Konten dari Pengguna

Mengapa Perhatian Bisa Terasa Begitu Berharga bagi Sebagian Perempuan?

Arini Dwigusti

Arini Dwigusti

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas

·waktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arini Dwigusti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar orang berkata bahwa setiap perempuan pasti ingin dicintai, diperhatikan, dan diperlakukan dengan baik oleh pasangannya. Pernyataan tersebut tentu tidak salah.

Ilustrasi hubungan. Foto: AI Generated Image.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hubungan. Foto: AI Generated Image.

Namun, yang sering luput disadari adalah bahwa tidak semua orang memaknai perhatian dengan cara yang sama. Bagi sebagian orang, perhatian mungkin hanya menjadi bagian biasa dari sebuah hubungan. Namun bagi sebagian lainnya, perhatian dapat memiliki makna yang jauh lebih dalam karena berkaitan dengan pengalaman hidup yang mereka bawa sejak kecil.

Salah satu pengalaman yang menarik untuk dibicarakan adalah tumbuh tanpa kehadiran figur ayah atau yang biasa disebut fatherless. Belakangan ini, istilah fatherless semakin sering muncul dalam berbagai percakapan publik. Sayangnya, istilah tersebut lebih banyak digunakan sebagai bahan candaan atau label sosial dibandingkan dipahami sebagai pengalaman yang dapat memengaruhi perkembangan emosional seseorang.

Tentu saja, tidak semua perempuan yang tumbuh tanpa ayah akan mengalami kesulitan dalam membangun hubungan. Banyak perempuan yang tetap tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, dan mampu menjalin relasi yang sehat. Namun, bukan berarti pengalaman kehilangan figur ayah tidak meninggalkan pengaruh apa pun dalam kehidupan mereka.

Ilustrasi perempuan. Foto: AI Generated Image.

Kehadiran ayah dalam keluarga bukan hanya soal keberadaan fisik semata. Dalam banyak kasus, figur ayah juga menjadi sumber perlindungan, dukungan emosional, validasi, serta rasa aman bagi anak. Ketika pengalaman-pengalaman tersebut tidak diperoleh secara utuh, sebagian individu mungkin tumbuh dengan kebutuhan emosional yang belum sepenuhnya terpenuhi.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jones (2017) yang menunjukkan bahwa sebagian perempuan yang tumbuh tanpa kehadiran ayah cenderung mencari hubungan dengan laki-laki yang dianggap mampu memberikan perlindungan, rasa aman, atau dukungan emosional yang sebelumnya tidak mereka dapatkan.

Temuan ini bukan berarti seluruh perempuan fatherless akan memiliki pola hubungan yang sama, tetapi menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil dapat memengaruhi cara seseorang memandang dan membangun hubungan ketika dewasa.

Di sinilah perhatian menjadi sesuatu yang menarik untuk dibahas. Dalam hubungan romantis, perhatian sering kali dianggap sebagai hal yang wajar. Namun bagi seseorang yang selama ini merasa kekurangan perhatian emosional dari figur laki-laki yang dekat dengannya, perhatian sederhana dapat memiliki makna yang jauh lebih besar.

Mendengarkan cerita, memberikan dukungan saat menghadapi masalah, atau sekadar menunjukkan kepedulian dapat menghadirkan perasaan diterima dan dihargai yang mungkin selama ini dirindukan.

Masalahnya, ketika perhatian menjadi sesuatu yang sangat berharga, seseorang terkadang mulai menempatkan hubungan tersebut sebagai sumber utama kebahagiaan dan rasa aman dalam hidupnya. Pada titik tertentu, hubungan tidak lagi sekadar menjadi ruang untuk berbagi kasih sayang, tetapi juga menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan emosional yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Akibatnya, sebagian orang dapat menjadi lebih sulit melepaskan hubungan meskipun hubungan tersebut tidak lagi berjalan dengan sehat. Mereka mungkin tetap bertahan meskipun sering kecewa, terus memberi kesempatan meskipun berkali-kali disakiti, atau mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri demi menjaga hubungan tetap berjalan.

Ilustrasi perempuan. Foto: AI Generated Image.

Dari luar, pilihan tersebut sering dianggap sebagai bentuk kelemahan atau ketergantungan. Padahal, realitasnya sering kali jauh lebih kompleks daripada itu.

Dalam beberapa situasi, rasa takut kehilangan tidak semata-mata berkaitan dengan kehilangan pasangan. Yang sebenarnya ditakutkan adalah hilangnya rasa aman, rasa diterima, dan rasa dihargai yang selama ini mereka temukan dalam hubungan tersebut. Ketika seseorang merasa telah menemukan apa yang selama ini tidak ia miliki, melepaskannya tentu bukan perkara yang mudah.

Fenomena ini juga dapat menjelaskan mengapa sebagian orang rela mengorbankan begitu banyak hal demi mempertahankan hubungan. Mereka mengurangi waktu untuk dirinya sendiri, menjauh dari lingkungan sosialnya, atau terus memberikan dukungan emosional bahkan ketika kebutuhannya sendiri tidak terpenuhi. Bukan karena mereka tidak memiliki pendirian, melainkan karena hubungan tersebut telah menjadi tempat yang memberikan rasa nyaman yang sulit ditemukan di tempat lain.

Mungkin itulah alasan mengapa hubungan tidak selalu bisa dilihat secara hitam dan putih. Apa yang tampak sederhana dari luar sering kali menyimpan cerita yang jauh lebih rumit di dalamnya.

Ketika seseorang bertahan dalam sebuah hubungan, belum tentu ia tidak menyadari rasa sakit yang dialaminya. Bisa jadi, ada kebutuhan emosional yang selama ini membuat hubungan tersebut terasa begitu berarti.

Karena itu, memahami sebuah hubungan tidak cukup hanya dengan melihat bagaimana hubungan itu berakhir. Terkadang, yang lebih penting adalah memahami apa yang membuat seseorang memilih untuk tetap tinggal di dalamnya.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat tidak hanya dibangun atas dasar kebutuhan untuk dicintai, tetapi juga kemampuan untuk tetap menjadi diri sendiri di dalamnya. Sebab perhatian memang penting, tetapi perhatian yang sehat seharusnya membuat seseorang bertumbuh, bukan membuatnya kehilangan dirinya sendiri.

Ketika seseorang memahami bahwa dirinya berharga bahkan tanpa validasi dari orang lain, di situlah hubungan yang lebih setara dan sehat memiliki kesempatan untuk tumbuh.