"Deep Learning: Sekolah Umum Gagap, Sekolah Katolik Sudah Jalan"

Bapak-Bapak Biasa, Menulis Karena Hidup Nggak Pernah Biasa - Sedang menyelesaikan Magister Teologi di STAKat Negeri Pontianak - Guru Partikelir Sekolah Katolik di Tangsel.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aris Kurniyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Deep Learning Jadi Tren Pendidikan Nasional
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah pembelajaran mendalam atau deep learning menjadi sorotan dalam dunia pendidikan Indonesia, terlebih sejak diluncurkannya Kurikulum Merdeka. Pemerintah mendorong agar proses belajar tak lagi sekadar menyampaikan materi, melainkan menggali pemahaman mendalam, membentuk karakter, dan membekali siswa dengan keterampilan abad 21. Namun, benarkah visi ini mudah diterapkan?
Kritik terhadap Pembelajaran Mendalam di Sekolah Umum
Kesenjangan antara Teori dan Praktik
Banyak guru mengeluhkan bahwa konsep pembelajaran mendalam terasa jauh dari realita kelas. Di atas kertas, pendekatan ini tampak ideal. Tetapi di lapangan, guru harus berhadapan dengan beban administratif yang menumpuk, jadwal yang padat, dan kurangnya pelatihan bermutu. Akibatnya, pembelajaran mendalam rawan menjadi sekadar jargon yang tidak membumi. Menurut laporan Tempo.co (2023), guru merasa dituntut untuk berinovasi tanpa dukungan konkret, baik dari sisi waktu, pelatihan, maupun fasilitas.
Sekolah Katolik: Pelopor Senyap Pembelajaran Bermakna
Warisan Pendidikan Karakter Sejak Zaman Kolonial
Menariknya, praktik yang mirip dengan pembelajaran mendalam justru telah lama dihidupi dalam tradisi pendidikan Katolik di Indonesia. Sejak masa kolonial, sekolah Katolik menempatkan pendidikan sebagai proses holistik—bukan hanya mentransfer ilmu, tapi juga membentuk kepribadian, moralitas, dan spiritualitas siswa (Nugroho, 2019). Dalam praktiknya, guru-guru Katolik didorong untuk mendampingi siswa secara personal, membangun relasi yang kuat, serta menumbuhkan refleksi batin dan tanggung jawab sosial.
Pendekatan Humanis yang Terbukti Efektif
Metode pembelajaran di sekolah Katolik menekankan nilai kemanusiaan dan relasi yang bermakna. Siswa tidak diperlakukan sebagai objek pasif, melainkan sebagai subjek yang aktif mencari makna. Penelitian oleh Santosa (2021) menunjukkan bahwa pendekatan ini mampu meningkatkan motivasi belajar, memperkuat karakter, serta membangun lingkungan sekolah yang positif. Dalam konteks pembelajaran mendalam, pendekatan ini justru lebih dekat pada esensinya daripada apa yang kini ramai digaungkan dalam kebijakan nasional.
Keunggulan Ekosistem Sekolah Katolik dalam Mendukung Pembelajaran Mendalam
Kultur Sekolah dan Pembinaan Guru yang Kuat
Keberhasilan sekolah Katolik bukan datang secara instan, melainkan dibangun dari sistem yang kuat dan berkesinambungan. Ada budaya sekolah yang konsisten, pembinaan guru yang terstruktur, serta kepemimpinan yang visioner. Pendidikan di lingkungan Katolik berjalan dalam kerangka komunitas: guru, siswa, dan orang tua membentuk segitiga relasi yang saling mendukung.
Pembelajaran Bukan Sekadar Metode, Tapi Misi
Dalam banyak sekolah Katolik, pembelajaran adalah bagian dari misi membentuk manusia seutuhnya. Spiritualitas bukan elemen tambahan, tapi menjadi inti pendekatan pendidikan. Maka tidak heran bila banyak lulusan sekolah Katolik dikenal bukan hanya unggul dalam akademik, tetapi juga berkarakter kuat.
Tantangan Implementasi Pembelajaran Mendalam di Sekolah Umum
Kurangnya Dukungan Sistemik dan Strategis
Sayangnya, semangat yang sama belum tentu dirasakan di sekolah umum. Meski pemerintah mendorong inovasi, guru di sekolah negeri dan swasta non-Katolik kerap menghadapi tantangan struktural. Regulasi yang kaku, tuntutan administratif, dan minimnya pelatihan membuat pembelajaran mendalam sulit dijalankan secara konsisten.
Menurut Kompas.com (2024), banyak sekolah belum memiliki peta jalan atau pedoman teknis yang konkret. Alih-alih fokus pada pembentukan karakter atau refleksi kritis, pembelajaran tetap terpaku pada tuntutan capaian akademik dan administrasi rutin.
Belajar dari Praktik Baik Pendidikan Katolik
Adaptasi Kontekstual, Bukan Sekadar Meniru
Sekolah-sekolah umum sebenarnya bisa belajar dari pendekatan Katolik, bukan untuk meniru mentah-mentah, tetapi untuk mengadaptasi nilai dan praktik yang relevan secara kontekstual. Misalnya, membangun budaya dialog, memperkuat relasi guru-siswa, serta memberikan ruang refleksi dalam proses belajar.
Yang dibutuhkan adalah ekosistem pendidikan yang mendukung: pelatihan guru yang mendalam, kepemimpinan yang humanis, serta strategi pembelajaran yang sejalan dengan nilai kemanusiaan.
Dari Slogan ke Transformasi Nyata
Jika pembelajaran mendalam ingin sungguh berdampak bagi peserta didik, maka pendekatan ini harus lebih dari sekadar slogan. Diperlukan strategi sistemik yang memampukan guru dan sekolah untuk menerapkannya secara berkelanjutan. Tradisi pendidikan Katolik menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam bisa terwujud bila ada ekosistem yang mendukungnya.
Kini, saatnya dunia pendidikan Indonesia berhenti mengejar tren dan mulai membangun praktik yang kontekstual dan berakar. Karena pada akhirnya, pendidikan yang bermakna tidak lahir dari konsep, melainkan dari komitmen nyata terhadap manusia.
