika jawabannya adalah untuk bangsa yang sedang mencari jalan keluar dari berbagai persoalannya maka bermitra bukan pilihan tetapi sudah bertransformasi menjadi kewajiban.
Bermitralah. Atau bersiaplah untuk tidak relevan.
