Konten dari Pengguna

Fenomena Kesenjangan Sosial di Film Stip dan Pensil

Alfiana Arint Alanyst

Alfiana Arint Alanyst

Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alfiana Arint Alanyst tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potret permukiman padat di kota, sumber: dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Potret permukiman padat di kota, sumber: dokumentasi pribadi

Realita mengenai kaum miskin yang tersembunyi di balik gedung-gedung pencakar langit di pinggiran kota besar sudah menjadi rahasia umum. Kita bisa melihat betapa mirisnya kehidupan orang-orang di sana terlebih anak-anak kecil. Susahnya kehidupan membuat mereka tidak bisa merasakan manisnya bangku sekolah. Masalah pendidikan ini sudah banyak disorot media karena sangat berpengaruh pada generasi selanjutnya yang berguna untuk memajukan bangsa. Generasi muda akan mendapat keterampilan serta kemampuan ilmu pengetahuan yang menunjang perkembangan di segala bidang.

Hal ini diangkat dalam sebuah film berjudul Stip dan Pensil karya Ardy Octaviand yang muncul pada tahun 2017. Dalam setiap adegan dihiasi potret urban di kota-kota besar. Para orang tua anak jalanan menganggap pendidikan tidak penting alias buang-buang waktu saja. Mereka lebih mengutamakan anak-anaknya bekerja untuk mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari. Berbanding terbalik dengan karakter 4 sahabat (utama) yang berasal dari keluarga kaya. Perbedaan kelas sosial sangat dirasakan di sini berdasarkan tingkat ekonomi dan tingkat pendidikan.

Tokoh tersebut diantaranya Toni (Ernest Prakasa), Aghi (Ardit Erwandha), Bubu (Tatjana Saphira), dan Saras (Indah Permatasari). Cerita berawal saat keempat sahabat ini ingin mengikuti lomba essay nasional. Pada suatu malam, mereka tak sengaja bertemu dengan Ucok yang merupakan seorang pengamen. Ucok pun bercerita bahwa ia dan keluarganya tinggal di bawah kolong jembatan. Hal ini yang akhirnya menjadi ide cerita essay Toni, Agi, Bubu, dan Saras.

Mereka berpikir pendidikan sangat dibutuhkan untuk anak jalanan apalagi saat melihat Ucok sama sekali tidak bisa baca tulis. Ucok hanya bisa menghitung uang karena dilatih bekerja sejak dini. Ini merupakan representasi pendidikan anak jalanan sekaligus kesenjangan sosial pada konstruksi sosial (Barker, 2004:9).

Ternyata essay yang mereka buat lolos ke babak selanjutnya. Kemudian, mereka mengunjungi daerah kolong jembatan untuk observasi. Keputusan 4 sekawan ini tadinya hanya iseng semata. Namun lama kelamaan berubah menjadi rasa peduli. Hal tersebut muncul karena mereka telah menghabiskan banyak waktu dengan anak jalanan. Pada akhirnya, timbul rasa kepedulian dihati mereka untuk mengajar serta membuat sekolah khusus anak jalanan.

Sedangkan para orang tua anak jalanan hanya dapat bekerja serabutan dengan upah minimum. Biasanya, untuk mendapatkan pekerjaan layak dengan gaji tinggi, orang tersebut harus berasal dari kalangan berpendidikan seminimal mungkin memiliki gelar sarjana. Kenyataan ini, tentunya menjadi penghalang besar bagi orang-orang yang tidak mampu. Jangankan untuk bersekolah, makan pun tidak selalu dapat terpenuhi sehari-hari. Kondisi sosial ini banyak dikritik oleh masyarakat (Miller, 2002:69).

Rumah-rumah yang mereka singgahi juga bukan tanah mereka sendiri, melainkan tanah pemerintah. Tak heran jika banyak rumah dari orang jalanan yang terpaksa digusur seperti dalam film ini. Tujuannya tentu untuk membersihkan area milik pemerintah dari lingkungan yang kumuh. Secara kasat mata, bangunan-bangunan yang didirikan menjadi sarang penyakit serta mengganggu pemandangan orang yang melihat. Mereka menempati area kolong jembatan yang dinilai berbahaya karena bisa mempengaruhi kekuatan bangunan jembatan.

Pada akhir cerita di film Stip dan Pensil, para penghuni kolong jembatan diberi solusi saat tempat tinggal mereka digusur, yakni dipindahkan pada rusun yang layak. Ini berhasil terjadi berkat kegigihan dari Toni, Agi, Bubu, dan Saras yang mengajukan protes terhadap pemerintah.

Seorang ibu bersama anak-anaknya yang sedang mendorong gerobak sampah, sumber: dokumentasi pribadi

Masalah kesenjangan sosial dalam masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh kurangnya fasilitas yang disediakan, kurangnya kesadaran orang tua, dan keterbatasan biaya. Hal ini menjadi catatan bagi pemerintah untuk menguranginya. Caranya, dengan meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia agar mampu bersaing di dunia kerja. Mereka harus dibekali keahlian yang cukup supaya tidak lagi terjebak dalam kemiskinan.

Masyarakat dapat mengakses fasilitas negara dengan maksimal tanpa memandang perbedaan. Pemerataan pembangunan juga harus dilakukan. Tak hanya di daerah perkotaan, namun juga mencakup daerah pelosok atau pedesaan. Pengoptimalan sumber daya alam perlu dimanfaatkan dengan baik, misalnya semua golongan masyarakat dapat mengambil hasil dari perairan maupun hutan.