Kenapa Cancel Culture Tak Pernah Berhasil di Indonesia?

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Pamulang dengan Program Studi Akuntansi.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Arini Nur Azizah Taufik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari ini jadi musuh bersama, minggu depan jadi idola. Kalau kamu aktif di TikTok, X, atau Instagram, polanya pasti hafal di luar kepala.
Seorang public figure salah ngomong sedikit, langsung diserbu. Kolom komentar berubah jadi ruang sidang. Jutaan jempol jadi hakim. Vonis: bersalah, cancel, boikot.
Tapi tunggu seminggu. Muncul video klarifikasi dengan mata sembap, lalu video bagi-bagi sembako. Tiba-tiba kolom komentar yang kemarin penuh makian berubah total: "Semua orang bisa salah, yang penting mau berubah, kak. Semangat!"
Kok bisa secepat itu berubah?
Cancel Culture Rasa Indonesia: Sumbu Pendek, Empati Panjang
Cancel culture di luar negeri bisa mengakhiri karier. Di Indonesia? Seringnya cuma jadi trailer drama.
Kita punya dua sifat yang bertabrakan: mudah tersulut sekaligus mudah iba. Kesalahan kecil langsung memicu amarah kolektif tanpa cek fakta mendalam. Tapi begitu pelaku tampil meminta maaf dengan narasi yang tepat, sifat ramah dan tepa selira kita langsung mengambil alih.
Hasilnya: daya maaf yang instan. Terlalu instan.
Yang Haus Bukan Cuma Netizen, Tapi Algoritma
Jangan salah, ini bukan cuma soal psikologi. Ini soal industri.
Media sosial sekarang bukan alat komunikasi, tapi panggung teater. Netizen butuh tontonan: butuh tokoh untuk dimarahi hari Senin, dan untuk ditangisi hari Minggu. Algoritma pun memelihara itu. Konten marah-marah naik, konten klarifikasi nangis-nangis naik lebih tinggi lagi.
Lama-lama muncul formula ajaib yang semua orang tahu: bikin blunder biar viral, panen hujatan buat engagement, lalu rilis permintaan maaf buat panen simpati dan endorsement baru.
Kalau blunder saja bisa dimonetisasi, buat apa takut salah?
Pemaaf atau Pelupa?
Pertanyaannya jujur: apakah kita benar-benar pemaaf, atau cuma lelah mengingat?
Ingatan digital kita pendek sekali. Masalah kemarin belum selesai, sudah disalip viral baru hari ini. Fokus pindah, kasus lama menguap tanpa penyelesaian konkret. Batas antara penyesalan tulus dan pencitraan pun jadi kabur.
Menikmati media sosial memang sah. Tapi kalau setiap narasi viral ditelan mentah-mentah, kita akan muter terus di lingkaran yang sama.
Sudah saatnya naik kelas: jangan buru-buru menghujat saat orang jatuh, dan jangan buru-buru memuja buta saat skenario klarifikasi dimainkan. Karena di panggung algoritma, yang abadi bukan kebenaran. Yang abadi adalah siklus viralnya itu sendiri.
Menurut kamu, netizen Indonesia itu pemaaf atau gampang lupa?
